#CeritaEPHEMERA: Aksara yang Menyuguhkan Banyak Rasa

u

Ada yang tiba-tiba menjadi penarik perhatian saya saat tengah membuka media sosial berwarna biru. Baris-baris aksara yang manis. Beberapa diantaranya malah sempat membuat terharu lalu berlanjut dalam tangis. Kueja nama penulisnya,  A-him-sa a-za-le-av. Hmm, saya pikir Mba Himsa ini adalah seorang puan cerdas yang begitu pandai merangkai perasaanya dalam bentuk aksara. Bayangkan saja, ribuan share membanjiri setiap postingannya yang tak pernah bosan saya baca.

 

So adorable!

Then …

 

Beberapa saat setelahnya, buku Ephemera ditayangkan untuk cetak ulang. Deretan komentar lalu berbaris sepanjang rel kereta api. Kebanyakan diantaranya berbicara perihal ketidaksabaran mereka untuk menunggu Ephemera lahir kembali. Tak terkecuali saya pun. Rasanya … Ephemera akan memberi banyak arti nanti. Bertepatan dengan hari kelahiran saya, seorang teman yang mengetahui saya begitu menginginkan Ephemera, kala itu dengan sangat baik hati memesankan satu buku. Wah, at the moment, I feel like get a treasure, hehe.

 

Apa yang membuat Ephemera spesial?

 

Yang membuat Ephemera begitu istimewa untuk saya adalah tentang ‘rasa’ yang ditanamkan Mba Himsa dalam setiap ceritanya. ‘Rasa’ yang beliau tanamkan membuat pembaca seperti mengalami sendiri jatuh bangunnya tokoh sampai di garis terakhir yang selalu mengarah pada Ia; Allah sebagai sebaik-baiknya tempat berpulang. Ya, Ephemera telah semakin memantapkan keyakinan hati saya bahwa hanya Allah sebagai rumah utama untuk berpulang. Menceritakan suka, mengeluhkan duka, mencari solusi terbaik, dan perihal keajaiban cinta jika kita memasrahkan hati hanya padaNya.By the way, Mba Himsa juga menyisipkan banyak quotes anti galau dalam Ephemera. Kalau ditanya kutipan apa yang paling bagus? Tak perlu waktu sampai dua perlima detik saya pasti akan langsung menjawab ‘semua kutipan di tiap awal bab selalu berhasil menjadi favorit’.

 

“Karena pada akhirnya, mimpi terbesarku adalah menjadi bagian dari minpimu.”

“Kita memang tidak bisa mengulang kenangan, tapi kita bisa mengulang kebahagiaan di dalamnya.”

“Karena alur setiap cerita cinta dipegang oleh Allah, maka mintalah hanya pada-Nya ending seperti apa yang kamu inginkan.”

“Kalau kita diuji dengan masalah yang terus sama, artinya kita belum lulus ujian itu.”

 

Thats it.

So adorable, right?

 

Tapi, kalau masih diminta memilih, kutipan yang paling dalam menurut saya ada pada bab langit. “Kamu boleh menatap langit tapi tak perlu melayang-layang di langit. Kalau dia adalah jodohmu, langit akan mengeluarkan daya tarik yang tak mampu kamu tolak.”

Membaca kalimat itu, rasanya saya disuguhkan bagaimana seharusnya memanajemen hati. Bahwa cinta tak perlu dirisaukan sedemikian rupa. Bahwa setiap kita telah dipasangkan dengan seseorang yang namanya disandingkan dengan nama kita di catatan lauhmahfudz. Perihal keyakinan ia yang disebut jodoh akan tetap datang pada waktunya nanti. Maka, sungguh tak ada gunanya bergalau-galau sepanjang hari. Bukankah lebih baik kita terus memantaskan diri? Agar kelak disandingkan dengan seorang yang sedang memperbaiki dirinya pun.

 

Dan pada akhirnya, bagi saya Ephemera menyampaikan begitu banyak makna yang tak bisa terungkap oleh kata. Menopang hati agar tak jatuh lagi, menguatkan rasa hanya pada-Nya, dan menyuguhkan detail bagaimana prosesi manajemen patah hati yang sesungguhnya. Goodjob Mba Ahimsa Azaleav, terimakasih telah menuliskan Ephemera:)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s