Tentang Nisa

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Halo;)

Namaku Aannisah Fauzaania. 

Eh, gimana sebutnya? A nya dua? N nya juga dua ya? Hehe. Hampir setiap perkenalanku dengan orang-orang baru, pertanyaan serupa itu selalu disebut:D.

Nggak apa-apa, panggil aja nia, atau nisa, atau apa aja deh hehe.

Akhirnya, setelah sekian lama hibernasi nulis, rindu-rindu yang dilahirkan untuk aksara itu muncul kembali. Mungkin karena dari masa sekolah dasar aku sudah suka menulis, rasanya kalau sudah lama tidak menuangkan ide-ide dalam tulisan, ide itu bisa berkarat, ujung-ujungnya hanya bisa menyalahkan diri sendiri kenapa tidak bisa komitmen untuk produktif.

Masa-masa SD dan SMP dulu, aku biasa menulis di buku tulis biasa untuk belajar. Mereknya SiDu, sinar dunia kan ya? hehe. Maklumlah, masa itu aku belum punya satu pun alat elektronik yang bisa dipakai untuk menulis. Handphone pun masih jarang dipakai oleh masyarakat sekitar desa. Padang bulan dan layar tancap masih jadi hiburan favorit malam-malam. Apalagi kalau rombongan pasar malam datang. Wah, lapangan bola dekat Kantor camat bisa jadi primadona satu bulan. Kembali lagi ke cerita tentang menulis, karena belum ada alat yg bisa dimanfaatkan lebih mudah, Jadilah aku hanya menulis di buku biasa.

Eh tapii, jangan salah loh, sensasi menulis di buku itu tak tergantikan, hehe. Biasanya, untuk menulis satu cerita utuh yang masa itu dibilang teman-teman sebagai novel, aku bisa menghabiskan 2-3 buku tulis isi 50lembar. Ini tulis tangan, beneran pakai tangan. Saking semangatnya pengen hasilin suatu tulisan. 

Jadi ceritanya itu terbagi jadi beberapa part. Biasanya, setiap satu part selesai ditulis, temen-temen sekelas langsung berkerumun penasaran.

“Gimana gimana lanjutan ceritanya?”

“Sampe part berapa sih Nis?”

“Nisaaa selesai ditulis aku baca duluan pokoknyaa!”

Seneng? Alhamdulillah iya. Sebuah karya yang diapresiasi meskipun hanya dengan kata ‘kurang baik’ atau ‘baik’ pasti akan sangat berarti bagi penulisnya. Berarti apa yang kita tulis mendapat tempat dalam hati pembaca. Setelah beruntung mendapatkan tempat di hati, penulis juga bisa mendapat kritik untuk apa-apa yang kurang dan bagian mana yang perlu dibenahi. Waah waktu itu aku belajar banyak dari komentar teman yang macam-macam mengenai cerita yang aku tulis.

 Sampai sekarang, buku-buku itu pun masih ada. Tersimpan rapi di kamar, di lemari bawah bekas buku-buku SMP. Salinan yang dijilid menggunakan double folio pun masih lengkap. Waktu itu, ibu jadi malaikat yang paling berarti. Apa-apa yang aku tulis selalu didukung. Bahkan beliau yang menawarkan ide untuk membuatkan salinan dan dijilid agar rapi.

“Kalau nulis tu ya ndak perlu takut salah mbak. Tulis aja apa yang pengen mbak nia tulis. Tentang teman-teman di sekolah, tentang ayah dan ibu di rumah, atau tentang apa aja. Hal-hal sederhana pun bisa jadi bahan yang menarik untuk ditulis. Apalagi kalau bisa bawa manfaat untuk orang lain, bisa buat orang lain jadi lebih baik setelah baca tulisan kita. Waah, rasa senengnya itu nggak bisa diungkapkan mbak.”

Eh, kok jadi ngelantur jauh ya? Hehe. Maafkan kalau mukadimahnya terlalu panjang:D. Jadi intinya, setelah melalui beberapa meditasi panjang dan beberapa kali suntik hormon penyemangat, hari ini semangatku untuk menulis kembali lagi. Yaaay alhamdulillah. Meskipun masih banyak kaku-kaku karena sekian lama ide nulisnya ‘mandek’ karena tidak dipakai, setidaknya mulai hari ini nisa ingin mencoba lebih produktif dengan project #1hari1tulisan. Doakan ya teman teman;)

 Semoga mulai hari ini blog ini jadi lebih sering ditanami, dipupuk, dan disiram. Semoga bunga-bunganya kelak bisa membawa kebaikan untuk semua. Semoga warna-warna yang dilukiskan bisa diambil manfaatnya.

Last, semoga kita semua selalu diridhoi oleh-Nya. Aamiin.
Regards

Nisa;)

Advertisements