Kupeluk Semesta Dengan Cinta-Nya

Hafidz melipat kembali lembaran usang bergambar laptop di tangannya, kemudian segera memasukkannya ke dalam dompet. Tak lama terdengar helaan nafasnya yang agak berat. Ia membayangkan bagaimana caranya agar bapak mau membelikan benda itu. Bukan sesuatu yang mudah, memang. Hafidz tau harga laptop begitu mahal untuk ukuran keluarganya. Tapi.. Ia menjadi begitu ingin kini.

Hafidz ingin sekali bisa membeli laptop. Baginya itu bisa membantu banyak untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, atau bisa juga memudahkan ia untuk menulis yang telah sejak dulu menjadi hobinya. Meskipun ia banyak di cemooh oleh teman-temannya karena ia bercita-cita ingin jadi penulis, namun Hafidz tak pernah menyerah.

Teknologi yang semakin canggih terus membuat Hafidz berfikir maju, apalagi di era yang semakin modern ini.  Namun apalah nasib berkata, semenjak ia masih duduk di bangku sekolah dasar, hingga kini ia telah menj adi seorang siswa putih abu, benda itu masih saja tetap menjadi impiannya di awang-awang.

2 hari lagi Hafidz berulang tahun. Namun tetap saja, seminggu yang lalu ketika Hafidz membicarakan kembali keinginannya pada bapak, bapak hanya berkata,

“Maafkan bapak nak, bukannya bapak tak ingin melihat kamu senang, tapi kamu mengerti kan kondisi keungan kita sekarang, apalagi adik-adikmu masih kecil.”

Bapak menepuk pundak Hafidz sambil menatap sayu lalu menghela nafas panjang.

Hari ini Hafidz temenung sendiri di depan halte bus sambil menjajakan donat coklat buatan ibu. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya.

“Hafidz? Kamu sedang apa disini?”

Ternyata seseorang itu adalah Bu Nuryati, guru bahasa indonesianya dulu ketika SMP. Hafidz lalu cepat-cepat mencium tangan perempuan paruh baya tersebut. “Oh, ini saya bantu-bantu ibu di rumah menjajakan donat. Lumayan bu hasilnya. Ibu apa kabar? Mau kemana bu?” Ucap Hafidz sambil meletakkan keranjang donatnya di bagian depan motor.

“Baik nak, alhamdulilah. Yaa baguslah fiz.. Sebagai anak yang berbakti memang harus begitu. Oh, ya beberapa hari kemarin ibu melihat kamu ada di warung bakso seberang pasar tengah membawa-bawa mangkok. Kamu tidak sekolah, nak? Sayang nanti prestasi-mu menurun.”

“Oh, itu.. Hafidz bantu-bantu cuci piring disana bu, lumayan hasilnya untuk tabungan hafiz supaya tidak banyak merepotkan orang tua lagi. Hafidz kesana sepulang sekolah kok bu.”

Bu Nuryati lalu tersenyum sembari menepuk pundak anak didiknya itu. Hafidz hanya tersenyum sayu.

“Hafidz pasti bisa sukses nanti, tak perlu susah payah begini lagi. Akan ada banyak orang yang membutuhkan Hafidz nantinya. Ibu selalu doakan yang terbaik untukmu. Oh, ya nak ibu tadi beren cana naik ojek yang biasa mangkal disini, orangnya gemuk putih, kamu melihatnya nak?”

“Maksud ibu mang sardi? Ia tidak datang bu hari ini, Hafidz dengar anaknya tengah sakit parah. Kalau ibu bersedia Hafidz saja yang mengantarkan ibu, bagaimana?”

“Boleh, boleh, ayo nak..”

Hafidz lalu mengantarkan ibu gurunya kembali kerumah. Dan tanpa disangka-sangka atas karunia tuhan yang begitu besar Hafidz di beri lima puluh ribu rupiah padahal rumah bu Nur hanya berjarak beberapa meter dari halte.

“Aduh bu, niat Hafidz kan hanya menolong, tidak usah repot-repot..”

“Tak apa.. Ibu ikhlas kok. Terus semangat ya nak, anak baik sepertimu pantas mendapat yang terbaik.”

“Kalau begitu terimakasih sekali bu, semoga  doa ibu bisa membantu untuk sukses Hafidz nantinya aamiin”

Bu Nur tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju pintu rumah.

Tak lama kemudian adzan ashar berkumandang dari masjid besar di seberang jalan, Hafidz lalu memakai helm nya dan bergegas pulang. Semesta begitu gencar membagikan sinar sang surya hari ini, hingga Hafidz tak bisa berhenti mengelap peluhnya yang sejak tadi berkesah ruam.

Hafidz mampir sebentar ke masjid di dekat rumahnya untuk menunaikan ibadah. Beberapa menit kemudian ia baru terlihat kembali sambil membawa seember air dan gayung. Lalu disiramnya beberapa rumpun tanaman hijau yang ada di samping masjid.

“Ya Allah, Hafidz bukanlah seorang yang pintar. Bukan pula seseorang yang kaya raya untuk bisa banyak bersedekah. Tapi semoga tumbuhan yang Hafidz sedekahi dengan guyuran air setiap harinya ini bisa mendoakan untuk kesuksesan Hafidz nantinya. Aamiin YaRabb.”

Matanya lalu berkaca-kaca selepas mengucapkan kata-kata terakhir. Semesta yang senja menjadi saksi atas perjuangannya yang getir. Daun-daun dari beberapa rumpun tanaman lalu bergoyang, mungkin mereka terharu karena ada yang begitu memuliakan.

*

Selepas kelulusan, sembari menunggu pengumuman SNMPTN, Hafidz menyempatkan diri untuk mencari uang sedikit-sedikit seperti misalnya menjadi ojek di pangkalan depan lorong rumahnya, atau mencucikan motor tetangganya. Hasil yang ia dapatkan ia gunakan untuk menyewa laptop temannya atau pergi ke warnet sebelah rumah untuk menulis, hasil tulisannya lalu ia kirimkan ke beberapa penerbit indie yang menawarkan promo. Tak jarang ia mendapat penolakan, namun kegigihan untuk sukses membuatnya semakin mantap untuk berusaha.

6 bulan kemudian, Hafidz menerima kabar yang membahagiakan jiwa dari salah satu penerbit.

“Halo, dengan saudara Hafidz? Ini dari penerbit dive. Selamat, mas. Buku anda terjual habis sebnyak 200 eksemplar dalam 1 bulan ini dan menjadi best seller. Dan.. Oh, ya ada beberapa orang yang datang kemari menawarkan proyek menulis untuk mas Hafidz, untuk lebih jelasnya silahkan datang kemari dalam beberapa hari ini. Kami tunggu kehadirannya.”

Tak terbayang bagaimana rasa terkejutnya saat itu, ia hanya bisa bersujud syukur pada Tuhan atas anugerah besar yang dipercayakan padanya kini. Hafidz pun mulai merintis karirnya sebagai penulis hingga beberapa minggu kemudian ia bisa membeli laptop sendiri.

Bulan-bulan berikutnya, buku-buku Hafidz yang diterbitkan selalu menjadi best seller yang banyak menginspirasi orang. Hingga akhirnya Hafidz bisa mendirikan percetakan sendiri yang segera berkembang pesat menjadi penerbit mayor. Ia juga bisa memberangkatkan ayah dan ibunya untuk pergi haji.  Hafidz lalu mencium tangan bapak dan ibu nya dengan penuh haru.

“Selamat nak, terimakasih telah menjadi kebanggaan bapak” ucap bapaknya seraya memeluk Hafidz.

Tak terasa genangan di pelupuk matanya menetes pelan. Hafidz bersyukur menyesap rasa dalam sanubari.

“Terimakasih Tuhan, untuk hadiah yang engkau titipkan begitu indah. Terimakasih untuk cinta yang begitu mengagumkan padaku.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s