Secarik Surat Duka

Semilir sejuk masih menjalar dalam setiap bilik nadi, keadaan yang masih begitu senyap membuatku semakin merasa betapa sepinya semesta bagi jiwa yang terus melemah kini.  Terlalu menyedihkan-kah diri ini? Ah, mungkin sanubari yang terlalu berlebihan menyematkan sendu dibalik rasa yang semakin kaku.

Aku menyeruput kembali secangkir coklat panas yang dibuatkan ayah. Berusaha menikmati setiap rima yang dihadirkan semesta, hangat coklat dan sejuk angin yang menyapa, membuatku merasa begitu tenang saat ini. Setidaknya untuk melupakan semua masalah-masalah kehidupan yang menurutku begitu pekat jika harus terus menerus diresap hati.

Masih sambil menyesap ketenangan dari semesta, aku memperhatikan Kak Arya yang tengah memanaskan motornya. Aku begitu kagum pada sosoknya kini, Kak Arya adalah satu-satunya orang yang begitu mencintaiku kini selain ayah, terlebih semenjak ibu meninggalkan kami sejak 10 tahun yang lalu karena kecelakaan, ia harus berusaha untuk bisa kuliah sambil bekerja agar bisa menghidupi aku yang tengah sakit lupus yang komplikasi dengan gagal ginjal dan ayah yang kondisinya semakin menua.

Sebenarnya aku begitu ingin membantunya untuk bisa mengais nafkah. Tetapi apalah yang bisa aku lakukan, semenjak penyakit ini menyerang beberapa tahun yang lalu, tubuhku semakin melemah dimakan oleh imun yang lama-kelamaan menjadikanku hanya balung. Yang bisa aku lakukan hanyalah terdiam dan berpangku tangan.

“Keyla.. ” Terdengar suara Kak Arya menghampiriku.

Aku berbalik kemudian tersenyum padanya.

“Iya kak? Kakak udah mau pergi?”

“Iya.. Nanti kakak pulang lebih sore, kemarin mang hadi menawarkan sedikit pekerjaan tambahan sepulang kuliah. Keyla baik-baik ya di rumah.”

Aku hanya mengangguk lalu kak arya lalu mengusap rambutku pelan.

“Hati-hati kak..”

Tak lama Kak Arya berlalu dari pandangan mata. Aku mencoba beranjak dari kursi roda untuk menguatkan kaki, hmmhh, rasanya seperti dikecam belati. Tak kuat menahan sakit yang semakin menjadi, akhirnya aku memutuskan kembali ke kamar. Belum sampai masuk ke pintu depan, di sisi rumpun bougenville, aku kembali menemukan secarik amplop berwarna biru. Amplop yang sama dengan minggu-minggu yang lalu. Surat ini selalu datang setiap hari sabtu semenjak 6 bulan lalu ketika aku tengah merasa terpuruk hebat karena rambutku hampir habis dan tak ada lagi teman yang mau menemaniku.

 

Oh, ya… Pengirimnya bernama Rama. Hanya kak Arya yang mengenalnya namun tak pernah mau memberitahuku. Aku tak tahu darimana Rama bisa mengenalku dan tiba-tiba mengirim surat-surat biru yang membahagiakan jiwa. Berulang kali aku berusaha menunggu siapa yang meletakkan surat-surat itu di rimbun bougenville halaman rumah, namun aku tak pernah berhasil menjumpainya. Meski begitu, Rama selalu bisa membuatku yakin bahwa hidup tak berhenti hanya karena lupus yang membayangi. Ia juga selalu memberi saran-saran obat herbal untuk membantu mengurangi sakit. Setidaknya itu membantu menghilangkan nyeri yang rasanya menjaram. Aku membuka surat itu sembari tersenyum.

 

 Teruntuk keyla; sahabat yang membahagiakan jiwa.

 

  Key, sedang apa kamu disana?

Masihkah duka-mu menguatkan rasa untuk meregang jiwa? Ah., pasti tebakanku salah, kan? Rama yakin, Keyla adalah seorang yang terlalu kuat untuk berlarut-larut dalam nestapa.  

Key.. Aku telah mencoba saranmu di surat sebelumnya untuk memberikan seikat mawar putih dan sepucuk surat kasih pada ibu sebagai tanda maaf. Dan kau tau? Ia begitu terharu sesaat setelah me mbaca suratku key. Dan aku menjadi begitu lega setelahnya. Seperti yang kau katakan selalu, ibu adalah permata jiwa yang paling berharga untuk dijaga.

  Key.. Setelah semua hal di atas, sebelumnya aku ingin meminta maaf jika nanti aku tak bisa menjadi pendengar kesahmu lebih lama lagi. Tapi percayalah, Rama selalu percaya keyla adalah seseorang yang kuat. Key pasti bisa melewati fana dunia ini sampai waktu-waktu yang akan terlewati nanti.

                                                                                                Salam sayang untuk key.

                                                                                                Rama

 

Aku tertegun membaca suratnya, ada rasa aneh yang tiba-tiba menyeruak. Kemanakah ia akan pergi? Aku telah begitu nyaman dengannya kini, meski aku tak pernah tau sosoknya, namun entah mengapa aku begitu percaya dengan semua ini. Sorenya, kak arya kembali dengan wajah cerah.

“Keyla, kenapa sendiri di luar? Ayo masuk, cuaca sedang tidak baik untuk kondisimu. Hmm, dimana ayah?”

“Ada dikamarnya kak sedang sholat..”

” Kamu, kenapa ditekuk begitu mukanya?”

” Keyla merasa semakin rapuh kak, pasti tak ada lagi seseorang yang ingin dekat dengan key”

“Kata siapa? Kak Arya begitu sayang pada key, bahkan lebih menyayangi key dari apa-apa yang kakak punya sampai waktu-waktu yang akan berlalu nanti. Jadi, keyla harus tetap tersenyum. Oh, ya… Key, ada berita baik. Kakak telah menemukan seseorang yang akan menyumbangkan ginjalnya untukmu. Yah..walaupun tidak seberapa, setidaknya kakak berharap itu bisa mengurangi penderitaanmu untuk menahan sakit yang membuat semakin melemah”

“Iyakah? Syukurlah kak, key senang mendengarnya” aku mengusap pundak Kak Arya dengan mata berbinar.

“Kakak juga mendapat tambahan pekerjaan malam, dan uangnya lumayan .. Bisa untuk biaya operasi key nanti..atau membeli keperluan tambahan ayah.”

Kali ini aku menghela nafas panjang mendengarnya.

“Kerja malam? Bukankah itu terlalu beresiko, kak..? key takut Kak Arya sakit karena terlalu capek nantinya..”

“Tak apa.. Key tak perlu khawatir berlebih, Kak Arya akan melakukan apa saja demi key dan ayah, karena itu key harus yakin key akan bisa sembuh.”

Aku hampir meneteskan bulir bening dari pelupuk mata setelah mendengar kata-katanya, betapa Kak Arya begitu tulus merawatku meski harus berpeluh-peluh siang dan malam.

Hari-hari berikutnya..

Aku kembali disibukkan dengan membalas surat-surat beramplop biru yang kembali datang. Meskipun aku tak pernah melihat Rama sebelumnya, setidaknya kehadirannya melalui surat-surat ini bisa menjadi pelipur lara untuk mewarnai hari. Apalagi Kak Arya saat ini menjadi lebih jarang pulang, bermacam-macam ha l menjadi jawabannya saat kutanya mengapa. Rapat kampus, pekerjaan tambahan, dan hal-hal lain. Aku menjadi semakin dekat dengan Rama karenanya.

Hingga suatu siang, aku kembali menemukan secarik kertas dibalik rimbun bougenville di halaman depan. Aku bersegera mendorong kursi rodaku berusaha menggapainya.

 

“Keyla, semoga semesta akan terus berbaik hati membagi kebahagiaan padamu. Jangan pernah menyerah pada hidup, karena nafas yang berhembus saat ini adalah anugerah terindah dari tuhan.”

                                                                                                                        -Rama-

Aku hanya tersenyum membacanya kemudian menulis balasannya.

 

Teruntuk Rama; seseorang yang begitu peduli pada usangnya jiwa ini.

 

   Key begitu mengharapkan harap-harapmu bisa diwujudkan tuhan, aamiin. Terimakasih untuk sinar yang senantiasa rama berikan melalui deret aksara. Key menjadi lebih tegar menjalani penyakit ini. Doakan saja yang terbaik untuk key, semoga rama tak pernah bosan mendengar setiap kesah yang hadir.

                                                                                                                                    Key

Aku melipat lembaran balasanku kemudian dengan tersenyum memasukkannya kembali ke amplop biru. Aku merasa begitu bahagia hari ini. Bisa mempunyai seseorang seperti Rama yang mengerti, dan semalam Kak Arya juga memberitahu kalau ia akan menghabiskan waktu di rumah semalaman ini setelah sekian lama sibuk dengan beberapa hal sampai akhir-akhir ini ia menjadi sering batuk-batuk hebat. Kak Arya pasti menjadi begitu lelah kini. Ah.. Aku telah berencana untuk berusaha membuatkannya coklat panas ter-enak sore ini. Aku tak sabar membayangkan betapa menyenangkannya waktu nanti.

Sesaat kemudian, aku tengah mengambil botol lem ketika tiba-tiba ayah memanggilku tergopoh-gopoh.

“Keyla, kakakmu kecelakaan. Ayo cepat keluar” kata ayah cemas.

Bagai disambar petir aku berusaha menguatkan diri untuk bergegas kedepan, aku melihat banyak teman-teman kak arya yang segera menggendongku menuju ke rumah sakit. Disana aku menemukan Kak Arya telah ditutupi oleh kain putih. Tak bisa dibayangkan betapa terpuruknya aku melihat semua itu, rasanya dunia telah kembali berputar membuatku berada di sudut terbawah.

Minggu-minggu pun berlalu.

Aku mengunjungi kamar Kak Arya untuk melihat terakhir kalinya apa-apa yang masih tersisa, hari ini aku dan ayah akan pindah ke rumah tante Naya, adik ayah yang paling bungsu, ia bersedia mengajak kami untuk tinggal di rumahnya. Dan karena rama tak pernah lagi mengirimkan surat-suratnya, aku pun hanya mengangguk menyetujui ajakan tante.

Aku membuka laci terbawah lemari Kak Arya, dulu ia pernah berkata kotak ini tak boleh dibuka karena ada banyak barang rahasianya. Aku pun membukanya dengan hat -hati. Dan tak sampai 2 menit kemudian, mataku membelalak ketika didalam notes kak arya kulihat amplop-amplop biru dan kertas-kertas yang sama seperti yang pernah Rama kirimkan padaku. Disitu juga ada lembar-lembar surat yang salah dan hanya tersimpan sebagai draft. Dan yang paling mengejutkan, aku menemukan hasil pemeriksaan lab yang menyatakan Kak Arya terkena kanker otak.

Aku meneteskan bulir bening ketika mengingat semuanya, betapa inginnya kak arya membuat aku terus hidup hingga mengirimkan surat-surat penyemangat dan berpura-pura menjadi Rama. Betapa ia tak ingin membuatku dan ayah menjadi cemas hingga membuat skenario bahwa ia kecelakaan padahal ternyata ia mengidap kanker otak.

 

Dalam hening aku kembali memeluk surat-surat yang kini menjadi surat duka dan bingkai-bingkai foto keluarga kami yang berserakan disebelah notes. Dengan jiwa tercekat sanubari ini berusaha tetap kuat dan mengingat kata-kata terakhirnya, “Jangan pernah menyerah pada hidup, key. Karena nafas yang berhembus saat ini adalah anugerah terindah dari Tuhan”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s