yfp

sampan.jpg

 

/I/

Sampanku takkan layar sampai kau tiba, Tuan.

Hari-hari kayunya kubersihkan dengan daun-daun di bawah rumpun. Pun Remah-remah elang datang kuenyahkan dengan ranting agar kau kelak punya tempat terbaik untuk berpulang. Kau tak tahu, kan? Angin-angin sering mengabarkan ihwal kau yang selalu terpikat dengan kesederhanaan.

 

/II/

Dari kemarin,

laut sudah ribut-ribut saja menyuruhku berlayar. Padahal aku lebih ribut lagi menggulung ombak dan bilang tak akan pergi sebelum kau datang. Kubilang aku ingin menunggu segenap ganjilmu saja. Tapi ombak malah memanggil hujan agar aku cepat-cepat melengang. Katanya nona-nona merepotkan saja minta dikerik tiap hari karena rindu. Mereka jahat kan.

 

/III/

Ah, tenang saja.

Aku pun masih perlu banyak berbenah. Tak perlu buru-buru pulang. Ada banyak hal yang mungkin nanti perlu dijadikan bahan-bahan untuk hidup. Tak hanya bolu lapis yang punya takaran. Katamu, hidup juga perlu banyak belajar agar seimbang. Jadi, Jemputlah kalau nanti kau sudah selesai dengan dirimu.

/IV/

Aku mencanduimu.

Sampai bila-bila.

 

Ps: kalau perjalananmu sulit, jangan lupa curhat-curhat sm Tuhan.

 

-Annisa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s