Kidung Cinta Untuk Aleza

Aku mencoba lagi menggesekkan bow pada senar biola dengan penuh rasa. Namun baru sebentar memejamkan mata menghayati segenap alunan nada, lagi-lagi permainanku terhenti karena konsentrasiku kembali pecah. Arghh kesal sekali rasanya, sampai kapan aku harus memendam nestapa yang begitu menyiksa. Rasanya jiwa ini telah begitu lelah dibayangi kenangan-kenangan sendu.

Sesaat kemudian aku menyerah dan memilih mengambil handuk kecil untuk membersihkan bagian belakang biola yang sedikit berdebu karena beberapa lama dibiarkan tergeletak di samping lemari. Kupandangi lekat-lekat seutuh bagian-bagian biola. Ah, aku merasa Eza masih tetap hidup dalam biola ini. Jiwanya serasa mendekapku dalam diam. Pandanganku lalu beralih ke serambi senja, menatap mentari yang semakin meredup. Kupejamkan mata dalam diam, rasanya aku tak akan pernah bisa melupakannya. Seseorang yang selama ini begitu dekat jiwa dan raganya, bahkan telah mematri sebagian cerita hidupku, kini tiba-tiba harus pergi meninggalkanku seorang diri bersama cita-cita yang berubah menjadi luka.

Ya, dia adalah Aleza, saudara kembarku. 16 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk dilupakan bersama segenap kenangan manis yang ditinggalkannya. Dulu kami pernah bercita-cita untuk bersama-sama menjadi pemain biola yang mendunia, namun harapan itu menjadi pupus semenjak 2 bulan lalu ia meninggal karena kecelakaan mobil untuk menyelamatkan biolanya yang terpelanting ke jalan raya. Masih kuingat kata-kata terakhirnya sebelum ia benar-benar pergi.

“Na.. Rasanya dunia semakin redup untukku.. Na..jaga selalu biola ini ya, ingat selalu perjuangan kita, kamu tak boleh menyerah. Aku menyayangimu, na.. ”

“Aleza!! Aku tau kamu kuat. Kamu yang tak boleh menyerah za! 2 bulan lagi kita akan konser, ayolah kumohon jangan tinggalkan aku..”

Bulir beningku menetes deras dari pelupuk mata. Namun sepertinya takdir berkata lain, ia menghembuskan nafas terkahirnya dalam pelukanku. Tak terlukiskan bagaimana perasaanku saat itu. Rasanya aku ingin marah pada diriku sendiri yang hanya bisa terdiam menyaksikan truk gandeng itu menyambar Aleza dengan kencangnya. Aku marah pada tuhan yang begitu cepat mengambilnya, aku menjadi begitu bingung harus berbuat apa tanpanya disampingku.

*

Satu minggu lagi adalah konser besar yang kami impikan sejak dulu, setelah usaha kami yang berpindah-pindah tempat untuk unjuk kebolehan dalam bermain biola, akhirnya pada suatu hari saat tengah tampil  di acara wisuda kami diundang oleh grup band orkestra besar yang akan merayakan dies natalis untuk bermain biola bersama mereka dalam tur keliling kota. Tak terbayangkan betapa bahagianya hati mendengar tawaran itu. Kami berlatih sungguh-sungguh setiap hari untuk mempersiapkannya.

Namun takdir memang tetaplah takdir. Tak ada satupun yang bisa mengubahnya, termasuk aku yang hanya manusia biasa. Kucoba perlahan untuk mengikhlaskan aleza pergi dalam damai. Tetapi rasanya jiwaku tak bisa menerimanya. Entahlah, bagiku ia masih terus hidup disampingku, menemaniku dalam setiap helaan nafas.

Aku masih duduk terdiam di atas ranjang sembari memeluk biola aleza ketika bunda mengetuk pintu kamarku perlahan kemudian menarik kenopnya. Aku melirik jam sesaat, sudah pukul 11 malam. Tapi mataku masih juga belum ingin terlelap.

“Na.. Kenapa belum tidur nak? Hari sudah larut.” Bunda melangkahkan kakinya menuju ranjangku kemudian mengelus rambutku penuh kasih.

“Konser biola itu 1 minggu lagi bun.. Dan na masih belum bisa membawakan instrumen lagu dengan benar. Selalu saja ada bagian yang salah. Na takut nantinya hanya memalukan bun..”

“Apa yang mengganggu fikiranmu, nak..?”

“Na merasa tidak akan bisa membawakan lagu itu tanpa aleza bun..” Isakku tertahan di pelupuk.

“Alena sayang, kalau kamu memang menyayanginya, ikhlaskan dia dengan tenang nak.. Biarkan eza beristirahat dalam damai. Bunda yakin..eza pun pasti sedih jika melihatmu terpuruk begini.

“Iya bun.. Na akan berusaha..” Ucapku masih sambil sesenggukan.

“Oh, ya satu hari sebelum kejadian naas itu, eza sempat menitipkan ini pada bunda.” Bunda menyodorkan secarik amplop berwarna biru laut, warna kesukaanku. Pelan-pelan aku buka lembar di dalamnya.

Untuk Na tersayang

   Semangat selalu, Na!! Akhirnya 2 bulan lagi kita akan konser besar:) Apapun yang terjadi aku akan selalu disampingmu. Kita mainkan lagu kesukaan kita bersama, meski sesulit apapun itu, kita tak boleh menyerah, kan. Ah aku tak sabar menunggunya, pasti sangat menyenangkan, semoga kita sukses na.                                                                                                                                                                            Aleza

Bulir beningku kembali menetes saat kulipat kembali surat kecil dari eza. Kulirik kembali biola miliknya lalu kudekap erat, aku merasa begitu merindukannya kini.

“Kalau Eza belum bisa menggapai impiannya, maka na yang harus sukses membuatnya tersenyum disana. Tunjukkan pada Eza na bisa membawa kesuksesan itu. Jadi, bangkitlah nak.. hidup tak berhenti sampai disini.” Bunda langsung memelukku erat-erat.

Dan akhirnya, akupun tersadar dan mengingat semua. Hidup tak hanya berhenti sampai disini. Aku menyadari ini belum usai. Lalu kupaksakan diri untuk bangkit dan memulai latihan kembali. Hingga pada suatu senja, di hari yang mendebarkan satu minggu kemudian, aku berusaha kuat naik ke panggung dan membawa biola milik na. Entahlah, aku telah terlalu cinta pada biola tua ini, biola ini menyimpan banyak sejarah dan memiliki banyak arti bagi kami. Kudekap lagi biola ini erat-erat dan berbisik,

“Meskipun Eza telah tiada, aku yakin jiwanya masih akan bersamaku disini bersama biola kesayangannya ini. Semoga kita sukses, za.”

Aku pun memulai nada. Semenit, dua menit kemudian masih hening, namun pada menit-menit terakhir hatiku serasa bergetar karena telah berhasil membuat ribuan orang yang ada di hall memberikan standing applause untuk penampilan solo-ku. Aku turun panggung dengan rasa amat bahagia. Kudekap lagi biola ini erat-erat. Rasa cintaku pada benda ini telah begitu melekat kini.

 

“Sukses ini kupersembahkan untukmu, na. Terimakasih masih meninggalkan biola penuh cinta ini. Aku berjanji akan menjaganya baik-baik.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s