Dekap Kelam Pangeran Malam

Mungkin tiap-tiap sanubari memang harus menyadari betapa hidup begitu dekat dengan alam yang terselubung dibalik pekatnya nyata. Hingga jiwa-jiwa yang usang bisa melihat betapa penghargaan begitu diperlukan untuk hal-hal sekecil apapun.-

Lampu-lampu tiba-tiba berkelap mati. Kemudian desir angin bertiup menghela setiap titik nadi. Aku tahu, seseorang telah mengundangku kembali untuk datang ke tempat kami biasa bercengkrama seperti di hari-hari sebelumnya. Aku selalu menyenangi setiap undangannya, aku merasa memiliki sandaran dan tempat untuk berbagi karena selama ini ibu tak pernah mengizinkanku untuk berteman dengan siapapun di luar rumah. Entahlah, mungkin ia malu mengakui bahwa kami menjadi kaya karena dulu ia menjual diri. Ditambah lagi wajahku yang terdapat cacat luka membuat orang-orang pasti akan segera berlari menjauh saat melihatku.

Hari masih begitu dini ketika aku memutuskan untuk terbangun dari ranjang kemudian berjalan keluar mencari gagang pintu depan. Jam besar di ruang tengah berdentang 2 kali menunjukkan waktu masih begitu dini untuk beraktifitas. Langkahku terhenti tatkala melewati kamar ibu yang terasa begitu mencekam, kulihat ia tengah terlelap memeluk bantal bersarung emas yang selalu diistimewakannya.

Langkahku terasa tertarik kembali oleh seseorang entah siapa yang menurutku begitu kuat menarik jiwa. Hembus angin yang selalu kuat di tiap-tiap celah bilik membuat arteriku berdesir lebih kuat. Aku melangkahkan kaki perlahan kemudian menarik kenop pintu depan dengan hati-hati. Kemudian berjalan melewati jalan setapak pendek menuju ruang luas di balik tirai hitam di belakang rumah yang memancarkan sinar hitam kelam.

Pintu itu kemudian terbuka lebar, seperti malam-malam sebelumnya, ruang ini menjadi begitu indah layaknya istana yang membuatku selalu terkagum-kagum dengan keindahan tata letak interiornya. Sebenarnya aku masih tak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. Mengapa aku begitu tertarik untuk masuk kesini setiap jam 2 malam. Ruang ini hanya berbentuk gudang kotor dan gelap ketika siang hari, ditambah lagi pagar tembok belakang rumah yang lumayan tinggi, membuat siapa saja pasti tak akan tertarik untuk memperhatikan lebih jauh ada apa dibalik ruangan bertirai hitam tersebut.

Seseorang kemudian datang menyambutku dengan uluran tangannya. Namanya Arga, tapi aku lebih sering menyebutnya pangeran malam. Ya, karena ia memang hanya datang saat malam. Ia mengenakan pakaian serba hitam yang sama dengan pengawal-pengawal dibelakangnya. Menurut beberapa suara yang kudengar, ia adalah pangeran yang paling tampan di kerajaan ini. Entahlah, ia menjadi begitu memesona menurutku. Ia selalu dapat membuatku nyaman dan menyuguhkanku dengan bebagai hal membahagiakan. ia juga selalu mau mendengarkan setiap kesah kesepianku, ia selalu memelukku dengan hangat tatkala aku tengah merasa terpuruk memikirkan kehidupan yang begitu tak berarti. Aku menjadi tak peduli lagi pada apa-apa yang terjadi sebenarnya kini.

Malam ini adalah kali pertama ia mengajakku duduk di sebuah ruangan yang mungkin itu adalah taman pribadinya. Malam-malam sebelumnya, aku hanya memiliki tempat di ruang dibalik pintu masuk, atau bagian belakang di luar istana ini yang gelap pekat namun anehnya aku tetap dapat melihat dengan jelas. Tapi aku tak terlalu ambil pusing dengan hal-hal itu, yang ada dalam fikiranku adalah aku memiliki seseorang yang bisa menerimaku seutuhnya kini.

Aku berfikir mungkin ia akan menyampaikan sesuatu yang penting. Ia lalu menghampirkan poni depanku yang terurai jatuh ke telinga. Tersenyum dengan tatapan mata elang seperti sebelum-sebelumnya. Kemudian ia mendekat dan berbisik.

“Kanaya.. Tetaplah disini bersamaku. Aku begitu menyukai saat-saat seperti ini.” ia mengelus rambutku pelan seraya tersenyum.

“Benarkah, tuan? Izinkan aku mengetahui alasan yang membuat degup ini begitu mendebarkan.” Aku menggenggam erat tangannya kemudian. Rasa-rasanya aku menjadi hampir gila saat ini.

“Karena hanya pada teduhmu aku bisa bernaung dalam kedamaian.” Ia menatapku dengan mata elangnya yang begitu membunuh, membuat siapa saja akan terkulai luluh oleh pesonanya.

“Kanaya..Bersediakah engkau menjadi putri yang akan selalu aku bahagiakan? Kau bisa meminta apapun padaku disini.”

Dadaku tercekat dalam diam, memikirkan hal-hal yang bercampur aduk layaknya mimpi buruk yang menyenangkan.

“Tapi, aku masih khawatir pada ibu yang ditinggalkan sendirian..

“Tak perlu risau.. Aku mengenal ibumu jauh lebih lama, Kanaya. Ia tak akan terlalu susah. Maka kemarilah, aku bersungguh-sungguh ingin mendekapmu dalam kasih di setiap petang.” Ia meyakinkanku begitu teguh.

“Baiklah.. Aku pun akan senantiasa disampingmu dalam kekekalan, pangeran..”

Aku kemudian tersenyum menyambut dekapnya dalam kebahagiaan. Aku tak mengerti perasaan apakah ini yang membuatku merasa begitu senang. Ia kemudian membangunkanku dari kursi berbantal sutera dan menarik tanganku melangkah menuju jembatan panjang yang sekelilingnya gelap. Hanya ada satu titik di penghujung jembatan dibalik tirai hitam yang terlihat memancarkan sinar berlainan. Tirai yang sama dengan pintu masuk saat aku datang.

Belum sampai setengah perjalanan, aku melihat sesosok wanita seperti ibu bergaun putih berdiri di pinggir-pinggir batas luar jembatan, ia memanggil-manggil namaku dalam tangis.

“Kanaya.. Kembalilah nak.. Ibu begitu menyayangimu..”

Namun pangeran Arga terus saja menuntunku berjalan yang rasanya lebih seperti melayang tanpa menghiraukan panggilan panggilan di sekeliling kami.

“Kanaya kembalilah nak.. Disana bukan tempat yang tepat untukmu berbahagia.. Kanaya!! dengarkan ibu nak.. Menjauhlah dari tirai hitam itu.. Jika kau memasuki tirai hitam yang kedua itu kau tak akan pernah bisa keluar dari dunia kegelapan. Ibu mohon menjauhlah nak!..”

Ibu masih saja sesenggukan berusaha menarik tanganku yang masih digenggam erat oleh Pangeran Arga.

“Jangan dengarkan dia, Kanaya. Kita akan berbahagia dalam keabadian masa. Engkau mengingatnya?” Pangeran kemudian mengalihkan pandanganku dan menarikku dalam peluknya.

Sedetik..dua detik kemudian..

“Aaarrrghhh” teriakku menahan nyeri.

Tubuhku serasa dihempas oleh kekuatan yang entah apa begitu kuat serasa menikam jiwa.

Kutemukan diri ini telah terkulai di halaman belakang rumah bersama ibu dan nek erot. Satu-satunya tetangga  yang peduli pada kehidupan kami. Ia banyak mengetahui hal-hal diluar ambang penglihatan manusia.

Nek erot menceritakan padaku bahwa pangeran yang menurutku begitu tampan ternyata dulunya adalah sekutu ibu yang membantu kami hingga menjadi begitu kaya tanpa harus bekerja keras. Masalah kemudian muncul ketika ibu tak lagi bisa memenuhi keinginan-keinginannya. Ia kemudian memintaku sebagai gantinya. Itulah mengapa sejak beberapa bulan terakhir aku selalu terbangun malam hari dan ditarik untuk menemuinya.

“Untunglah jiwa-mu masih tertinggal disini sebagian, nak. Akal mu masih sehat untuk percaya sepenuhnya pada pangeran kegelapan itu. Maka dari itu nenek bisa menarikmu kembali kesini.” Ucap nek erot seraya membersihkan peluhnya.

Arteriku berdesir hebat setelah mendengar semuanya.

“Tirai hitam itu telah nenek musnahkan, semua bayangan istana itu hanyalah ilusi mu dalam dunia kegelapan. Jangan lagi membayangkan wajahnya, Kanaya. Karena pangeran itu telah benar-benar jatuh cinta padamu kini. Engkau bisa tertarik kapan saja oleh sisa-sisa debunya jika kau masih mengingat-ingat kisah kalian yang lalu.” Nek erot menjelaskan padaku panjang lebar.

 

Tak lama kemudian aku benar-benar tersadar mengingat semua yang terjadi. Mengapa fikiranku bisa menjadi begitu kacau kemarin? Hhh, tak akan pernah lagi aku ingin mengingat semua tentangnya. Tak akan pernah lagi mengingat dekap kelam yang dihadirkannya. Jiwaku bergidik ngeri. Dalam kalbu berbisik begitu mensyukuri semua ini, untunglah nadi masih dapat kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s