Freezing Summer

imageshh

 

*Musim panas sebelum kelulusan.

Aku melangkahkan kaki beriringan rima, dihiasi kicau burung yang melambai sepi, awan cerah, dan indah bukit yang menjulang. Bibirku membentuk selengkung manis, sepertinya semesta tengah bersulang dengan fortuna untuk membuat hariku berhias warna.   Hmm..tunggu, tunggu, terlalu berlebihan kah aku mengungkap semuanya? Haha tak apa..musim ini terlalu membahagiakan untuk tak dinikmati dengan seruni.

Hari ini adalah hari pertama musim panas di Gyeongsangbuk-do. Sebuah desa yang begitu aku cintai sampai masa-masa yang akan terlewati. Aku selalu menyukai detik-detik yang akan terjadi di musim ini, begitu istimewa menurutku, sebuah perasaan yang tak terbagi saat aku bisa menghabiskan rangkaian hari dengan hangat mentari bersama appa, eomma, unnie, dan tentu saja teman terbaikku sejak kecil, Myung Jae oppa.

“Se Na! ” Terdengar suara yang begitu kukenal.

Aku refleks membaikkan badan. Seorang yang begitu aku kagumi sampai detik yang tak berhingga ini berdiri di pinggir halte sebelah kiri jalan. Aku menghampirinya bersama seulas senyum manis.

“Oppa, kenapa masih disini?”

“Tentu saja menunggumu. Kau tak tahu sedari mentari mulai bertengger di ufuk aku begitu sabar dilewati desir angin berpusar yang tak berkesudahan, dan kau baru muncul 1 jam kemudian.” Ia memasang raut kesal padaku.

Ah.. Myung Jae oppa memang terlalu pandai memainkan kata-kata, sedikit berlebihan menurutku, sebenarnya aku tak terlalu mengerti apa maksud pernyataannya tadi, tapi..sebut saja ia tengah kesal padaku. Dan aku lagi-lagi hanya tersenyum padanya. Aku tahu ia tak akan bisa berlama-lama untuk tak bicara denganku. Ia menyimpan begitu banyak cerita yang tak pernah lupa untuk dikisahkan padaku setiap harinya.

Kami memang memiliki begitu banyak kesamaan dalam menyukai sesuatu, dan tentu saja ia juga adalah seorang yang begitu menyenangkan untuk diajak berbagi. Kami biasa menghabiskan waktu seharian untuk membuat kimchi bersama, menyenangkan sekali saat bisa memotong sayuran atau mengaduk kimchi bersamanya. Atau kami juga sering mendaki bukit bukit kecil untuk mengambil beberapa buah apel hankuk. Atau pelukan hangat yang senantiasa dihadirkan saat aku tengah bersedih, atau kisah-kisahnya yang selalu bisa menghibur saat aku tengah merasa bosan. Ah,ya.. Aku baru menyadari betapa ia adalah seseorang yang begitu membahagiakan.

Sesaat aku menatapnya lekat-lekat dalam diam. Dan ia hanya tersenyum manis kemudian menarik tanganku pergi. Oh Tuhan.. Seseorang ini benar-benar membuatku menyimpan degup yang tak tertahan dalam dada.

Kemudian, setelah kami sampai di sekolah..

Aku menemukan sesosok ganjil ketika melihat Yoon Na Ra, sahabatku tengah serius memperhatikan Ipad-nya. Aku fikir ia merupakan salah satu orang yang paling beruntung bisa dilahirkan dari keluarga mewah dengan wajah yang rupawan dan berhati permata. Ya, ia begitu ramah pada setiap orang. Itulah mengapa aku bisa cukup dekat dengannya meski ia baru pindah ke sekolah ini beberapa bulan lalu. Aku berusaha mengejutkan ketertarikannya pada sesuatu entah apa yang tengah dilihat di Ipad-nya, namun ternyata daya tarik benda tersebut lebih kuat.

“Hei!” Aku menepuk pundaknya agak keras.

“Oh, Se Na! Kau membuat jantungku hampir lepas”

” Mianhae Na Ra.. Boleh aku tau apa yang tengah kau perhatikan?”

“Tak ada.. Hmm, Se Na, hari ini ada sparring basket antar angkatan, kita lihat yuk.  Disitu pasti ada Myung Jae oppa. ”

” Oh, ya? Tadi ia tak mengatakan apa-apa padaku..” Kemudian otakku mengingat kembali kejadian tadi pagi.

“Okey, setelah istirahat!” aku tersenyum padanya.

Aku memikirkan sesuatu yang tak begitu penting. Ahh, tapi mengapa ini begitu mengganggu fikiranku. Akhir-akhir ini Na Ra begitu sering membicarakan tentang Myung Jae oppa. Apakah Na Ra menyukainya? Ah entahlah.. Aku tak bisa membuat hipotesis apapun tentang ini.

Sepulang sekolah, seperti biasa aku berjalan di koridor melewati kelas Myung Jae oppa. Ah, ternyata disitu juga ada unnie. Aku menghampirinya seraya tersenyum.

“Unnie, apakah Myung Jae oppa ada didalam?”

“Tak ada” Ia hanya menjawabku sekenanya kemudian berlalu dengan raut datar.

Tak lama Myung Jae oppa menghampiriku,

“Jung Se Na, ayo temani aku. Hari ini adalah hari yang begitu spesial” Ia menarik tanganku keluar.

“Tapi oppa…”

“Sudahlah, musim panas terlalu sayang jika hanya dilewati dengan hal-hal biasa”

Aku menurut saja padanya.

Ia membawaku ke suatu tempat didekat bukit apel yang sering kami kunjungi. Tempat yang begitu indah dan mendamaikan hati. Ternyata itu adalah rumah bibinya yang baru saja pindah. Bau dedaunan pohon apel yang terpancar sinar matahari membuat penciumanku sejenak terbangun, ditambah lagi bukit-bukit hijau disekeliling yang membuat damai sanubari, rasanya aku ingin tetap disini sampai esok-esok hari.

Myung Jae oppa mengacak rambutku pelan.

“Karena besok adalah hari ulang tahunku, hari ini bibi membebaskan kita untuk mengambil apel di bukit sebanyak apapun” ia kemudian tersenyum padaku, begitu manis. Membuat siapa saja pasti terpesona dan merasa bahagia bisa berada di dekatnya.

Kami beriringan berjalan ke atas bukit kecil, disana banyak burung-burung yang tengah bertengger di ranting-ranting pohon. Ia memetik sampai beberapa keranjang kecil terisi penuh apel merah yang begitu ranum. Kemudian kami duduk di tepi bukit. Memandang lepas rona indah di gurat senja. Ia terlihat sedikit letih, namun tetap berusaha tersenyum padaku.

“ Menyenangkan sekali berada disini, gomawo oppa.” ucapku seraya tersenyum.

“Aku senang jika kau menyukai tempat ini. Artinya, aku bisa selalu kesini bersama denganmu setiap bosan datang.”

Aku kembali menatapnya lekat.

“Kenapa kau suka sekali memandangku seperti itu? ” Tanyanya sembari mengelus pelan rambutku kemudian tersenyum.

“Kau tak bisa menjawabnya?” Ia bertanya kembali lalu balas menatapku penuh arti yang segera membuatku tertunduk malu.

“Jung Se Na, bolehkah aku menyukaimu?”

Aku hampir tak tersadar jika tak ingat lagi dengan rasa malu, rasanya aku ingin menjerit sekencang-kencangnya saat itu juga. Pernyataannya tadi membuat degupku semakin kencang tak berpadu. Berjuta pertanyaan lalu terbenam dalam otakku. Aku tak mengerti apa yang ada di fikirannya saat ini, apakah Myung Jae oppa juga benar-benar menyukaiku? Ataukah ia hanya main-main? Ah.. Mungkin sanubari ini yang terlalu ingin menjadikannya pewarna hari.

…..

Hingga pada saat hari mendekati kelulusan kami..

Aku menemukan Yoon Na Ra tengah tertunduk di bawah rimbun pohon di taman sekolah. Aku myentuh pundaknya pelan, namun ia hanya menatapku datar. Beberapa bulan terakhir ini ia memang begitu dingin padaku, Sesaat aku mengernyitkan dahi.

” Se Na, bolehkah aku menyukai Myung Jae oppa?” Ia berkata padaku dalam lirih.

Aku hanya terdiam dan duduk di sebelahnya. Memandangnya penuh tanya dan perasaan berkecamuk. Aku memang telah melihat beberapa raut lain yang selalu aku lihat saat ia menatap Myung Jae oppa. Tapi aku tak pernah menyangka ia akan langsung menyatakannya seperti ini padaku, beberapa waktu lalu ia hanya berkilah saat aku menanyakan hal ini. Ia tau aku begitu menyukai Myung Jae oppa, begitu menyukai kebersamaan kami sejak kecil. Dan aku juga tak menyangka Na Ra akan bergerak secepat ini ketika kulihat esoknya ia tengah berbincang lepas bersama Myung Jae oppa di salah satu taman dekat rumah. Aku hanya tertegun melihatnya. Kemudian berkaca sendiri pada hati, bagaimana aku harus menyikapi semua ini.

Demi debar yang terus menggelayut di setiap senja, hal yang mulai menyakitkan adalah ketika tahu Na Ra akan masuk ke universitas yang sama dengan Myung Jae oppa tahun lalu di Seoul. Dan aku hanya bisa terdiam mengingat aku tak bisa seperti mereka karena keadaan appa dan eomma yang hidupnya serba sederhana.

Saat aku menceritakan semuanya pada unnie, ia hanya menjawab pendek padaku.

“Se Na, apa-apa yang kau miliki di masa ini belum tentu akan kau miliki juga di masa-masa yang tak berhingga nanti. Jadi relakanlah saja mereka bersama.” Ucapnya dingin.

Aku hanya mengangguk saja mendengar nasihat unnie, mungkin ia benar.

Aku memang kecewa, sangat kecewa pada keadaan ini. Terlebih pada Na Ra yang telah aku anggap sebagai saudara sendiri. Namun aku berusaha untuk terus bersabar hati, menyadarkan jiwa bahwa persahabatan kami lebih penting dan tak boleh dihancurkan sia-sia hanya karena seorang lelaki. Aku pun memulai untuk merelakannya, seseorang yang selalu menjadi penambat hati, yang entah sampai kapan akan berhenti.

*Musim panas ke-5 setelah kelulusan.

Aku tengah memanen lobak-lobak kecil tatkala melihat eomma sedang menjerit kegirangan. Ternyata kabar mengenai pernikahan unnie di Seoul. Ia memang memutuskan untuk pergi ke Seoul mencari pekerjaan 3 tahun lalu. Aku turut senang mendengarnya, meski ia tak pernah mendukung kisahku dengan Myung Jae oppa, tapi aku begitu menyayanginya sebagai unnie yang baik, yang selalu bisa menginspirasiku untuk menjadi wanita yang kuat. Ah.. Aku tak sabar untuk segera menghadiri pestanya.

Esoknya, kami langsung berangkat menuju Seoul. Aku begitu bahagia saat menghadiri pesta pernikahan unnie, saat melihatnya mengenakan gaun yang begitu cantik, tiba-tiba terlintas sesuatu di benakku. Andaikan saja yang duduk disitu adalah aku dan Myung Jae oppa, pasti aku akan merasa menjadi wanita yang paling berbahagia. Dan..oh, ternyata ada Yoon Na Ra duduk disamping unnie, aku tak menyangka dan tak mengetahui sejak kapan mereka sedekat ini.

Tetapi, tak lama setelah itu, layaknya guntur bersambung petir yang bersahut tiba-tiba. Aku terhenyak menyaksikan pemandangan di depan mataku, ketika pengantin pria yang ditunggu datang, seseorang yang kulihat adalah lelaki itu. Kim Myung Jae. Seseorang yang begitu membahagiakan dan kupercayai, kini berdiri bersandingan dengan unnie yang begitu aku hormati dan sayangi.

Na Ra kemudian mendekat padaku dan berbisik.

“Jung Se Na, Myung Jae oppa telah terjebak pada unnie-mu. Mianhae, tapi oppa telah benar-benar menambatkan hatinya padamu dan membuatku kecewa, dan karena aku tak ingin persahabatan kita hancur hanya karena lelaki, kuserahkan Myung Jae oppa padanya. Agar tak ada satupun dari kita yang memilikinya.”

Aku menggelengkan kepala tak percaya, fikiran buruk apa yang membuatnya menjadi se-egois itu? Rasanya sesuatu tengah berputar-putar di kepalaku. Potongan-potongan kisah lalu dan kata-kata unnie dahulu begitu melekat dalam fikiranku. Setetes bening tertahan di pelupuk mata yang telah rapuh. Tiba-tiba aku merasakan semuanya begitu beku, tak lagi hangat seperti musim-musim panas sebelum ini. Aku tertunduk menyalahkan diri, sebenarnya siapakah yang begitu bodoh dari semua kisah ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s