Cerita Anter Manten dan Impian Seorang Gadis


Barakallahu laka alaikuma wabaraka alaika wa jamaa bainakuma fi khair Om Riko dan Tante Mia💙

Hari ini adalah hari yang sakral bagi keduanya. Tante Mia terlihat cantik sekali. Ia meneteskan bulir-bulir bening, namun senyumnya merekah, lebih indah dari edelweis yang sedang mekar. Pancaran dan binar matanya melengkapi. Mungkin rasa Hatinya sedang mengungkapkan bahagia yang meletup-letup. Pengantin laki-lakinya juga tampan. Ia terlihat gagah mengenakan pakaian adat Sumatera Selatan. Senyum penuh getar terlukis di wajahnya. Mulutnya sibuk merapal sesuatu. Mungkin ia ingin ‘pembuktiannya’ terasa utuh jika nanti tak gugup saat melafalkannya. Lebih dari itu, bahagianya tentu terlukis sempurna sebab akhirnya bisa mengungkap keberanian untuk menikahi gadisnya. Membuktikan kata cinta yang selama ini tersimpan. Ia pun pasti sedang meledak-ledak hatinya. Aku tersenyum.

Barangkali, setiap gadis pernah memimpikan paling tidak satu kali dalam hidupnya bahwa hari ini akan terjadi. Hari yang telah lama dinanti-nantikan. Hari dimana ikrar suci jadi kalimat terindah yang akan terdengar. Hari dimana ada seorang lelaki asing yang penuh keberanian datang meminta tanggung jawab atas seorang gadis dipindahkan dari ayah pada dirinya.

Hmm. Apa yang tersadari selama ini, Ternyata cinta tak sesederhana yang dikatakan orang kebanyakan. Tak semudah pengucapan aku cinta kamu dan aku sayang kamu. Tak selucu nonton warkop DKI bersandingan lalu tertawa berdua. Tak semanis menikmati eskrim coklat di bangku taman lalu bercanda berdua. Tak senyaman ungkapan perhatian dan rindu yang diungkap tiap-tiap malam. Ternyata cinta tak sesederhana itu.

Aku pernah berpikir panjang. Bagaimana cinta yang sebenar-benarnya cinta seharusnya didefinisikan? Teman-temanku bilang, cinta yang sebener-benarnya ialah cinta sejati; ialah cinta sukarela antara orang-orang yang menyimpan kasih. 

Jika cinta sejati adalah perihal rindu yang tak pernah habis , maka apakah rinduku tiap-tiap malam padamu sudah bisa disebut cinta? Jika cinta ialah perihal rasa takut jauh dan takut kehilangan, maka apakah keputusanku untuk melepas agar dapat lebih dekat ini tak bisa disebut cinta? Jika cinta adalah perihal kesederhanaan rasa, maka apakah rasaku yang tak pernah sederhana padamu ini tak bisa disebut cinta?

Ah, aku pun masih sering bingung.

Mungkin kali ini aku harus mengakui. Ternyata perkara mencintai adalah sebuah kata kerja yang memiliki tanggung jawab besar. Mencintai ialah perihal memilih seorang yang akan menyempurnakan separuh agama. Mencintai ialah perihal memilih teman berbagi suka dan duka seumur hidup. Teman berbincang, menangis, dan tertawa sepanjang masa. Mencintai membutuhkan keberanian, membutuhkan keseriusan, dan membutuhkan pengorbanan. Bagaimana bisa dua orang yang berkata saling mencintai bisa berkasih-kasih janji setia tanpa pengorbanan dan pertanggungjawaban untuk menikahi?

Dari hari ini kemudian aku belajar. Ternyata masih terlalu banyak hal yang perlu dipelajari untuk berani mencintai. Untuk berani mengungkapkan cinta. Untuk memaknai arti cinta itu sendiri. Maka jika keberanian itu belum muncul dari hati, mungkin jalan sebaik-baiknya ialah berdoa. Berdoa agar Ia kelak dapat menemukanku dalam kondisi yang baik, dalam penantian penuh harap-harap baik, dan dalam cinta yang penuh makna.

Rumah rindu,

 April 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s