Secangkir Manis yang Tersisa

imagesnn

Kota Rindu, Desember 2015

Dear, Gema.

Hujan belum meneteskan sejuknya kembali sejak kali terakhir aku bisa bersua denganmu. Bilik jendela ini menjadi sangat bersedih, seperti gambaran kalbu kelabu yang membuatku semakin hampa, terlebih ketika mengetahui kamu pergi begitu jauh. Rasanya detik berlalu begitu cepat. Hanya satu minggu, sejak hari saat cincin ini kau sematkan di jari manisku. Setelah ikrar suci yang kita inginkan setengah mati. Dulu.

Kamu sedang apa, Gema?  Cemara di tepi pagarku masih begitu gersang saat angin datang menerpanya. Begitu rapuh, laiknya hari-hari terakhir yang kita lewati bersama beberapa minggu lalu. Terlebih saat kamu tak pernah datang lagi untuk sekedar membuatnya sejuk dari rintik yang selalu jatuh dari tanganmu.   Hhh…, masih bolehkah aku berkesah?  Aku merasakan sesuatu yang begitu berbeda, Gema. Banyak, tak bertepi, tak terlukiskan. Mungkin hanya aku dan Tuhan yang bisa membayangkannya. Apakah ini terlalu berlebihan? Ataukah euphoria yang membuatku menjadi gelisah tak beralaskan lagi? Entahlah, aku masih terlalu sibuk untuk menata batinku agar tak menjadi redup.

Gema, masih ingatkah kamu pada setiap manis pagi yang tertinggal pada bibir cangkir? Aku tak bisa menemukannya lagi kini, kopi ini tak bisa lagi menawarkan nikmatnya, syg. Menjadi jauh lebih pahit dari sesuatu yang kurasakan sebelumnya. Menjadi minuman terburuk yang pernah aku ketahui. Karena kamu, yang begitu jauh, hingga hanya meninggalkan sesepah manispahit tanpa mengatakan apapun pada rindu yang selalu merasa kesepian.

Gema…, Siapa yang menemanimu kini?  Masihkah ada seorang yang selalu membuat hangat pagimu disana? Bagaimana rasanya menjadi sendiri? Sepikah? Bagaimana caranya agar aku bisa mengunjungimu? Aku begitu merindukan pada setiap dekap yang menenangkan sanubari, begitu merindukan aksara yang selalu membuatku tak pernah lupa. Acakan tangan di helai rambutku, kasih yang selalu kamu tawarkan saat jemu menghampiri, senyum yang tak pernah hilang meski aku begitu menyakitkan. Seperti lelah dipeluk bayang tak pasti, begitu kira-kira. Ini seperti mimpi buruk yang tak pernah diharapkan.  .

Akankah kamu pun merana?  Gema.. aku tak ingin lagi menyingkap kenangan yang kamu taburkan begitu manis. Memeluk semu setiap bagian yang mengingatkan tentang masa kita. Bolehkah aku berhenti berharap? Aku terlalu lelah menghabiskan hari tanpa kekuatan, menginginkan bayangmu hadir hingga rasanya seperti menggapai awan. . .

Terlalu dalamkah? Tapi ini benar-benar melelahkan. Aku hanya bisa menjanjikan sepatah kenang, Gema.

Kamu takkan pernah mati dalam jiwa.sampai waktu-waktu yang akan segera terlewati.  Aku menyayangimu.

-Shei

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s