Ujian Bernama Keikhlasan


“Ayah kamu benar, Ra. Perkara melepaskan anak perempuan bagi seorang ayah bukan masalah yang kecil. Ayah kamu harus melepaskan ke orang yang bener-bener tepat supaya nantinya bisa tenang setelah tanggung jawabnya dipindahkan.” Deg. Kata-kata Kak Rijal barusan tetiba menjadi angin yang berhasil menerobos ruang-ruang sesak tertutup kabut dalam jantungku.

“Hmm, jadi harus nurut dulu ya?” ucapku pelan dalam sambungan telepon kami pagi itu.

“Iya … sekarang jadi anak perempuan yang nurut dulu. Kalau dinasihati ayah didengerin. Setiap orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Kalau sekarang kamu bisa jadi anak yang baik, insyaallah nanti kamu bisa jadi istri yang baik.”

Air mataku mengalir sesenggukan saat mengingat semua kenangan. Enam bulan lalu, malam-malamku masih terlalu panjang untuk dilewati tanpa tangis. Bahkan sampai saat ini.
“Zahra?” Suara kakak perempuanku memanggil. Jilbab panjang warna pink kesukaannya menyembul dari balik pintu.

Kuhapus air mata yang kuyup sebelum menoleh ke arahnya. “Iya kak?”

Keningnya berkerut melihat mataku yang kini lebih mirip dengan panda bibir merah di kebun binatang. 

“Kamu masih kepikiran dia?” ucapnya lembut sesaat setelah duduk di sampingku.

Aku hanya mengangkat bahu sembari menarik nafas panjang.

“Katanya udah ikhlas?”

“Udah ikhlas kok Kak. Kan wajar kalo sesekali kepikiran, hehehe.” ucapku sambil pura-pura meringis. Sedih yang ingin kusembunyikan tak terlihat dibalik senyum tipis. 

Kak Zepha masih mengernyit. Aku tahu, ia bukan seseorang yang mudah dikelabui dengan senyum.

Sebenarnya, aku pun belum mengerti bagaimana definisi ikhlas untuk diriku sendiri. Kalau ikhlas berarti melepaskan, apakah saat ini aku sudah bisa melepaskan? Sedangkan malam-malamku masih penuh pikiran tentang dia. Kalau ikhlas berarti berhasil move on, apakah saat ini aku sudah bisa move on? Sedangkan beranjak dari zona rindu-rindu ini pun aku belum sanggup. 

Memang, hari-hari kami tak pernah lagi diselingi dengan pesan singkat yang dulu biasa kami kirim satu sama lain. Kalau tidak dia duluan, maka aku yang akan mengirim. Cerita-cerita lucu, pengalaman manis, kata-kata manis. Namun, meskipun semua itu tak ada lagi, semesta kepalaku masih selalu punya ruang untuk menyimpan semua tentangnya.

“Zahra, ujian keikhlasan itu memang tak mudah. Tapi, semua masalah itu tak akan pernah bisa benar-benar diikhlaskan kalau bukan diri kita sendiri yang berusaha. Kalau kamu tak pandai memanajemen perasaan, kata ikhlas yang kamu ucapkan setiap hari itu tak akan benar-benar terwujud sampai kapanpun. Seseorang yang benar-benar ikhlas tak akan mengucapkan bahwa ‘aku ikhlas’ melalui bahasa verbal. Keikhlasan itu akan terlihat dari sikapnya kemudian.”

Aku menunduk sembari melihat semburat jingga yang menyorot ke lantai dari balik jendela kamar. Merenungkan kata-kata Kak Zepha yang selalu bisa jadi paling dewasa saat menyikapi suatu masalah.

“Aku nggak tau gimana caranya supaya semua tentangnya bisa benar- benar hilang, Kak.”

“Keikhlasan terwujud saat kamu benar-benar tak terpikir lagi semua tentang dia. Saat rindu-rindu yang sering mengganggu itu sudah bisa kamu atasi tanpa menangis. Saat kamu bahkan sudah lupa bagaimana rasa yang kamu punya untuknya kemarin.” ucapnya dengan tenang.

“Rasanya, hatiku masih terlalu punya banyak ruang untuknya Kak. Meskipun beberapa sekat sudah tertutup, rindu-rindu itu masih selalu punya tempat. Tak tergantikan.”

Kak Zepha lalu tersenyum. Mungkin ia mengerti adiknya ini masih begitu labil.

“Ikhlas itu sama dengan melepaskan, Dek. Kalau kita melepasnya setengah-setengah, hasilnya pun akan hanya setengah. Tapi kalau kita melepasnya utuh, insyaallah nanti kebahagiaan baru yang datang menggantikan juga akan utuh.”

Aku takjub. “Kakak, belajar dari mana sih ilmu kaya gitu?” ucapku dengan tatapan penuh binar. Ia hanya tersenyum sembari mengelus lembut pundakku.

“Hehe. Dari mana aja kita bisa belajar. Manusia diberi akal agar kita bisa peka mengambil makna dari kehidupan ini. Makanya, kamu tuh jangan kebanyakan nonton sinetron aja. Huuu.”

“Hehehe, iya. Nanti Zahra mau banyak curhat deh sama kakak. Makasih ya Kak.” Aku menghambur ke pelukan Kak Zepha. Ia mengelus punggunggku lagi.

“Yaudah yuk Makan. Kakak masak spesial loh hari ini.”

Kemudian kulangkahkan kaki keluar dengan perasaan lega. Aku sudah mengerti sekarang. Lepaslah seutuhnya, ikhlaslah sepenuhnya, agar kelak sesuatu yang akan menggantikan pun bisa memberikan bahagia yang utuh untuk kita.
Bulan hujan

4 April 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s