Sepotong Luka

Rey menyesap lagi coffee latte kesukaannya saat aku tengah memerhatikan bagaimana menyedihkan keadaannya kini.

“Kamu semakin kurus, Rey.”

Aku membuka pembicaraan dengan lirih. Namun Rey hanya mengangguk sembari menatap kosong ke sudut cafe.

“Aku terlalu sibuk memikirkan paruh jiwaku yang tengah hilang.”

“Rey..”

“Tak bisakah kamu kembali menjadi gadisku yang dulu, Nez?”

Ah, rey selalu berhasil membuatku bimbang setelah beberapa bulan kemarin aku berkeyakinan untuk menjauh darinya. Aku terlalu bingung bagaimana harus bersikap dengannya. Menghilangkannya jauh-jauh begitu saja tentu bukan hal yang mudah. Aku masih begitu menyayanginya,-meski harus sesakit ini- mungkin aku telah terbiasa dengan semua cara anehnya untuk mencintaiku. Aku pun begitu mengerti ia menahan beban yang lebih menyakitkan dariku.

Aku lalu mendesah pelan dalam keheningan.

“Aku terlalu rapuh” jawabku sekenanya.

“Apakah karena aku bukan orang berada, dan aku tak pantas untukmu?”

Aku memalingkan muka ke arah lain dengan rasa getir.

“Kamu masih seperti dulu, Rey. Kamu tahu kan, aku tak pernah mempermasalahkan harta dalam hubungan kita selama ini.”

“Lalu mengapa? Apakah ada seseorang yang lain?”

“Hmm, aku selalu ingin menanyakan satu hal padamu.”

Aku mengaduk pelan coklat panas dihadapanku.

“Apakah selama empat tahun ini hanya kamu yang berjuang, Rey?”

” Tidak, kamu pun berjuang. Tapi kamu tak pernah berusaha menunjukkannya padaku. Kamu lebih sering berfikir lalu memutuskan semuanya sendiri.”

” Maaf kalau aku egois.”

bulir bening lalu menetes pelan dari pelupuk mataku. Aku merasakan genggamnya yang semakin erat.

“Tak apa.. Aku hanya ingin kamu kembali menjadi nez yang dulu. Aku merindukannya. Nez yang tak pernah mau ditinggal, Nez yang selalu cemburu, Nez yang selalu peduli dan perhatian, Nez yang hanya mau dipanggil dengan sebutan buatan kita. Aku hanya.. Aku begitu merindukan sosoknya.”

Rey menggenggam tanganku erat.

“Tak bolehkah seseorang berubah? Aku … hanya tak mengerti apa yang akan terjadi pada akhirnya nanti.”

“Kamu hanya perlu menguatkan keyakinan Nez, seperti dulu.”

Rey menatapku dalam-dalam. Membuatku semakin rapuh menghadapi semua ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s