Tentang Melepaskan

Aku pernah mneemukan diri tengah termenung, sendiri

menambah kelam pendar remang-remang dari cahaya lampu yang berujar hanya temaram.

 

Aku pernah menemukan diri tengah gundah, melara.

berusaha berdamai dengan hati yang semakin menepi tak ingin lari

 

Rasanya hampa,

kosong seperti semesta yang tak berisi.

Hanya ada sayup-sayup pelan yang membisikkan bahwa dunia tak begitu kelam

 

Kemudian suaranya mendekat

tak lagi hanya sayup yang dihembus angin

ia berwujud

dengan mata yang begitu teduh

senyum yang begitu luruh,

dan jiwa yang seolah tak pernah berisi keluh

 

Lalu angin berhembus lagi

membawanya turut serta bersama helai-helai di pucuk cemara

hanya meninggalkan repih yang berbalut duka

aku menjadi begitu ternganga

bagaimana bisa kebahagiaan datang begitu singkat kemudian pergi sekenanya?

 

mungkin roda telah kembali berputar

atau denting jarum jam telah telah berbalik memutar

atau mungkin sesuatu telah membuatnya pudar

atau entahlah

kabutnya masih terlalu datar kala berpendar

aku hanya meninggalkan seulas senyum dari lara yang kau sisakan begitu duka

 

sejenak kemudian

engkau kembali datang

bersama secangkir latte yang disuguhkan begitu menawan

 

lalu kau menyapa dengan sedikit kebingungan

“Mengapa kau menjadi terlalu hitam? tunggu, sayang. tak bisakah kau tebalkan lagi bagian rona putih kehidupan?”

 

“Aku memang tengah kecewa, rasanya semua harapan telah pergi, meninggalkan ragaku kembali terdiam dalam sepi.”

 

“Bukannya pergi, aku hanya ingin lebih meyakinkan lagi.

 

Mencintai hati bukanlah perkara yang sempit, sayang.

ia bisa berwujud dalam bentuk apapun.

dari sajak yang terlihat paling sendu, hingga malam yang terlihat paling biru.

 

Mungkin kau belum terlalu mengerti.

Baiklah, izinkan aku berkesah sedikit mengenai cinta.

tak perlu gugup,

duduklah sejenak, nikmati cangkir latte kesukaanmu sembari mendengarkan ceritaku,

 

sudah?

Baiklah. Jadi, mencintai ternyata bukanlah perkara saling mengikat,

bukan pula perkara saling menggenggam.

bukan hanya ingin utuh-utuh memiliki.

Cinta yang datang di usia belia memiliki paradigma tersendiri dari cara mencinta.

 

bukan tentang apa-apa, namun bagaimana cara melepaskan dengan ikhlas agar hatimu dan hatinya merasa lebih bahagia.

 

Semakin erat kau ingin menggenggamnya bulat-bulat, semakin pekat pula harapan semu yang akan kau bawa. dan yang terlalu sering membuatku takut, suatu waktu harapan itu bisa berwujud menjadi ribuan kunang-kunang yang membahagiakan, tapi di waktu yang lain ia bisa berwujud menjadi pisau tajam yang meenyayat hingga menyemat rapat.

 

Apa enaknya terlalu berlebihan sakit hati?

Mungkin nanti.. dunia mu akan menjadi selalu tentangnya

Mungkin nanti., makananmu tak akan lezat tanpa seulas pesan darinya

Mungkin nanti.. semua hal menjadi terlalu buruk tanpa hadirnya

dan mungkin-mungkin lain yang akan begitu banyak bermunculan pada akhirnya”

 

Aku mengalihkan pandangan dari gerimis yang semakin suram.

“Jadi maksudmu, aku harus berdiam saja kala hati tengah murung saat harap-harapku menjadi sesuatu yang dapat digantung?”

 

“Bukan berdiam saja..

begini,

bukankah kau meletakkan keyakinanmu pada kalimat “belah tulang rusukmu tak mungkin tertukar”? bagaimana dirimu mendefinisikan kalimat itu?

 

hmm

menurutku, seerat apapun seseorang berusaha mendekap, jika tuhan tak mengizinkan eratnya pun akan menjadi tak rapat.

dan..

bukankah kau juga yang mengatakan padaku kemarin,

bahwa Tuhan adalah dzat yang benar-benar maha membolak-balikkan hati?

 

jadi, menurutku..

tanpa kau memintanya untuk berjanji akan sehidup semati pun, jika ia memang untukmu, waktu kan tetap membawanya kembali.

 

Mungkin,

Kau hanya perlu menunggu.

Sebentar lagi.

Agar hatimu tak perlu banyak menyecap luka-luka keruh

Agar fikiranmu tak jadi legam karena rasa curiga yang begitu bergemuruh.”

 

Aku menatapnya tak bergeming.

Sesederhana itu,

Serupa sajak yang dirapal malam.

 

Lalu kuletakkan hati pelan-pelan

Membiarkan angin berhembus pelan.

Kutatap mendung yang tak lagi terlalu murung

Ternyata mencintainya tak sesulit yang kukira.

Hanya sesederhana itu.

Tentang melepaskan.

Lalu memberi kesempatan pada jiwa untuk kembali berbahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s