Di Antara Batas-Batas, Mari Bersyukur Luas-Luas

Setiap pencapaian tertinggi di dunia tentu memiliki batasan.

Mengenai batasnya akan datang dalam waktu dekat ataukah akan melewati banyak liku terlebih dahulu tak ada yang tahu, namun ia pasti memiliki sebuah limit di ambang waktu. Karena berdasarkan hakikatnya dunia ini bersifat sementara.

 

Terkadang kita banyak melihat orang-orang disekitar yang terlalu ambisius berusaha ingin mendapatkan sesuatu, atau beberapa orang tua yang terlalu over menginginkan anaknya untuk menjadi seseorang yang mereka inginkan. Bersikap sebagai seorang pekerja keras memang bagus, namun pada kenyataannya dalam practice sikap pekerja keras tersebut seringkali berubah menjadi egois yang terlihat mengais-ngais. Apapun harus bisa didapatkan, dimanapun harus menjadi yang tertinggi.

 

Dibalik pekatnya paradigma kehidupan yang seperti itu, tentu tak lepas dari masih banyaknya pihak yang hanya berfikir setengah matang. Merasa jatuh, merasa mati,merasa kalah, jika tidak sama seperti kumpulan insan yang merasa highclass bersetuan.

 

Mencari-cari, berburu, bermain hitam putih, dimulai dari jalan yang paling terang hingga yang paling gelap pun akan ada orang2 yang bereksistensi dengan tujuan meraih kebanggan.

Terang saja, semua orang tentu senang dipuji, semua orang tentu ingin dipandang, semua orang tentu senang pada kebanggaan, namun.. dalam hal ini yang ingin nisa tekankan adalah kebanggan itu bukanlah tujuan akhir, itu bukan tujuan akhir kita dalam hidup di dunia.

 

Untuk apa memaksakan diri menjadi tinggi jika akhirnya jiwa kosong terlunta-lunta?

Untuk apa memaksakan diri menjadi tinggi jika akhirnya kita belum bisa mensyukuri apa yg ada?

Untuk apa menjadi tinggi jika akhirnya masih bergantung dalam buaian lena?

Bukankah lebih menyenangkan bisa berdiri sendiri tanpa bayangan yang menjadi punuk diri?

 

 

Jadi.. masih banyak jalan untuk mencapai kebahagiaan diri, tak perlu memaksakan kelu jika memang tak mampu. Tak perlu malu jika memang prinsipmu tak dayu. Bisa jadi kelebihanmu akan lebih terpancar jika kau mau berusaha menjadi diri sendiri daripada terus menerus membandingkan dengan yang lain tak ada habisnya.

 

Mungkin Tak banyak yang menyadari, ruh dalam jiwa pun butuh nutrisi, layaknya raga yang akan lemah jika tak diberi nasi. Maka berjalanlah dalam lingkungan yang senantiasa berusaha saling memperbaiki.

 

Terlalu menegangkan kah?

Tenang, tenang. Duduklah sebentar sembari menelisik apa yang memang harus dilepaskan..

 

Jadi sayang, jangan merelakan jiwa untuk merasa tertekan hingga lebam membiru jika memang tak mampu. Masih ada tujuan akhir yang lebih penting untuk dikerling.

 

~Casuarina.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s