Pada Seorang yang Menamaiku Cinta

 

Hujan di pelataran begitu gagah merambah lembayung malam. Terus meninggalkan jejak untuk membuat setiap insan jatuh terlelap..laiknya merdu senandung pengantar, menuju altar mimpi yang membahagiakan. Aku kembali menarik selimut keduaku. Berusaha menyesap setiap hangat yang dihadirkan. Sembari menerawang jauh memikirkan hal yang baru saja aku sadari,.ternyata hidup lebih pekat dari lumpur duri yang menggeliat.

Dan kini, aku benar telah bersikukuh.. Tak peduli seberapa pantas aku untuk menghadap, aku memutuskan untuk mencarinya. Seorang yang hadirnya begitu aku inginkan, meski hanya sekejap dalam denting waktu, aku begitu ingin bertemu ayah. Tanpa sedikitpun rasa benci karena ia telah pergi meninggalkan kami, aku benar-benar tak peduli kini..

Esoknya, bunda hanya mengawasiku dari balik pintu kamar ketika melihat pakaian-pakaian yang berserakan di atas ranjang. Tak tega sebenarnya meninggalkan nya dalam kesendirian, namun aku yakin, bunda akan tetap bisa bertahan. Aku selalu mengagumi setiap titik kekuatan yang bunda miliki, bagaimana ia harus membesarkan aku seorang diri, ditinggalkan oleh seorang yg begitu dikasihinya, dan tak diakui lagi oleh seorang yang melahirkannya. Bunda selalu berusaha bersikap tenang dan dewasa meski aku tau usianya masih begitu muda. Karena itu aku tak pernah ingin menyalahkan nya atas kesalahan masa lalu. Toh semua orang pernah berbuat salah, tak perlu sesumbar sebelum tahu bagaimana banyaknya kesalahan dalam diri sendiri.

Tak lama bunda memanggilku pelan..

“Far.. Kamu benar ingin pergi nak?” Ucapnya sambil mengelus pelan helai rambutku.

” Iya ., Farah begitu ingin menemui ayah.”

Aku berusaha kuat meski rasanya begitu tercekat menahan tangis dalam haru.

” Jangan lupa untuk selalu menjaga diri. Bunda tahu farah seorang dara yang bisa bunda percaya.” Ucapnya lagi dalam sendu.

“Iya bunda..” Bunda akhirnya mengizinkanku pergi meski ia tetap bersikukuh tak mau memberitahuku satupun identitas tentang ayah. Terlalu sakit. Begitu katanya.

Kemudian..aku pergi meninggalkan bunda.

Satu minggu.. dua minggu..harapku tak kunjung mencapai angan. Akhirnya aku memutuskan untuk bekerja part-time agar dapat menyambung hidup disini.. Menjadi pelayan di salah satu cafe terkenal di kota ini. Hidup mulai memberiku banyak pelajaran..bagaimana sulitnya untuk bisa menyuap sesendok nasi, bagaimana sulitnya bertahan dalam kesendirian, dan bagaimana kesabaran begitu diperlukan untuk mencapai angan. Hingga lini masa pun terus berjalan..tak jarang banyak hal kecil yang membuat ku goyah dalam pendirian. Rasa ingin berbagi.. Yah, begitu mungkin aku bisa menggambarkan. Hingga pada suatu hari takdir membawaku pada seseorang. Mungkin Tuhan tahu, betapa aku membutuhkan seorang untuk bisa dijadikan sandaran.

Namanya Alif Vidiarta, seorang pengusaha yang bisa dibilang cukup sukses. Beberapa kali ia datang ke cafe tempatku bekerja hingga akhirnya kami saling mengenal satu sama lain.. Wajahnya yang lumayan tampan dan penampilan yang selalu rapi membuatku hampir tak percaya bahwa usianya telah mencapai kepala tiga. Usia kami terpaut begitu jauh 18 tahun,  namun aku selalu bisa nyaman setiap kali bertukar kata dengannya. Entahlah.. Sejak awal mengenal dunia kasih aku selalu menyukai seorang yang lebih tua dariku, ia bisa menjadi pelindung yang lebih terpercaya, begitu menurutku. Hmm..Pada awalnya aku pun sempat heran, mengapa ia belum beristri? Ah tapi sudahlah.. Yang terpenting kini aku tak lagi bosan menghadapi kelam dunia sendirian.

Alif membuatku begitu berhasil untuk terlalu mengaguminya. Dalam setiap tutur, tindakan, dan kasih yang selalu dituangkan dalam kelembutan. Hingga kini sampai pada bulan ke-6 hubungan kami. Pernah pada suatu kali aku cemburu melihatnya bersama kolega nya. Ia hanya menanggapi dengan tenang.

” Far.. Rasa ini masih terlalu padamu untuk bisa berpaling pada yang lain.”

” Tapi apa yang aku lihat terlalu menakutkan untuk dibayangkan. Kamu tahu kan, bagaimana aku..”

” Tak hanya kamu yang berjuang, sayang. Aku pun harus banyak mengerti untuk membiasakan perbedaan ini.” Ucapnya tenang.

Ah,ya.. Mungkin aku yang terlalu banyak bersikap olokan untuk fikiran sekelasnya yang telah dewasa. Aku pun mulai banyak mengerti bagaimana egois dalam diri tak perlu dipelihara lagi. Alif begitu mempunyai banyak cara untuk membuatku tenang. Seorang yang begitu membahagiakan. Dan kupercayakan apapun padanya. Hingga keinginanku untuk menemui ayah di kota ini telah pupus. Semua yang aku tinggalkan karena cintaku pada ayah tergantikan oleh seorang yang tak pernah kusangka akan hadir dalam saat-saat seperti ini.

Pada satu tahun hubungan kami, Alif memberiku sesuatu yang tak biasa dibanding sebelum-sebelumnya. Sebuah kotak kecil berwarna merah. Ah.. Dadaku serasa hampir meledak karena jantung yg berdegup begitu hebatnya. Katanya, “jika setelah hari ini tak ada lagi kata kemudian, maka pada detik ini izinkan aku untuk melekatmu dalam pengabdian”

Hmm.. Jika ditanya bagaimana rasanya?

Sangat sangat menyenangkan, sama seperti detik saat aku mengetahui aku masih memiliki ayah di dunia ini.

Bulan berikutnya aku memberanikan diri mengajaknya pulang untuk menemui bunda. Ia hanya mengiyakan dengan tenang seperti biasa. Saat di hari kami pergi, dalam genggamnya aku terus mengucap syukur. Aku hanya tak bisa membayangkan reaksi bunda ketika kami sampai nanti, mungkin ia akan terkejut gadisnya akan dipersunting. Haha, sudahlah.. mungkin fikiranku yang terlalu risau. Kemudian detik-detik berlalu, hingga pada saat bunda membukakan pintu untuk kami, ia begitu terhenyak mundur melihat genggamku.

” Farah, bagaimana kamu bisa menemukan ayahmu?” Ucap bunda dengan tatap nanar.

 

Dan aku hanya menatap kosong tak percaya. Pada siapa aku harus mempersembah rasa? Apa yang harus aku perbuat?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s