Tentang hilang dan pergi


Apa obat paling manjur untuk melepas kegundahan saat merasa kehilangan? Atau paling tidak nasihat apa yang harus didengar agar bisa sembuh dan berhenti mengeluh saat ditinggal pergi?Apakah mereka yang pergi tahu bahwa tangis yang ditinggalkan jadi hal paling menyedihkan? Atau Apakah mereka yang pergi tahu bahwa mereka punya porsi penting dalam hidup yang ditinggalkan?

Mengapa mereka harus pergi? 

Ah, kita mungkin perlu percaya bahwa apa-apa yang digariskan dalam hidup ini selalu punya makna. Selalu ada maksud terbaik. Selalu diberikan agar kita terus menjadi pembelajar yang rajin dan tetap rendah hati dalam ujian hidup. Bukankah Yang Maha Esa adalah sebaik-baiknya perencana? 

                           •••

Hari ini adalah hari pemakaman eyang putri. Aku hanya mengurung diri di kamar sejak kemarin. Orang-orang di luar sibuk mempersiapkan prosesi penguburan. Aroma bunga-bunga tercium dari balik pintu. Hidungku mengernyit. 

“Hani udah dong. Masa daritadi nangis terus. Ntar eyang ikut sedih di sana.” Risky masih berusaha membujuk. Ia mengelus pundakku pelan.

“Iya Han. Eyang putri udah tenang. Emang kamu tega ngeliat eyang sakit terus?”

“Hani kan biasanya kuat, ceria. Ayo dong senyum lagi.”

“Iya … iya.”

“Ngomong sesuatu geh Han. Kami khawatir.” Tiwi menyambung dengan raut cemas.

“Aku cuma … belum siap kehilangan eyang. Dari kecil dulu, eyang putri yang selalu ada. Setiap papa mama sibuk ke kantor, aku di rumah sama eyang. Setiap pembagian rapor, setiap aku menang lomba baca puisi, setiap berangkat les tari, setiap malam-malam sepi waktu mama papa keluar kota. Cuma eyang putri yang selalu ada.”

“Dia nggak hilang, Han. Pergi sama hilang itu beda lho.” ucap Tita tiba-tiba. Sahabatku yang satu ini memang lebih banyak diam dari tadi.

“Iya ya? Bedanya apa Ta?” Indri yang menyahut. Aku masih diam tertunduk dengan mata sembab.

“Kepergian berarti penciptaan jarak yang masih terjangkau. kita masih bisa tau kemana arah dia pergi. Sedangkan kehilangan, berarti penciptaan jarak yang kita nggak pernah tau kemana arah seseorang yang hilang itu. Wong dia nya geh hilang.”

Aku melekatkan pandangan ke Tita. Ada getar yang lain dalam kalimatnya barusan.

“Bentar bentar, aku belum ngerti. Perasaan sama aja, Ta.” ucap Susan.

“Beda lah Susan cantik. Coba aku tanya nih, apa perbedaan pergi ke sungai sama hilang di sungai?”

“Aku tauu! Itu mah jelas beda Ta. Kalau pergi ke sungai, nanti bakal ada waktu pulangnya. Kalau hilang di sungai, nah belum bisa dipastiin kapan ketemunya.”

“Jadi tingkat pelepasan hilang lebih tinggi daripada pergi gitu ya?”

“Yup. Kepergian seseorang memang berat Han. Aku juga dulu gitu waktu mama dipanggil Tuhan. Tapi karena aku tau dia hanya pergi, dan punya tujuan yang jelas. Aku jadi bisa lebih tenang. Doa-doa yang kulangitkan juga jadi punya arah yang jelas. Untuk dia yang tenang disana. Dia bukan hilang, tapi pergi. Hanya butuh waktu agar kelak kami bisa bersama lagi.”

Aku manggut-manggut saja mendengar kalimat golden ways Tita. Rasa-rasanya tulang-tulang dalam tubuhku belum bisa diajak kompromi lagi untuk menguatkan sendi agar aku bisa berhenti mengeluh saat ini. Kehilangan seseorang, ehm, maksudku ditinggal pergi seseorang punya daya magis yang kuat untuk berhasil melumpuhkan semangat seorang Hani. Apalagi ditinggal oleh orang tersayang.

“Makasih ya Ta.” ucapku akhirnya.

“Iya. Apa-apa yang tak abadi memang akan selalu pergi. Doamu lah yang akan tetap sampai, Han. Jangan berhenti berdoa. Allah selalu punya rencana terbaik.” Tita mengelus pundakku lembut. Aku mengangguk lagi.

Mama yang baru saja masuk ke kamar ikut menimpali.

“Mama janji nggak akan sibuk-sibuk lagi mulai sekarang. Mama akan selalu ada buat Hani.” ucapnya dengan tatapan penuh kasih.

Aku tersenyum, lalu segera menghambur ke pelukannya.

                                •••

“Halo, assalamualaikum? Hanii.” Suara cempreng khas Tita terdengar dari seberang sana.

“Iya Ta waalaikumussalam. Tumben nelpon malam-malam, ada apa?”

“Kamu belum lihat berita? Komplek Nusa cendana kebakaran hebat. Itu rumah Eyang kamu kemarin kan? Hampir semua orang yang tinggal di komplek meninggal Ta!”

Aku langsung mencari remote dan menyalakan TV. Memperhatikan berita yang ditayangkan salah satu stasiun tv swasta. Rumah-rumah di sana sudah tak berbentuk lagi. Orang-orang sibuk hilir mudik menyelamatkan diri, puluhan petugas pemadam kebakaran datang berusaha memadamkan merah-merah yang terus menjalar.

Handphoneku terlepas dari genggaman. Aku teringat prosesi pemakaman eyang putri beberapa hari lalu. Wajahnya tersenyum dan bersih meskipun harus merasakan penyakit maag akut yang didera selama dua tahun ini. Bulir-bulir bening menetes di pipiku. Aku tak bisa membayangkan kalau eyang saat ini masih tidur di komplek itu lalu harus pergi dengan dilumat api. Dengan luka-luka bakar parah, dengan wajah hitam gosong seperti orang-orang dalam layar itu. Petugas-petugas mengambil mayat dan dibungkus dengan potongan-potongan kantong kuning kemudian dilempar menjadi satu. 

“Allah, betapa baiknya engkau. Aku masih bisa melihat wajah cantik eyang putri yang tersenyum sebelum ia pergi. Aku masih sempat memandikan dan ikut menyolatkannya. Aku masih sempat merapal banyak doa di pusaranya.”

Air mataku menetes lagi. Tak seharusnya aku terus mengeluh. Kalimat Tita kemudian terngiang lagi dalam benakku.

“Apa-apa yang tak abadi memang akan selalu pergi. Doamu lah yang akan tetap sampai, Han. Jangan berhenti berdoa. Allah selalu punya rencana terbaik.”

Aku tersenyum menatap foto terakhirnya yang terpasang rapi dengan pigura di atas meja belajarku. “Hani selalu doakan eyang putri dari sini. Nanti kita kumpul sama-sama lagi di surga ya.” 
Rumah hujan,
April 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s