Pada Rasa yang Bukan Untukku

Aku menyipitkan mata pada lembaran-lembaran penuh kisah di hadapanku kini. Fikirku bergumam sejenak lalu kembali sibuk menyusun kalimat untuk bisa menjawab satu persatu curahan hati di rubrik psikologi dari pelanggan majalah “Karina”, majalah tempatku bekerja saat ini. Fiuhh, sebenarnya aku hanya ingin bersyukur karena akhirnya aku bisa menempatkan ilmuku pada sesuatu yang berguna meskipun gelar S.Psi belum melekat di ujung namaku. Tapi..rasanya kini aku menjadi mulai stress setelah beberapa minggu terakhir melihat tumpukan pertanyaaan-pertanyaan ini yang kebanyakan berkisah tentang kegagalan rumah tangga. Wajar saja, majalah tempat aku bekerja ini bisa dibilang majalah yang sangat konsumtif untuk ibu-ibu, begitulah. Tapi.. Aku masih tak bisa menutupi bagaimana bingungnya harus memberi saran sedangkan aku pun belum berumah tangga.

“Tessa,”

Ridha, teman sekamarku di kosan memanggil dari balik pintu tiba-tiba.

“Masih sibuk ya? Mau aku bantu?”

“Boleh.” Jawabku tenang.

Ridha mengambil alih laptopku kemudian membaca lembar pertama.

Selamat malam, Mbak Tessa. Saya Felly, umur 29 tahun dan menikah 6 tahun yang lalu. Saya sangat bingung mbak, dahulu sebelum kami menikah, suami saya sangat amat teramat baik sikapnya, ia selalu memperhatikan semua keinginan saya, tak jarang ia juga sering memberi kejutan-kejutan kecil. Namun setelah kami menikah, ia menjadi begitu berbeda dalam kesehariannya. Saya pun baru mengetahui sifatnya yang begitu egois setelah menikah. Saya menyadari mbak saya pun belum sempurna untuk menjadi seorang istri yang baik, tetapi setidaknya saya selalu berusaha untuk bisa membahagiakannya mbak. Hal yang paling sering saya khawatirkan, ia sering sekali memarahi di depan anak ketika saya salah, sehingga saya takut kondisi fikiran anak saya akan terganggu karena itu. Saya hanya selalu mencoba bersabar dan berfikir mungkin ia sedang ada masalah di kantonya. Namun sebagai wanita dan manusia biasa mbak, tentu ada kalanya saya merasa begitu tak berharga di matanya. Ditambah lagi rasa takut yang selalu menghantui saya bagaimana jika suatu hari nanti ia berniat ingin bercerai. Saya bingung harus bagaimana, saya harap Mbak Tessa bisa memberi solusi yang terbaik. Terimakasih.

“Sa.. Dia belum cukup siap untuk jadi seorang istri.” Ucap Ridha setelah membacanya.

“Kenapa?”

“Ini kan aib keluarga, tidak seharusnya ditampilkan di majalah begini, ia kan bisa personal chat, atau personal email saja ke kamu.”

“Tapi kan ini rubrik curahan hati, dha.. Aku tidak bisa melarang siapapun untuk berkesah disini..”

“Oke, oke deh..jadi menurut kamu solusi terbaiknya gimana?”

“Hhmm, menurut kamu, kenapa sih cowok lebih sering seperti itu dha?” Tanyaku .

“Kenapa ya, Hmm.. semuanya tentu punya porsi salah masing-masing lah, sa. Kalau kita mau lihat dari sudut pandang wanita yang notabene menggunakan ego dalam setiap masalah, aku pasti menanggapi kesal dengan suaminya itu. Untuk apa dulu bersikap baik manis-manis kalau akhirnya akan seperti ini. Marah pun tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah, dan kalau dari diri aku pribadi sikap yang seperti tadi terlalu rendah levelnya. Kenapa tidak sedari awal saja tunjukkan sifat aslinya? Dan lain-lain yang akan berakhir dengan kata untuk apa. Hmm, kalau kita lihat dari sudut pandang lelaki, mungkin ia sedang menghadapi banyak masalah yang belum bisa diungkapkan, atau banyak fikiran, atau sakit, dan sebagainya. Kamu juga tahu kan, lelaki itu sedikit sekali yang mau mengungkapkan persaannya lewat tangis seperti wanita, kebanyakan dari mereka akan bersikap lain dengan memendam masalahnya sendiri. Karena itu wanita memang harus lebih banyak mengerti.”

“Iya juga ya. Tapi dha, ibu ini sudah beberapa kali mengirim surat keluhan. Dan selalu aku jawab seperti ini, -setiap masalah pasti ada solusi, apalagi jika kita mau bersabar, Tuhan pasti akan memberi jalan. Coba lebih banyak berkomunikasi dengan pasangan agar hal-hal yang membuat suasana keruh bisa dikurangi dan jangan sampai terlihat di depan anak-. Pada intinya aku selalu menyarankan untuk bertahan dha, aku menyarankan beberapa solusi agar hubungan mereka membaik, †âÞi..kenapa ya masalahnya sampai saat ini belum selesai juga. Aku jadi bingung harus menjawab baersabar, tuhan pasti akan memberi jalan. Coba lebih banyak berkomunikasi dengan pasangan agar hal-hal yang membuat suasana keruh bisa dikurangi dan jangan sampai terlihat di depan anak-. Pada intinya aku selalu menyarankan untuk bertahan dha, aku menyarankan beberapa solusi agar hubungan mereka membaik, tapi kenapa ya masalahnya sampai saat ini belum selesai juga. Aku jadi bingung harus menjawab bagaimana.”  Ridha kemudian bangun dari duduknya dan menepuk pundakku pelan.

“Aduh Tessa, Kalau kamu bingung ya tinggalkan saja dulu. Menurut aku kamu sudah terlalu banyak berfikir untuk membantu masalah orang lain. Pernikahan kamu sendiri dengan hendri bagaimana kelanjutannya?”

Kalimat Ridha lalu menyadarkanku dalam kelam jiwa. Aku pun sebenarnya bingung dengan lelakiku. Hendri, adalah seorang pengusaha sukses yang saat ini tengah menjalin hubungan denganku. Meski usianya terpaut jauh beberapa tahun diatasku, entah mengapa ia selalu terlihat memesona di mataku.  Namun yang membuatku bingung, ia selalu mengatakan belum siap saat aku menginginkan untuk bertemu orangtuanya. Beberapa kali aku mengajaknya untuk membina hubungan yang lebih serius namun ia selalu mengalihkan pembicaraan.  Entahlah, aku sendiri malah menjadi ragu padanya kini.

Tiba-tiba dering handphone-ku berbunyi, ada pesan singkat masuk.

“Dear my sunshine, bisakah kita bertemu besok? Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan tentang kita.”

Aku mengernyitkan mata sejenak setelah membaca pesan darinya.

“Dari siapa tes?”

“Hendri dha.. Entahlah, aku malah menjadi ragu dengannya kini.” Ucapku datar.

Sesaat kemudian akhirnya aku memutuskan untuk tidur terlebih dahulu melepas penat dan fikiran yang terus berkecamuk. Namun belum 5 menit memejamkan mata, kudengar handphone-ku berbunyi lagi. Sekali, dua kali, aku mengabaikan untuk menjawabnya. Mungkin itu Hendri, fikirku dalam kesah. Tak bisa kusembunyikan betapa aku sangat mencintai sosoknya, dan aku merasa belum siap jika hanya dijadikan bahan permainan untuk menggantungkan rasa olehnya.

Lima belas menit kemudian, handphone-ku masih beberapa kali bergetar. Setelah kulihat ternyata telepon dari ibu felly, wanita yang beberapa kali meminta solusi dariku. Tadi aku memang sempat mengirim pesan ke emailnya dan memberikan nomor hp ku agar ia bisa bercerita langsung. Kulihat lagi ia juga mengirimkan beberapa MMS yang berisi foto-foto.

“Apakah Mbak Tessa bisa menebak apakah yang menyebabkan suami saya menjadi berubah dengan melihat raut wajahnya?” Tulisnya padaku.

 

Dan, entah fikiran apa yang tiba-tiba berkecamuk setelah kulihat beberapa foto darinya. Kubanting handphone-ku secara refleks. Rasanya aku tak bisa berfikir jernih lagi sekarang. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Lelaki yang kulihat sebagai suami ibu Felly dengan satu anak di dalam foto adalah Hendri, calon suamiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s