Apa-apa yang Dipaksakan Tak Selalu Membuat Harapmu Jadi Lebih Baik

Ziskeyara roseveline, terlahir sebagai putri utama dari seorang presiden grup Keenan. Kalian semua pasti membayangkan kehidupan mewah bak seorang putri. Awalnya, semua memang terasa laiknya putri kahyangan, namun setelah aku belajar mengenai kenyataan di dunia luar, impianku langsung berganti menjadi semu. Ayah tak pernah mengizinkanku bermain dengan sembarang orang, kemana-mana harus dikawal, dan sederet peraturan lainnya yang dimulai ketika aku beranjak dewasa. Sebenarnya, masalah baru dimulai saat aku mengenal lelaki yang sedang terlelap pulas diatas meja di hadapanku ini. Hingga akhirnya semua peraturan itu membuat jiwaku seperti burung dalam sangkar. Ah,.ya. Laki-lakiku ini bernama Alif vidiarta. Aku begitu mengagumi pada setiap apa-apa yang ada dalam dirinya. Termasuk kesabarannya saat ini ketika ia harus menungguku sedari 3 jam yang lalu karena aku belum menyelesaikan tugas akhirku.

Aku mengusap tangannya pelan, kemudian ia terbangun.

” Oh, Key” matanya terlihat memerah di katupan pertama. Kemudian aku tersenyum melihatnya.

” Kamu ketiduran, Al..maaf membuatmu menunggu terlalu lama” wajahku menunduk sendu.

” Ah, no problem princess” katanya sambil mengusap rambutku pelan.

Belakangan ini Al memang sering sekali memanggilku princess, apalagi semenjak ayah membatasi waktuku untuk keluar rumah. Aku jadi semakin senang memperhatikan hal hal kecil yang dibuatnya untukku. Princess itu semacam panggilan sayangnya untukku, katanya. Aku hanya tertawa kecil saat mendengar alasannya.

……

“Al.. I have been told u before about..”

” Aku tau, princess. Jangan diteruskan. Kapan kamu akan berangkat?”

Al bertanya tanpa menatapku, matanya memandang ke sudut jauh yg membuatku semakin tenggelam dalam sendu.

Satu bulan yang lalu aku memang telah menceritakan padanya tentang rencana ayah yang ingin meminda hkanku ke LA untuk kuliah entrepreneur agar kelak bisa menggantikan ayah. Hhh, sejujurnya aku sama sekali tak tertarik untuk belajar bisnis. Aku lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca, menulis atau melukis. Ah,.ya. dibalik itu semua, aku telah diam-diam tau rencana utama ayah adalah agar aku tak bersama Al lagi disini:( dan menjodohkanku pada Alfredo, putra teman ayah yg juga seorang businessman.

” Maaf..Key. Aku membuat kita menjadi semakin jauh” bisik Al akhirnya sambil menggenggam erat tanganku. Aku hanya tersenyum, memberinya sedikit kekuatan agar bisa tetap menatapku.

” Jangan berfikir seperti itu lagi, ya. Al tau, Key begitu senang diperjuangkan seperti ini olehmu” kemudian aku merasakan genggaman Al semakin erat di tanganku.

Satu bulan yang lalu, Al memang begitu kecewa karena 4tahun hubungan kami tak juga direstui oleh orangtuaku. Katanya, ” Nanti aku kerumah ya, ibu masak sayur asem buat kamu.” Yang sudah pasti aku tak bisa menyetujuinya.

Atau seperti ” Al bingung dengan hubungan ini, Key. Hubungan ini seperti delta yang tak segera berujung. Kapan aku bisa berkunjung ke rumahmu, Key?” Dadaku selalu sesak setiap Al mengatakan kalimat-kalimat seperti itu.

Aku memang tak bisa memaksakan orangtuaku untuk segera menyetujui hubungan ini, karena sampai sekarang pun aku tak dibolehkan untuk menjalin hubungan serius dengan lelaki. Hingga pada akhirnya Al nekat memaksakan keadaan dengan datang kerumah bersama orgtuanya. Mungkin benar semuanya baikbaik saja sampai mereka pulang. Tapi setelah itu, aku tak boleh keluar rumah sampai seminggu lamanya. Ah, kadang aku merasa ayah dan ibu terlalu berlebihan dalam hal ini, smpai saat ini pun ketika aku harus menerima untuk kuliah di LA.

” Al janji akan menjadi seorang yg ayah Key inginkan. Menjadi seorang yang sukses dan berderajat sama dengan ayah key.” Ucap Al yang matanya kulihat semakin redup.

” Jangan dipaksakan, Al.. Key tak mau Al menjadi lebih sakit lagi karena Key:(. Kamu beginipun Key sudah sangat mencintai setiap waktu yg Key habiskan bersama. ” air mataku mulai jatuh saat mengucapkan kata terakhir.

Al merebahkan kepalaku di pundaknya. Membiarkan isakku terus turun agar bisa sedikit lega.

” Aku menyayangimu, Key. i will love,still, and always being yours.” Bisik Al kemudian mengecup keningku yang semakin membuat dadaku semakin sesak karena harus pergi meninggalkannya.

……..

Tahun-tahun kemudian.

Januari 2015.

Aku termangu menatap lelaki yang baru saja menjemputku di bandara, sosok tampan yg begitu bersih dengan jas putihnya. Alif vidiarta, seorang yg begitu kurindukan hingga detik ini, kini telah berhasil mewujudkan mimpinya. Aku langsung memeluknya erat tanpa embel- apapun. Setelah melewati berbagai proses biru. Kesabaranku membuahkan hasil pada duka yang dulu dipaksakan hadir. Duniaku pun banyak berubah dengan kata akhirnya.

Akhirnya di tahun ini aku bisa menyelesaikan kuliahku, walaupun dengan IPK yang sangat-sangat standar bahkan bisa dibilang kecil karena aku samasekali tak berminat. Namaku malah lebih dikenal di tim jurnalis karena tulisan-tulisanku yang dianggap menarik. Akhirnya ayahku menyerah karena ternyata adikku, Prim, jauh lebih baik dari padaku dalam mengendalikan perusahaan di grup Keenan milik ayah. Dan karena ternyata Alfredo tak cukup sabar menantiku kembali. Akhirnya aku bisa kembali bertemu Al yang ternyata masih sabar menantiku kembali.

Aku bersyukur di detik ini lembaran putihku akhirnya terbuka lebar. Pada hari baru ini. Meski harus menyisakan kenangan-kenangan di waktu yang menyulitkan, namun akhirnya keterpurukan jiwa ini tak lagi larut didalamya. Hanya bongkah-bongkah kecil yang aku yakini akan segera berganti menjadi indahnya cerita kami kelak. Terimakasih Tuhan, untuk kebahagiaan yang begitu membuatku mengerjapkan mata.

 

Aku memulai kehidupan baru sebagai penulis part-time dan sebagai seorang Ny. Vidiarta. Well, meskipun kehidupanku kini jauh lebih sederhana dari yang dijanjikan ayah sewaktu aku kecil, namun aku merasa menjadi seorang yang begitu beruntung telah berhasil melewati masa-masa sulit itu, dan aku pun akhirnya berjanji tak akan memaksakan apapun pada anakku kelak, karena aku telah mengatahui, apa-apa yg dipaksakan tak selalu membuat harapmu menjadi lebih manis. Dan akhirnya, di hari baru kini, kebahagiaanku menemukan jalan manisnya yang menurutku pasti lebih indah dari nirwana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s