Sepaket Rasa

Aku meyakini perihal, Tuhan memberikan kita masalah selalu sepaket dengan solusinya. Kita yang merasa ingin cepat menyerah, mungkin adalah beberapa yang tak sabar menunggu. Terkadang, solusi itu memang tak bisa ditebak kapan akan muncul. Bisa jadi ia datang dengan mudah dari tangan orang-orang sekitar, atau bisa pula datang melalui sesuatu yang tak diduga akan terjadi. Tapi percayalah, penyelesaian itu pasti akan dipertemukan oleh Tuhan.

Seperti masalah yang diberikan sepaket dengan solusi. Setiap harapan dalam pertanyaan hidup pun telah diberikan sepaket dengan jawaban. Jawaban itu sudah dijanjikan akan datang. Cuma ya itu tadi, manusianya memang harus sabar menunggu. Kalau cepat dijawab dan diberi, artinya kita harus banyak bersyukur. Kalau dijawabnya lama, mungkin Allah sedang menguji tingkat keseriusan kita akan hal yang diinginkan tersebut. Dan kalau dijawabnya tidak sesuai harapan, maka berarti ada hal lain yang lebih baik sedang Tuhan persiapkan untuk kita. Berbaik sangka denganNya akan selalu berbuah manis, kan?

•••

Aku sedang mengupas bawang putih dan melepas bulir-bulir cabai rawit hijau dari tangkainya ketika suara Bang Rijal menggema dari arah depan.

“Deeeek. Assalamualaikum.”

“Iya Baaang masuk ajaaa.” Mukaku masih penuh peluh. Biasanya setiap Bang Rijal datang aku selalu ke depan membawa segelas air putih, atau handuk kecil, atau paling tidak menyempatkan untuk mencium tangan menyambutnya pulang. Tapi kali ini gorenganku sedang tak bisa ditinggal. Jadilah dia ngeloyor masuk langsung ke dapur.

“Dek, abang mau tanya.”

“Hmm? Tanya apa Bang?” ucapku tanpa menoleh. Sebenarnya tadi aku berencana pura-pura merajuk. Sebabnya janji makan soto madura berdua di kedai ujung jalan selalu batal gara-gara tugas lemburnya di kantor yang tak pernah bisa ditinggal. Katanya kemarin sore beli sendiri saja bawa ke rumah. Ih, kan pengen makannya berdua geh. Terang saja aku sedikit kecewa. Tapi sayang, rencana merajukku selalu gagal. Bang Rijal lebih pintar untuk urusan membuat hatiku luluh.

“Kalau suatu hari nanti kamu lagi pengen sesuatu terus abang nggak bisa penuhin, gimana?”

Bola mataku berputar sedetik. “Emm … gimana yaaa.”

“Bakal marah-marah nggak?” Ia menatapku lekat, menunggu jawaban.

“Nggak. Palingan ngambek aja, hehehe.”

“Ngambek ya?” Bahunya turun pelan, lalu bergeser tempat duduk dengan raut sesal. Aku tertawa kecil melihatnya.

“Ih Abang, ya nggak ngambek lah. Kalau Abang lagi ga bisa penuhin kan berarti ada hal lain yang lebih penting untuk dicukupin. Kalau Abang nolak juga pasti untuk kebaikan kita. Tenang aja, Rifa ngerti kok.” ujarku dengan senyum, sambil masih sibuk mengulek sambal bawang yang cabenya baru diangkat dari wajan panas.

“Beneran?”

Kali ini aku menoleh. “Iya. Emangnya kenapa? Kok tumben tanya begitu?” ucapku sembari mengambil mangkuk kecil. Memindahkan sambal bawang yang baru diulek. Dari aromanya saja sudah tertebak, ini pasti rasanya lebih huaah dari yang huaah.

“Em, Abang tadi sih mau tanya sesuatu. Tapi kayaknya kamu masih konsentrasi masak penuh nih. Ntar aja deh.”

Aku berbalik badan sambil meringis. “Hehehe, maafin ya Bang, adek diajak ngomong daritadi nggak noleh. Ini udah selesai kok, lauknya juga udah masak. Yuk kita duduk dulu.” ucapku sembari menariknya ke kursi panjang dekat meja makan.

“Dah, Abang mau bilang sesuatu apa tadi?”

“Kalau rencana pulang ke Lampungnya ditunda lagi, gimana?”

Aku menghela nafas pelan. Sudah sejak delapan bulan lalu aku mengajaknya berkunjung ke rumah ibu. Namun selalu belum ada kesempatan. “Abang ada tugas ke luar kota lagi?”

“Iya. Sampai abis lebaran.”

Aku menunduk.

“Kamu kecewa Dek? Maafin abang yaa, ini proyeknya ga bisa ditinggal banget.”

Aku kemudian menatap matanya lekat. Ada ketulusan dan kasih yang teduh disitu. Peluhnya menetes beberapa dari dahi. Aku baru ingat tadi tak sempat menyambutnya dengan handuk saat ia mengucap salam sambil mengetuk pintu. Pikiranku masih penuh dengan racikan bumbu ayam penyet dan sambal bawang di belakang. Ah, ia pasti sedang lelah kini. Pantaskah aku mengeluh hanya karena keinginan yang tak terpenuhi? Ah, Allah mungkin sedang menyiapkan rencana lain. Keep happy Rifaaa. Kata hatiku berusaha menenangkan.

“Dek?”

“Eh, iya Bang? Ohh Abang ada tugas lagi. Iya nggak apa kok. Rifa kan udah biasa juga ditinggal sendiri di rumah, hehehe. Tenang aja Bang.”

“Beneran?”

“Iya beneran.”

“Nggak nangis lagi karena kangen sama ibu?”

Aku menepuk pundaknya pelan. Pura-pura merajuk. Ia lalu tertawa renyah.

“Makasih ya adek selalu ngerti. Kalau gitu … abang ada kejutan nih.”

Mataku berbinar mendengarnya.

“Kejutan apa Bang?”

Ia mengeluarkan dua lembar tiket dengan tujuan penerbangan CGK-DXB.

“DXB? Dubai Bang?”

Ia mengangguk. “Karena kali ini tugasnya lama. Pimpinan abang ngebolehin ngajak kamu. Jadi nanti kita idul fitri di Dubai. Dulu kamu pengen banget ke sini kan. Sekarang Allah bantu lewat jalan ini. Seneng nggak?”

Aku langsung melompat memeluknya erat dengan rasa bahagia yang membuncah. “Abaaaaang! Alhamdulillahhh.”

Hatiku merapal penuh kalimat syukur. Allah baik sekali, Ia selalu memberi lebih dari yang kuharapkan. Berbaik sangka denganNya selalu berbuah manis, kan;)

Malam Hujan,

Akhir April 2017.

Advertisements

5 thoughts on “Sepaket Rasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s