Perjalanan Senja

hipwee-ilalang-senja

 

Kak, kata apa yang tepat untuk menggantikan inisial namamu? Bulan, bintang, mentari, cemara? Emm, setelah bermenit-menit larut dalam kebimbangan, pada akhirnya kututupkan pilihan kala semesta menawarkan ide terbaiknya; senja. Tak buruk, bukan? Sejak usiaku beranjak menjadi seorang nona, entah mengapa rasanya menyenangkan sekali duduk berlama-lama di bawah semburat jingga saat petang menjelang. Ronanya hangat, menenangkan. Begitu kira-kira, seperti mawar yang selalu menyebut rinainya begitu istimewa.

Sebenarnya, sudah lama perasaan ini ingin kutuliskan dalam baris-baris aksara. Menyusunnya rapi-rapi, menjelaskan lebih detail, bahkan ingin segera melepaskan semuanya agar aku tak perlu terlalu lama merasa sendu seorang diri. Sanubari ini telah begitu kuyup oleh gerimis rindu akanmu. Berminggu-minggu deret ini terpendam beku dalam kalbu, tak dapat beranjak, bahkan mengaturnya agar tak meletup pun begitu sulit. Aku tak pernah ingin menjadi nona yang kasar. Barangkali itulah mengapa kemenangan selalu berpihak saat kompetisi menyimpan sesuatu dalam benak tengah berlangsung.

Semuanya mengalir begitu saja. Waktu berlalu begitu cepat, ‘kan? Seseorang yang begitu jauh bisa tiba-tiba menjadi yang paling dekat. Sebaliknya, seseorang yang begitu dekat bisa tiba-tiba menjadi yang paling jauh. Tanpa aral, tanpa salam, membawa konspirasi dalam tiap-tiap senja yang tadinya selalu kusukai.

Mari kita mulai bercerita,

rasanya aku perlu membangun sebuah bank kata untuk menyimpan banyak ungkapan-ungkapan. Betapa semua tentangmu tak pernah habis untuk kutuliskan. Mengenai asam, pahit, manis, sepah, dan semua kisah yang telah kamu patrikan dalam alur-alur kehidupan. Tentang perkenalan, tentangmu yang menyukai jus apel, tentangmu yang ingin pergi ke tepi sungai gangga, tentangmu yang selalu punya mimpi besar, ….. dan perihal lain yang tak habis diurai manis.

Ehm,

Kau menyukai permainan, bukan?

Kemarin kita sempat merencanakan untuk bermain dengan sebuah rumah yang pemiliknya belum pulang. Menerka-nerka bagaimana jika kita saja yang menempati di dalamnya?

Kita kemudian merencanakan untuk membangun sebuah istana. Katamu, dindingnya akan kuat berlandaskan ketulusan. Kusen pintu dan jendelanya akan kokoh dengan lapis kejujuran. Sebuah istana yang akan mewujud begitu megah, katamu dulu.

“Tetaplah disini, perjuangan bisa kapan saja menjadikan seseorang lelah. Maka jadilah penunggu rumah yang setia.” katamu saat itu.

Dinding pertahanan itu runtuh. Akhirnya kerangka besi yang ditanam kuat bisa ditarik mundur. Beberapa kerangkanya tersisa sedikit, lainnya hilang. Bahkan bola kristal yang kujaga erat akhirnya berhasil berpindah tuan sejak saat itu.

“Izinkan aku yang menjaganya.”

Aku hanya tersenyum.

Musim-musim kemudian berganti. Dan aku masih saja belum mengerti. Rasanya aku ingin lebih lama lagi disini. Membiarkannya untuk pertama kali menjadi penghuni. Rasanya memang istimewa kan? Sampai-sampai hitam dan putih tak lagi terlalu berbeda menurutku. Aku selalu menyukai saat-saat itu. Membenamkan segala rasa dan kepercayaan hanya untukmu. Tak lagi peduli pada semesta yang terlihat berulangkali mencibir ke arahku.

“Jangan terlalu dipikirkan. Ia patut diperjuangkan kan.” Begitu ucap salah satu sisi dalam sanubari berbisik.

Namun kemudian sesuatu berganti. Rona hangat itu telah lenyap,digantikan dengan awan mendung, warnanya kelabu. Kali ini lebih meruntuhkan, sampai ke syaraf. Aku ingin menangis, menahan sesak, namun bulir itu tak kunjung turun. Ia menumpuk, tak larut sampai beberapa bulan setelahnya. Terlebih saat seseorang mengungkap suatu alasan,

“Dinding penyekatmu terlalu mudah untuk dirubuhkan. Tak punyakah kau sesuatu yang lebih kuat untuk menjaga? Kau terlalu mudah diraih, sama seperti yang lain.”

Apa katamu? bahkan dari beberapa tamu yang mengetuk hanya engkau yang diizinkan masuk. Inikah yang selama ini kau alami sebenarnya? Yang selama ini kaukisahkan di tiap-tiap hari?

Benteng yang masih berusaha kututup rapat akhirnya meluap kala itu. Sesaknya menjadi lebih tak tertahankan. Malu, sebenarnya, harus terlihat begitu menyedihkan di bawah rimbun cemara hanya karena meratapimu.

Beberapa orang kemudian datang,

“Kamu nggak apa Na?”

“Na nggak biasanya kayak gini, kenapa?”

“Na lagi ada masalah?”

“Na…,”

Aku memilih bungkam. Rasanya masih terlalu tertatih untuk menyusun kepingan yang akhirnya benar-benar menjadi serpihan tak utuh. Bagaimana aku bisa menyusunnya seperti sediakala?

“Matahari masih akan tetap bersinar, kau hanya perlu tetap bangun.”

Aku menggeleng tak percaya. Semudah itu menurutmu?

Sejak saat itu senja kala petang selalu menjadi terlihat menyeramkan. Mengingatkan pada bayang yang langsung hitam. Aku menyerah. Baik, berhentilah menjauh, aku sudah tau caranya berjalan mundur.

Perlahan-lahan aku mulai melepaskan, meski rasanya membuatku serasa ingin membunuh waktu.  Mencoba kembali tenang kemudian bangkit menyusun kembali kepingan yang telah porak poranda diterpa badai. Aku juga mencoba mengabaikan semua tentangmu. Termasuk perihal seorang gadis baru yang katamu begitu menyenangkan sebagai teman berbincang. Pernahkah kau terpikir seperti apa rasanya?

Bagaimana rasanya mempersembahkan sesuatu istimewa namun tak dianggap berharga? Meski dalam diam .., aku tak pernah ingin menyalahkan takdir, apalagi berniat mengabaikan perintah Tuhanku dalam surat Al Isra ayat 32. Bukan, bukan itu maksudku.

Setidaknya kau bisa membuat alasan yang lebih baik. Meletakannya pelan-pelan agar Kristal ini tak sampai hancur.

Aku tak pernah bermaksud merasa menjadi yang paling menderita di sini. Seperti ungkapan Zainuddin pada Hayati “Demikianlah perempuan, ia hanya ingat kekejaman orang pada dirinya walaupun kecil, dan dia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya.” Aku masih bisa mengingat, dan mulai bisa menyadari. Mungkin aku pun yang telah salah. Mungkin ini balasan atas kesalahanku di masa lalu, mungkin ini sebuah teguran, atau entahlah. Namun jika hukum penyembuhan luka diberlakukan, ada seseorang yang menurutku lebih pantas mendapatkannya lebih dahulu. Mungkin aku akan masuk urutan kesekian.

Mungkin keputusanku juga salah, membiarkan  sang maha cinta dibakar cemburu saat menit-menitku dipenuhi oleh segala tentangmu. Membiarkan pertahanan ini tak lagi terkendali, membiarkan semuanya terlewat begitu saja. Ah …, aku yang salah, telah meletakkan begitu banyak harapan di bahumu. Padahal beberapa kali pernah kubaca pernyataan Imam Syafii, “Ketika hatimu terlalu berharap pada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepadaNya.”

Aku yang terlalu banyak berharap, ‘kan?

Sampai detik ini akhirnya terlewati, musim masih belum berubah. Selalu ada pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh waktu. Setidaknya perlahan aku telah mulai bisa mengendalikan hati, meski namamu tetap tak hilang. Langkah ini telah menemukan jalan terbaik untuk bermuara. Ternyata Ia; Illahi Rabbi lah yang benar-benar maha cinta. Yang tak pernah mengecewakan meski diri ini belum bisa menjadi sebaik-baiknya hamba, yang selalu mau mendekap meski kesalahan terus merapat, dan yang paling utama Ia yang selalu menyayangiku tanpa syarat, tak ada habisnya.

Aku telah benar-benar berhenti saat ini, terimakasih untuk waktu yang telah terlewat, Kak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s