Debar Pada Senja

Terkadang rencana tuhan memang terlalu tak terduga untuk dibayangkan, suatu senja aku bisa berbahagia bersama ia yang begitu istimewa, lalu di senja lain aku menemukan diriku yang hampa bersama semesta. Ah, kita tak akan pernah bisa memilih jalan hidup kan?

Aku hanya terus bersyukur masih diberi nadi untuk meniti hari demi hari.

Lambaian nyiur mulai gigil diterpa hembus angin, burung-burung tengah bergegas kembali, semesta mulai menjingga, dan akhirnya lanskap senja mulai tertata. Aku menepis helai rambut yang jatuh di pipi, kemudian mengerjapkan mata. Menyenangkan sekali.

Seseorang kemudian datang mendekat. Ah, ya, namanya arfa. aku baru mengenalnya bulan lalu, tapi ia selalu berhasil menjadikanku terkagum-kagum pada setiap aksara yang disampaikannya. Ia tersenyum sejenak lalu duduk disampingku, ia tahu aku begitu menyukai senja. Kami terdiam sesaat menyaksikan lukisan tuhan yang begitu mengagumkan.

“Izza, adakah seseorang yang kau kenang bersama senja?”

Aku mengangguk perlahan. Melayangkan ingatan kembali ke masa silam. Kala senja masih tersenyum pada kami berdua, menjadikan lembayungnya sebagai tempat yang paling mempesona.

“Ia yang pertama kali membagi indah senja yang tak ada habisnya. Selalu kekal dalam angan, sama sepertinya.”

Arfa lalu menoleh ke arahku. Ia tersenyum, begitu meluluhkan.

“Siluet jingga selalu indah saat dilewati berdua. Ia pastilah  seseorang yang begitu istimewa. Bolehkah aku mengetahuinya?”

Aku mengangguk lagi lalu merunduk tersipu.

“Kau selalu berhasil mengeja rona-ku. Bagaimana bisa?”

“Mata hazel-mu tak terlalu pandai menyembunyikannya, izzaty humairah”

Aku menatapnya sejenak sembari tersenyum. Aku selalu menyukai saat seseorang memanggilku  dengan nama yang lengkap. Aku selalu ingin berterimakasih pada ibu yang telah memberi nama secantik itu padaku.

“Dahulu, aku pernah bertemu seorang lelaki yang begitu istimewa.  Ia menghampiriku di sini, kala itu hidup tengah mengiringku bersama hampa menuju gulita. Sunyi, sepi, kosong, aku tak menemukan apapun hingga ia datang bersama cercah cahaya. Ah, mungkin aku terlalu berlebihan menggambarkannya. Tapi begitulah bagaimana ia datang melenyapkan duka. Ar.. dia seseorang yang begitu istimewa, seorang lelaki yang begitu ingin aku muliakan hatinya, indahkan degupnya, dan aku jaga hatinya. Andaikan aku bisa mengulang senja bersamanya, mungkin genggamnya akan menjadi yang paling berharga”

“Izza ingin menemuinya lagi?”

Aku menelan ludah, getir. Rasanya bulir bening hampir jatuh di pipiku.

“Tentu saja. Tapi ia tak mungkin kembali lagi. Ia menghilang dalam kecelakaan kapal tahun lalu. Aku tengah belajar mengerti tuhan mempertemukan hamba-hamba nya tak selalu dengan maksud sama. Seperti dia misalnya, yang hanya datang untuk menyadarkanku bahwa sepi tak akan pernah ada jika kasih sayang tuhan selalu kita jaga.”

Malam lalu semakin padam. Meninggalkan semilir sejuk yang menenangkan angan. Mungkin mereka tahu, ada sepasang insan yang tengah ragu mencari jawaban.

“Izza, menolehlah ke arahku.kau samasekali belum mengerti.”

Aku mengalihkan pandanganku  padanya. Kemudian menemukan binar yang sama. Sama? Iya, sama seperti kali pertama aku bertukar pandang dengan sena. Caranya memandang dengan penuh kasih, rautnya yang khas, senyum yang hangat. oh tuhan, mengapa baru sekarang aku menyadari ia begitu mirip dengan sena. Dadaku berdebar begitu kencang tiba-tiba. Semuanya terasa membaur hingga arfa mengusap rambutku pelan.

“Izza, kau telah menemukannya?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s