Teka-Teki Ujung Hujan


Februari 2018

“Keyla! Jangan cepet-cepet dong. Aku capek nih.” 
Gadis kecil berambut panjang sebahu yang dipanggil menoleh sebentar. “Ah kamu mah, masa segitu aja udah capek. Kata mama, cowok nggak boleh cengeng. Huuu.”  

Ia lalu kembali melanjutkan langkah dengan menengadah. Tangan mungilnya menampung rintik hujan yang turun. Sesekali ia melompat-lompat sambil tertawa riang. Gigi-gigi kecilnya berbaris rapi seperti mentimun ranum, putih bersih. Gadis kecil ini selalu suka saat hujan datang. Syal hijau kesukaannya sampai pudar karena selalu dibiarkan kuyup.

“Sebenernya kita mau kemana sih, Key?” Akhirnya Kevin berhasil mengejar. Nafasnya terengah-engah meskipun bajunya kuyup oleh hujan. Mereka sudah berjalan sepanjang kebun teh. Tapi belum menemukan apa yang dicari. 
“Cari ujung hujan.” Keyla berkata sambil meringis. Kevin hanya melongo keheranan.
“Ujung hujan? Ngapain dicari?”
“Penasaran, hehehe. Aku pengen berdiri di tengah-tengah perbatasan hujan sama reda. Gimana ya rasanya?” Mata beningnya menerawang jauh ke langit.
“Rasanya hujan ya basah Key. Rasanya reda pasti kering.”
“Ah kamu mah nggak ngerti. Teka-teki ujung hujan itu kan ada artinya.”
“Emang artinya apa?”
“Kata kak Fira, kalau mau dapat awal yang baik, maka lepaslah dengan baik. Melepas untuk kembali. Ya gitu deh. Aku juga nggak terlalu ngerti. Tapi seneng aja denger kata-katanya, hehehe.”
“Iya deh terserah kamu aja. Aku nggak penasaran week.”
Keyla masih menatap gerimis yang tumpah dari langit. Sejenak kemudian mata bulatnya menoleh ke arah anak laki-laki yang sejak tadi menemani sambil bersungut. “Vin, kalau nanti kamu udah dapat banyak teman baru di Amerika, jangan lupa sama aku ya. Cari aja aku di ujung hujan. Hehe.” Ia meringis lagi. Rambut ekor kudanya basah bergoyang-goyang ditiup angin.
Kevin tertawa. “Key, nanti aku mau nikah sama kamu aja. Biar bisa kayak Kak Fira dan Kak Fauzan.”
“Emang anak kecil udah boleh nikah?” tanyanya polos. Namun kali ini matanya membelalak cepat.
“Ya kan nanti kalau kita udah besar.”
Keyla diam sejenak.
“Kalau gitu … aku mau nikahnya di ujung hujan aja. Hehehe.” Tangannya menengadah ke langit lagi. Tetes-tetes air masih turun.
Kevin melengos ke arah lain. “Kamu aneh banget sih, Key.” 
                           •••

Februari 2026.

Awal-awal tahun ini dibuka dengan sederetan tugas kuliah yang cukup membuat banyak mahasiswa tepar. Masa tugas Papa Kevin di Amerika sudah berakhir satu tahun lalu. Belum lama ini mereka memutuskan untuk kembali menetap di Indonesia. Rumah pertama yang dituju remaja lelaki yang beranjak dewasa itu tentu saja rumah Keyla. Namun ia tak mendapati apa-apa. Kata tetangga di sebelah rumah, Keyla sudah pindah tiga tahun lalu. Tak terdengar lagi kabarnya.

Kevin belum menyerah. Setiap ada waktu senggang di sela-sela bimbingan skripsi ia masih mencari tahu dimana keyla. Berpuluh-puluh ujung hujan dicarinya untuk menemukan gadis itu. Namun sampai detik ini tak seorang pun yang tahu dimana keyla dan keluarganya. 

“Kevin! Istirahat dulu kali. Ngga tepar lo jalan mulu daritadi?”
“Lagian lo lagi nyari apa sih sebenernya? Pucuk daun teh terbaik?” ucap lelaki berkaus biru tak jauh di belakangnya.
Kevin tertawa. Potongan Rambut cepaknya basah. Tetes-tetes hujan mengalir dari ujung-ujungnya.
“Nyari ujung hujan. Gue masih penasaran, sepuluh tahun nyari ga ketemu juga.” Lelaki itu akhirnya emmutuskan duduk saat melihat batu besar di hadapannya. Kepalanya masih sakit juga berjam-jam berjalan meskipun beberapa tahun terakhir sering hujan-hujanan. Pertanyaannya masih sama. “Dimana ujung hujan? Dan … Dimana, Keyla?”
“Jadi, selama ini lo suka hujan-hujanan gara-gara mau nyari ujungnya doang?”
“Iya.”

Kedua temannya menepuk kening masing-masing.
“Gue pulang Bro. Ada janji lain. Tungguin aja nih temen lo yang masih aneh. Ngapain juga kali nyari ujung hujan.”

                           •••
“Dek, kakak mau tanya dong.”
“Tanya apa?”
“Di mana ya bisa ketemu ujung hujan?”
Kening adiknya mengerut. “Buat apa emang? Bahan penelitian kakak berhubungan sama ujung hujan?”
“Nggak lah dek.” Ia menepuk pundak adiknya agak keras. Adiknya meringis kesakitan. 
“Kamu masih inget Kak Keyla? Kakak cari dia dua tahun ini. Tapi ga pernah ketemu. Dulu, dia pernah bilang kalau mau ketemu harus cari ujung hujan.”
Haura memutar bola matanya ke kiri sejenak. 
“Lihat aja dari pesawat Kak, kan ntar ketemu ujung awan yang mendung sama yang cerahnya.” jawab haura sekenanya. Kakaknya akhir-akhir ini memang agak aneh.
“Serius dek!” Matanya melotot.
“Ih ya mana ada Kak? Dimana kali cari ujung hujan. Mungkin ada filosofi yang disimpan dibalik itu.”
“Menurut kamu, kira-kira artinya apa?”

“ada beberapa pertanyaan yang hanya bisa dijawab semesta. Misalnya, mengapa air hujan bisa turun bening, padahal dia berasal dari awan yang mendung. Begitupun pertanyaan kakak tadi. Kalau menurut haura nih, ya. Ujung hujan berarti sebuah akhir yang harus dimulai kembali dengan cerah. Seperti Hati kita yang sangat luas akan selalu punya masa akhir. Setelah melepas bagian akhir itu, kita akan memulai masa baru yang lebih baik. Mungkin, ada akhir yang belum berhasil kakak lepas. Jadi sampai sekarang Allah belum mau pertemukan kak kevin sama kak keyla.”
“Apa ya, Dek?”
“Kalau ingin memulai awal yang baik, akhirilah apa yang belum selesai dengan baik juga Kak.”
Ia tetiba teringat Nayla, temannya saat di sekolah Internasional dua tahun lalu. Gadis itu pernah dibuatnya menangis seharian di hari saat kevin pergi tanpa kabar. Mungkin ia juga yang salah. Nayla gadis yang baik dan tulus. Tak seharusnya ia menanam harapan begitu dalam di hati gadis itu, sedangkan ikrar sucinya ditujukan hanya pada Keyla, sahabat kecilnya.
Ia cepat mengambil ponsel. Tangannya gemetar saat menekan opsi ‘panggil’ pada kontak bernama Nayla. Sudah lama sekali. Ia bahkan hampir sudah lupa. Matanya berbinar saat sambungan telepon diterima dari sana. Adiknya berbisik. “Lepaslah apa yang seharusnya dilepas, Kak. Pilih hitam atau putih. Agar hidupmu pun tak jadi abu-abu.”
Nayla akhirnya mengerti.
•••

Hujan turun lagi pagi ini. Sudah dua tahun sejak percakapan serius mengenai hujan dengan haura. Maret masih menjadi bulan yang dingin karena hujan turun hampir setiap pagi. Mungkin cuaca sedang asyik bermain-main dengan semesta.
 Kevin melirik arloji coklat yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih terlalu pagi, pukul 06.30. Semalam ia tidur terlalu cepat. Satu jam sebelum subuh matanya tak mau menutup lagi. Akhirnya ia memutuskan mandi lebih awal dan hendak pergi pagi-pagi.
 Perasaan lega telah menyelimuti hatinya. Ia berhasil melepas nayla dengan baik. Terlepas apakah nantinya masih bisa bertemu keyla atau tidak, setidaknya ia telah menutup ujung hujan terakhir, dan kini berencana mencari reda yang baru. Bukankah di setiap akhir yang berhasil dilepas manis akan selalu ada awal yang lebih manis kan?
Dan benar saja. 

Pagi ini, adiknya sudah ribut-ribut memanggil namanya dari depan pintu kamar. Ia melangkah lalu menarik handelnya. Adiknya tertegun sejenak.
“Sejak kapan kak kevin rajin?”
Kakaknya tertawa. “Sejak barusan dek, ada apa emang?.”
Adiknya melengos. sepersekian detik kemudian matanya berbinar cepat.
“Ada surat dari seseorang yang kakak tunggu. Ciyee akhirnyaa.”
Kevin cepat merebut amplop di tangan haura. Hatinya seperti sedang konser. Meriah sekali.
“Vin, kalau tawaran di kebun teh sepuluh tahun lalu masih berlaku. Aku ada di tempat itu. Menunggumu. Semoga kita bisa mencari reda yang baru bersama.”

-Keyla

Kevin tersenyum. Akhirnya, teori melepas untuk mendapat kembali itu terbukti. 

Rumah rindu

April 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s