MENASIHATI HATI

Dear, shaliha. Kita mungkin sering menganggap remeh perihal menjaga diri. Perihal menjaga hati, menahan nafsu untuk menjauhi hal-hal yang tidak disukai Allah. Bersabar dan menyadari dunia ini hanyalah tempat singgah sebelum akhirnya benar-benar pulang, nanti.

Aku sering berdoa, semoga Allah SWT menjaga orang-orang yang aku sayangi dari ketidakmampuanku menjaga diri. Bisa jadi, kesulitan-kesulitan yang dialami ayah dan ibu saat ini adalah akibat dari kesalahanku yang masih sulit jaga malu. Bisa jadi, kegagalan-kegagalan yang aku alami selama ini, adalah akibat dari dari dosa-dosa kecil yang sering aku remehkan.

Tak mudah, memang. Suatu hari nanti kita pasti akan juga merasa jenuh, merasa bosan, dan kesepian. Dekat dengan Allah tak berarti kita selalu bahagia dan bebas dari masalah. Namun, jika kita dekat dengan Allah, yakinilah tak ada satu masalahpun yang sulit diselesaikan. Setiap masalah memang selalu diberi sepaket dengan solusinya. Hanya.. Kita memang perlu banyak bersabar dan terus ikhtiar.

Dear, shaliha. Aku sering berpikir, kalau kita ingin hidup yang berlimpah keajaiban, barangkali kita memang harus lakukan hal yang ajaib pula. Misalnya, perintah Allah yang menurut sebagian besar orang sulit untuk dijalankan, tapi kita berusaha kuat untuk menjalankannya. Berusaha kuat untuk istiqomah menjaga diri. Berusaha tahan-tahan dari hal yang kata teman-teman begitu menyenangkan–tapi Allah tak suka.

Kata Allah, sebaik-baik perhiasan dunia ialah wanita shalihah. Jadilah indah dengan akhlak yang kita miliki.. Maka, kita memang tak perlu berlebihan untuk dipandang indah.. Jadilah indah dengan sikap zuhud yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.. Jadilah indah dengan menjadi qurrota a’yun untuk orangtua dan saudara-saudara terdekat.. Sebab dengan ridho merekalah jalan terjal kehidupan ini bisa dimuluskan Allah.

Bersabarlah, sayang. Ini hanya sementara. Berdoalah pada Allah agar hati ini terus dikuatkan. Jangan bosan-bosan minta pertolongan Allah agar bisa istiqomah di jalan ini.. Bersabarlah, shaliha. Semoga kita selalu disayang Allah..

#menasehatidiri

Palembang, syawal 1439H.

Advertisements

PETRICHOR

“Memangnya, apa yang kaucintai dari petrichor?” tanyaku di suatu senja yang hujan. Di bawah angin-angin yang bertiup sepanjang selasar.

“Bukan cinta, Putri. Petrichor bukannya Putri sepertimu. Ia sebuah senyawa aromatik yang terbentuk dari reaksi kimia minyak alami yang direlakan keluar dari rahim tanaman, kemudian bersatu di udara bersama geosmin yang dilahirkan oleh bakteri di dalam tanah. Aroma itulah yang selalu semerbak setiap hujan turun membasahi tanah. Aroma khas hujan.”

Aku sedang berusaha menyesapi kata-katanya. Mencoba mencari aroma petrichor di antara rintik-rintik yang turun pada tanah basah petang ini. Namun tak ada. Apakah hanya orang-orang tertentu yang diizinkan mengecup aroma petrichor?

“Putri tahu? Petrichor selalu berhasil mengingatkanku pada kenangan-kenangan. Saat subuh-subuh ia datang di antara terali jendela kamar, saat petang-petang ia merebak bersamaan dengan aroma ikan kembung goreng di dapur ibu. Petrichor selalu manis.” katanya lagi begitu. ia selalu bersemangat setiap kali bercerita tentang petrichor. Hari ini, sudah hampir lima belas kali siaran langsungnya digelar.

“Jadi, apa untungnya cinta pada petrichor?”

“Ah, ya. Petrichor membuatku menyadari bahwa kebahagiaan sesederhana menikmati tetes-tetes hujan yang turun. Meresapi bahwa rahman dan rahimNya masih diturunkan begitu deras. Namun kita yang sering lupa bersyukur.”

“Jadi, kau lebih cinta kenangan, petrichor, atau aku?” 

Ia hanya tersenyum mendengar tanyaku yang tak habis-habis.

“Aku … banyak jatuhkan cinta pada kenangan bersamamu yang dibersamai aroma petrichor.”

Kali ini, ia benarlah berhasil buatku berhenti bertanya.

Di bawah langit hujan, Sya’ban 1439H.

INTENTION

Terkadang, kita sering menerka banyak hal yang telah dilakukan rasanya tak bernilai apa-apa. Hari-hari mengalir saja seperti air di sungai-sungai. Malam berlalu siang, siang berlalu malam. Telah berusaha banyak namun keinginan kita tetap belum juga terwujud, menolong teman tapi ternyata malah dikhianati, datang ke kampus pagi-pagi tapi tiba-tiba dosen membatalkan kuliah.

Mungkin kita yang banyak lupa … atau hanya terlalu fokus memikirkan perkara hukum balas membalas hanya bisa dilakukan di dunia. Padahal kalau niat kita selalu karenaNya, mungkin tak ada lagi yang rasanya sia-sia. Atau hari-hari yang rasanya berlalu begitu saja tanpa hasil.

Mungkin tak baik juga kalau kita terlalu terpuruk saat memikirkan menang-kalah, untung-rugi, baik-tak baik, dan perkara-perkara tak tersebut lainnya yang sifatnya hanya sementara. Bukankah Allah adalah sebaik-baiknya perancang skenario hidup?

Salah satu poin pentingnya adalah … jadikan apa-apa yang kita kerjakan selalu beriringan niat untuk mendapat ridha Allah.. agar kalau kita belum bisa memetik hasilnya langsung di dunia, maka insyaallah akan dihitung sebagai tabungan kebaikan yang lebih banyak untuk di akhirat. Agar kalau yang terjadi tak sesuai rencana, kita bisa lebih mudah untuk berlapang dada.

Berjalanlah terus … Rencana dariNya akan selalu baik.

April 2018.

#selfreminder

 picby: pinterest

MEMELUK BATAS-BATAS

Seringkalinya, kita ingin melepaskan diri dari batasan-batasan hidup yang telah ditetapkan. Padahal, batasan-batasan itu dibuat untuk menjaga agar kita tak sampai jatuh sebab melampau bebas.

Bebas bangun jam berapa, bebas pergi kemana saja, bebas pergi dengan siapa saja. Bebas beli apa saja, bebas bergaul dengan siapa saja, bebas nonton apa saja. mayoritas dari kita pada dasarnya pasti ingin hal-hal yang begitu. Tak mau sakit-sakit tertekan, tak mau payah-payah menahan. Iya. Memanglah. Kita hanya manusia biasa.

Kata orang-orang, kebebasan adalah hal yang membahagiakan.

Padahal, memangnya kebebasan bagaimana yang benar- benar membahagiakan?

Semakin bebas hidup, bukankah pada hakikatnya berarti kita tengah berjalan sendirian? Sebab tak akan ada orang-orang yang membiarkan kita berdiri dalam sebenar-benarnya kebebasan jika mereka memang benar-benar sayang. Sebab artinya orang-orang tak peduli jika membiarkan saja kita berbuat sesuka hati.

Selalu ada sekat-sekat di tepi koridor. Agar kalau kita terlewat, akan ada yang menuntun untuk kembali pulang. Agar kalau kita lupa, akan ada yang mengingatkan untuk kembali taat.
Maka, sebaiknya tak nak la ingin ikut terlalu bebas-bebas untuk bahagia. Nikmati saja prosesnya.. Nanti, suatu hari buah kesabaran pasti akan ranum untuk dipetik. Nanti Suatu hari, rahim keteguhan pasti akan melahirkan hasil yang juga berkesan.

#selfreminder. April 2018.

Picby:pinterest.

SIMPLICITY MEANS A LOT


Suatu waktu, kita mungkin perlu menjadi selalu suka hal-hal yang biasa. Hal-hal sederhana, menjadi sederhana, atau jadi biasa-biasa saja.

Kadang kita sering salah mengartikan..

Banyak yang mengira tenar di dunia lebih baik daripada tenar di langit.

Padahal, kalau ketenaran ternyata tak mengarahkan jalan kita menuju surga, bagaimana?

Menjadi pemimpin, menjadi public figure, dan menjadi seseorang yang terkenal harusnya bisa kita jadikan sebagai jalan pintas.. jalan pintas agar bisa bermanfaat bagi lebih banyak orang.. jalan pintas untuk menebar kebaikan lebih luas.. dan jalan pintas untuk meraih jannahNya melalui amanah-amanah lebih besar yang akan dan telah dilaksanakan..

Jika ketenaran malah semakin membuat jauh dari Allah, barangkali ada yang salah dengan niat kita..
Jika ketenaran malah semakin membuat kita mengistimewakan perkara dunia, mungkin ada yang salah dari pemikiran kita dalam memaknai nikmat dariNya..

Jika ketenaran tak bisa membuat diri kita memahami lebih baik perihal hakikat hidup.. bukankah lebih baik menjadi biasa-biasa saja..

Menjadi biasa lalu lebih banyak muhasabah..

Menjadi biasa lalu lebih banyak berbagi..

Menjadi biasa lalu lebih banyak belajar..
.

.
#selfreminder #belajarlillah

Rumah. 20.05. Picby: pinterest.

PRAKTIKUM KESMAS


Hello from Puskesmas Pakjo, hehehe.

Sekitar pertengahan Juni- Agustus tahun 2017 lalu, kami diamanahkan kampus untuk melaksanakan kegiatan praktikum sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah pelayanan kesehatan di semester empat. Alhamdulillah, qodarullah saya mendapat tempat di Puskesmas Pakjo bersama 5 teman lainnya. Waktu itu, kami ditempatkan di 6 program yang berbeda. Ada yang di Promkes (Promosi Kesehatan), Kesling(Kesehatan Lingkungan), KIA(Kesehatan Ibu dan Anak), P2M (Pemberantasan penyakit Menular), Gizi, dan terakhir adalah Pengobatan.

Saya sendiri dipilihkan tempat di program P2M saat itu. Tapi, selama kurang lebih dua bulan bertugas, kami rutin tukar tempat secara berkala kok. Jadi semua bisa merasakan bagaimana cara pelayanan di poli umum, atau bagaimana harus sabar di poli lansia, atau bagaimana capeknya di pendaftaran, atau sedapnya menghafal banyak nama-nama obat di apotik, atau takutnya saat disuruh coba tensi manual di ruang KIA, atau lucunya bermain dg anak-anak balita di MTBS. Semuanya punya cerita masing-masing.

Kami punya dua pembimbing lapangan di sini. Namanya ibu Wahida dan Pak Rahmat. Dua pembimbing kami ini baaaiiik sekaliii. Kalau ada yang lebih baik dari Ibu dosen agama di kampus, ibu dan bapak pembimbing kami ini lebih. Mereka selalu siap siaga membantu kami yang masih minim ilmu, yang masih terlalu banyak merepotkan dengan banyak pertanyaan, dan yang masih terlalu awam dengan macam-macam hal di puskesmas.

Eh tapi seiring dengan berjalannya waktu, semua pegawai disitu juga jadi baiik sekalii. Kami cepat akrab satu sama lain, hehehe. Senangnya seperti makan eskrim di antara panas-panas terik. Kuncinya mudah sih, saling respect dan menghargai. Tapi di luar teori itu, pengaplikasian sehari-hari itulah yang lebih penting. Bagaimana kita berhadapan dengan orang-orang yang bermacam sifat, bagaimana cara berkomunikasi dengan senior-senior, dan bagaimana tingkat kedisiplinan selama praktikum.

Selama masa-masa praktikum, kami diajari banyak. Tak hanya ilmu medis, tapi juga attitude dan bagaimana bersikap sebagai tenaga medis yang profesional. Mungkin mereka banyak yang maklum ya, seorang kesmas tak banyak belajar perihal etiologi penyakit, atau bagaimana intervensi untuk suatu penyakit, atau tes apa yang harus digunakan untuk mengetahui kadar Hb. Kami memang lebih banyak belajar perihal manajemen kesehatan dan preventif act untuk suatu kasus.

Tapi justru disitulah memang challenge-nya. Kami dituntut untuk harus bisa lebih, harus mampu, harus mau belajar kalau belum bisa. Kata ibu-ibu di poli, masyarakat tidak mau tahu bagian-bagian apa saja yang ada di puskesmas, mereka hanya tahu semua petugas kesehatan itu bisa mengobati, bisa memberi solusi untuk masalah kesehatan yang sedang mereka hadapi, dan bisa menjadi perantara kesembuhan. Jadilah, mau tak mau kami memang harus belajar ekstra.

Minggu pertama, kami belum tahulah perihal tensi menensi. Jadi waktu itu kami hanya diberi tensi digital dengan bekal bahwa TD normal secara umum ialah 110/80. Semakin tua usia seseorang, semakin tinggi juga rentang normal tekanan darahnya. Baiklah, hari pertama lewat.

Masalah datang kemudian untuk pasien-pasien yang punya BB sedikit lebih banyak dari sesamanya. Tensi digital nggak akan akurat dipakai. Akhirnya, hari-hari setelahnya, kami diajarkan menggunakan tensi manual. Awal-awalnya sempet bingung. Kata bidan di KIA, dengarkan detak-detak yang muncul sambil lepaskan putaran tensi pelan-pelan. Detak kuat yang terdengar pertama berarti sistol, dan detak kuat terakhir berarti diastol.

Aku melongo pertama kali coba. ini yang salah stetoskopnya atau cuma aku yang nggak bisa denger detaknya sih? Atau jangan-jangan tangan temanku yang nadinya nggak berdetak? Wkwkwk. Dicobalah lagi berkali-kali berhari-hari sampai akhirnya bisa kedengeran, sampai akhirnya bisa lancar, sampai akhirnya terbiasa lebih enak pakai tensi manual karena memang hasilnya juga lebih akurat.

Selain perihal tensi, kami juga banyak belajar tentang istilah-istilah penyakit di poli. Kami beneran baru tahu kalau saat itu nggak dikasih tau. Kayak misal obstetris febris adalah demam, atau myalgia adalah nyeri otot, atau skizofrenia adalah gangguan jiwa. Eh, btw kami juga diajarkan cara tes skizofrenia. Tapi lain waktu saja ya ceritanya, hehehe. Di KIA, Kami juga diajari cara hitung perkiraan lahir bayi dengan HPHT, cara ukur Lila ibu hamil, de el el.

Selain itu lagi, di apotek kami diajarkan cara membaca resep obat. Sekarang Jadi bisa mengerti kalau tiba-tiba ada keluarga yang nanya cara minum obat gimana, hehehe. Kayak misal 2dd1 artinya obatnya diminum dua kali sehari, atau jd tau peroxicam adalah obat rematik, atau tau Na. Diclofenac adalah obat untuk analgesik. Pertama kali coba, nggak kebaca beneran ga kebaca. Apalagi kalau yang nulis dokter. Cuma kelihatan huruf pertamanya saja hehehe.

Tapi ternyata para apoteker itu punya tips dan trik supaya bisa tau obat apa yang dimaksud. Jadi, mereka harus sering-sering lihat stok obat apa aja yang ada di lemari dalam setiap bulannya. Dari situ, lama kelamaan akan hapal obat apa yang dimaksud meskipun nama obat yang kebaca cuma dua huruf di depan aja hehehe. Hebat ya mereka. Saya banyak-banyak terimakasih sama ibu apoteker waktu itu.

Untuk basic dari kesmasnya sendiri, kami jg diajak ke posyandu rutin. Diberi tahu cara berinteraksi yang baik dengan masyarakat. Bagaimana membujuk anak-anak SD agar mau menerapkan PHBS(Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), bagaimana cara penyuluhan agar tak membosankan, daaan masih banyak lainnya.

Menurut saya, pengalaman praktikum ini adalah guru paling berkesan untuk tempat menimba ilmu. Senaaaang sekali rasanya, hehehehe. Terimakasih ya, Dokter Nina, dokter Yuli, ayuk-ayuk bidan dan perawat, Kakak Koas, dan segenap ganjilnya warga disana yang telah berkenan memberikan banyak ilmu buat kami. Barakallahu fiikum.

.

Terimakasih ya Puskesmas Pakjo. Terimakasih juga kampusku;)

PANGLING (dan Memahami Dua Masa)

“Ngapunten Bude, kulo lewat..”

Bude yang kupanggil di dekat pintu mengalihkan perhatiannya dari kentang-kentang di baskom , kemudian menoleh ke arahku.

“Iyo iyo, iki sopo to? Ya Allah niaa to. Lewato nduk gak opo, bude ki nang pintu mau ra kebagian panggon.”

Aku ketawa dalam hati mendengarnya. Semacam terharu.

“Nduk-nduk Bude lo ngerti cilik’anmu.”

“Mbiyen yo agek cilik nakal tenan mblayu2 lak melu  pengajian ibune.”

“Ya Allah kok wes gedi men to nduk. Wes pirang tahun yo ora ketemu.”

“Lah iki putrine bu endah ta”

“La mau tak sawang2 mbokan sopo bocah endi kok gak ciren tenan, ngertine nia to.”

“Mbah yo pangling nduk kok saiki ayu le mesem, wes dewasa tenan..”

Kemarin ini pagiku hangat sekali, hehehe. Entah kenapa, rasanya menyenangkan dipeluk orang-orang yang dekat selama masa kecil. Seperti nostalgia, tapi lebih mendalam.

Jadi kemarin ibu mengajak ke acara pernikahan tetangga di sini. Barakallahu laka alaika wa baraka alaika wa jamaa bainakuma fi khair mba risky dan kak rudianto. Alhamdulillaaah akhirnya setelah sekian panjang pertimbangan Tuhan menyatukan kalian dengan caraNya yang paling manis.

Aku kebagian tugas menyambut pengantin sambil bantu-bantu bawa seserahan sampai ke dalam. Yang membuat berkesan, di dalam tiba-tiba banyak yang memelukku sembari mengucapkan kalimat-kalimat seperti kutipan di ataas. Sederetan dari mulai mbah-mbah yang sedang merebus air di dandang besar, bude-bude yang menyiapkan kue, bulek-bulek, termasuk mbak-mbak yang sedang membantu mengiris wortel kentang di dapur.

Setelahnya kami jadi bercerita perihal masa-masa dulu. Awal-awal tahun 2000-an ketika semuanya yang ada dalam benakku hanya main, makan, sekolah, senang-senang, tidur, dan semua yang enak-enak hehe.

.
Semuanya berganti ketika aku mulai sekolah di luar dan memutuskan untuk berani tinggal jauh dari orang tua. Kalau Mungkin menurut kalian aku terlalu berlebihan atau untuk sebagian besar orang ini tak seberapa berat, tak apa. Pastilah di luar sana memang ada orang-orang yang harus mengerti lebih cepat perihal kerasnya hidup dan tak terlalu jadi masalah jika hanya soal jauh dari orangtua. Tapi bagiku, masa itu masa-masa berat. Apalagi ditambah sedikit masalah yang kemudian muncul disana.
Aku dituntut untuk tiba-tiba mengerti banyak. Untuk jadi lebih mengerti arti mengalah, arti uang, arti ikhlas, arti tak diutamakan lagi, arti harus lebih siap sendiri, arti dimarah adalah sayang, arti mandiri, manisnya sabar, pengorbanan, sakit yang harus ditutupi, kekurangan yang harus dicukup-cukupi, dan belajar mendewasa. Awalnya memang sulit. Aku ingat sekali, dulu hampir tiap hari menangis karena homesick dan tak tahan sendiri, hehe. Tapi memang begitulah seharusnya kan. Keluar dari zona nyaman. Itu penting. Kenyamanan adalah jebakan yang sebenarnya membuatmu semakin tak berkembang.

.
Untuk kita yang hari ini berani merantau. Suatu hari nanti ketika pulang, mungkin akan ada banyak orang yang memberikan bermacam kata. semangat, senyum, penurun rasa, membuat down, atau hanya sekedar pernyataan semacam tak menyangka sudah sepanjang ini perjalanan yang kita lalui. Mereka tentu boleh berpendapat apapun. Tak apa, ambillah apa-apa yang bisa membuat diri kita lebih berkembang lagi, dan buang saja kata mereka yang hanya berniat menjatuhkan.

.
Eh, kok jadi ngelantur ya hehehe. Intinya hari ini kenangan jadi manis sekali. Mengingat masa lalu melalui orang-orang tak selamanya tentang menye-menye karena galau, tapi juga perihal belajar memaknai takdir dengan ikhlas, dan perihal mendewasa untuk membentuk pribadi yang lebih baik lagi.
.
Terimakasih ya sudah mau baca:) See ya di lain cerita.

KATA-KATA (Curhat Unfaedah:D)

Halo, aku sekarang sedang di perjalanan menuju ke lampung. Hari ini adalah hari termanis kedua setelah 12 februari. Aku senang, sekali. Barusan ibu telepon, katanya adik-adik antusias sekali menunggu di rumah. Terimakasih ya, Tuhan. Sudah memberi hari sebahagia ini. Aku sayang semuanya. Serius, hehehe.

Siang ini palembang lengang. ada beberapa angkot-angkot kuning berlalu lalang, sisanya motor dan mobil yang sedang melaju ke tujuan masing-masing. Senangnya, aku menikmati perjalanan kali ini. Pohon-pohon di tepi jalan jadi lebih bermakna. Seperti membentuk kenangan bahwa aku pernah melewatinya dengan perasaan membuncah di bulan februari, di antara hari-hari libur semester 6. Kata teman-temanku, liburan ini harus dinikmati, jangan terlalu memikirkan yang lain, begitu katanya. akan ada banyak amanah menunggu di depan, yang nanti akan lebih banyak menguras pikiran. baiklah.

Siang ini juga hangat. Aku tak pandai mendeskripsikan. Biar kali ini tulisanku dibuat mengalir saja ya, hehe. Kalau kamu bosan membacanya, skip saja ke yang lain. Mungkin nanti unfaedah buat kalian hehe. Bukan aneh, hanya, seperti ada begitu banyak perasaan yang bergumul dalam diriku. 

Ini rindu? Mungkin. Ini sedih? Mungkin. Ini bahagia? Mungkin. Ada banyak kemungkinan sedang bersarang di semesta kepalaku. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku pulang sendiri. Tapi entah kenapa kali ini terasa lain. Dadaku terasa lebih hangat, juga lebih sesak.

Kalau aku cerita bahwa ini tentang rindu. Pasti kamu akan menganggapku gadis paling menye-menye. Hahaha. Hidupku kebanyakan mikirin rindu sih. Rindu ke siapa saja pokoknya aku pikirin. Padahal, bukankah setiap jalan cerita di dunia ini sudah ada yg mengatur kan? Padahal harusnya kita memikirkan hal-hal yang pasti saja macam kematian kan? Dasar akunya saja yang terlalu sok-sok bingung. Hiks.

Oh tapi tenang saja. bukan, ini bukan tentang rindu. Mungkin ini semacam perasaan pelepasan yang sepi. Akhir-akhir ini aku jadi lebih banyak belajar tentang hakikat hidup. Tentang kebahagiaan yang sebenarnya. Tentang arti kebersamaan. Tentang kenangan. Tentang berkomunikasi. Tentang arti sahabat. Tentang makna waktu-waktu yang terlewat. Tentang apa saja. Semakin banyak yang aku tangkap dari semesta ini, semakin membuatku hanya bisa terdiam. Apa, ya? Yang sudah aku lakukan sepanjang 19 tahun ini? 

Aku kadang-kadang sering berpura-pura dewasa. Atau menguat-nguatkan hati. Orang-orang yang baru kenal aku, pasti tak akan menyangka bahwa aku adalah extrovert yang enyek2. Hahaha. Kadang aku sering tertawa sendiri mengapa suatu waktu bisa bersikap seperti itu, atau mengapa bisa mengucapkan kalimat-kalimat bijak seolah aku adalah yang paling mampu. Termasuk kelabilan saat akhirnya aku post tulisan ini. Mungkin, ini semacam bentuk pertahanan diri.

Mungkin juga banyak yang tak tau. Orang-orang yang pandai menasihati diri sendiri pun punya sisi lemah yang paling lemah ketika terus menerus dijatuhkan. 

Penguat. Mungkin itulah yang paling penting. Setiap manusia punya masa naik dan turun. Punya masa-masa menyedihkan dan membahagiakan. Nah, saat memasuki fase turun, setiap-orang butuh penguat untuk membantunya naik lagi. Membantunya untuk semangat lagi. Coba cek lagi diri kita. Apakah kita sudah termasuk insan yang membantu orang-orang di sekeliling agar lebih kuat, atau malah justru menjatuhkan? 

Padahal, jadi penguat tak sulit lho, setidaknya jika tak mampu membantu, jangan menjatuhkan.

Menurutku, kata-kata adalah hal yang penting. Kalau tak penting, mengapa kita bisa termotivasi untuk semangat jika diberi kata-kata positif? Atau kalau memang menurutmu tak penting, mengapa kita marah kalau ada orang yang datang mencaci maki dengan kata-kata megatif? Toh hanya sekedar kata-kata kan? Bukan kontak fisik. Tapi, kata-kata menurutku lebih tajam dari belati.

Orang-orang zaman ini, tentu semua pandai bagaimana berkata-kata. Penggunaan kata-kata, dan fungsi dari masing-masingnya. Dari masa taman kanak-kanak kita belajar. Bukankah harusnya sudah pandai menempatkan kata-kata yang tepat pada posisinya?

Sayangnya, ada sebagian orang yang tertidur saat penjelasan perihal kata-kata dikumandangkan jelas-jelas oleh guru. 

Oh, ya. Begitulah. Kalau kamu sudah baca sampai paragraf ini, aku ingin mengucapkan Terimakasih karena kamu sudah mau baca. Kalau ceritaku unfaedah, lupakan saja, hehehe. 
Di bawah langit biru, 

Februari 2018.

REVIEW BUKU SEMUSIM DI BARZAKH–HADI FAYYADH

Judul : Semusim Di Barzakh

Penulis : Hadi Fayyadh

Penerbit : Iqes Tijarah Trading

Tebal : 299 hal
Bissmillah.

Alhamdulillah Qodarullah beruntungnya saya dapat membaca buku yang teramat bagus ini diperantarakan melalui seorang sahabat baik hati suatu senja di Istiqomah. Jum’at, 12 Januari 2018. Semoga Allah selalu melimpahkan kasih sayangNya untukmu. Barakallahu fiik.

Buku ini bercerita perihal Fayyadh. Seorang pemuda yang menemukan hidayahnya dengan cara yang tak biasa. Allah begitu sayang padanya hingga dalam waktu singkat ditunjukkan mana-mana nikmat dan sengsara di alam setelah kematian nanti. Kemudian dalam waktu yang singkat pula dikembalikan lagi ruh Fayyadh ke dunia agar dapat menyampaikan berita perihal siksaan dan kenikmatan yang pernah ia temui selama di alam lain, sebagai bahan pembelajaran bagi yang lainnya.

Di dalamnya disebutkan juga Humaira, seorang gadis yang dicintai Fayyadh sejak lama. Humaira adalah gadis yang shaleha. Tutur katanya lembut, pakaiannya anggun, parasnya bersih. Namun sayang, kisahnya harus berakhir tragis karena bunuh diri. Cerita pengakhiran masa hidupnya yang menyedihkan disebabkan oleh nafsu manusia yang tak dapat ditolak belangnya. Humaira mengandung sebelum dipinang satu pemuda shaleh pun yang sejak lama diimpikannya. Ia marah pada Allah. Disangkakannya Allah tak mau tolong semua deritanya hingga ia bersekutukan dengan yang lain. 

Dari Humaira saya belajar, berbuat baik dengan maksud ingin diperlakukan baik pula ternyata bukan sepenuhnya konsep yang benar. Sejatinya berbuat baiklah hanya untuk mengharap keridhoanNya. Sebab jika kita memang mengaku cinta pada Allah, maka Ia akan terus meningkatkan derajat kita melalui ujian-ujian. Setiap manusia melewati tingkatan ujian yang berbeda-beda. Namun, sesulit apapun itu, tetaplah kita tak patut menganggap ujian itu diberikan sebab Allah benci dan tak sayang kita. Sebaliknya, Allah sedang mempersiapkan hadiah yang sangat manis di hadapan kelak, jika kita mau lebih banyak bersabar dan memohon hanya padaNya.

Buku ini juga mengentrikan banyak hal-hal mengenai apa-apa saja yang akan ditemui setelah kematian. Seperti malaikat yang akan bertanya-tanya perihal keyakinan tiap-tiap manusia. Kemudian terdapat lelaki tua yang berniat menemani Fayyadh sepanjang perjalanan. Disebutkannya, laki-laki itu ialah amal yang memiliki umur sebaya dengan Fayyadh, namun ia menjadi tua dan lemah tak berdaya sebab Fayyadh tak banyak berbuat amal selama di dunia. Andaikan Fayyadh banyak beramal, maka tentulah amalnya akan mewujud sosok kuat yang dapat menolong setiap kesulitannya sepanjang perjalanan itu.

Kemudian terdapat juga laki-laki berjubah hitam dan berwajah buruk. Itu adalah wujud perbuatan tak baiknya selama hidup di dunia. Dinyatakan pula sebuah pohon yang ada di tepi-tepi padang. Namun Fayyadh tak dikenankan untuk berlindung di bawahnya. Pohon itu mewujud bantuan yang pernah diberikan untuk orang lain. Namun sebab Fayyadh berat tangan untuk menolong orang, maka ia pun tak dibolehkan berlindung.

Selain itu, diceritakannya pula perihal perkampungan yang di dalamnya terdapat rumah-rumah dibakar api, namun tak pernah hangus. Ditemukannya sebuah pintu bertuliskan syahadat yang telah berdebu, itulah wujud akidah islam yang tak pernah dihaluskan lagi oleh Fayyadh. Ada pula dilihatnya sungai pekat berdarah diminum oleh orang-orang yang tak mau berpuasa selama di dunia.

Ditemukannya pula orang-orang terdekatnya semasa hidup yang ternyata di alam ini menyalahkan dirinya.

“Fayyadh, kau pernah ajak aku berbohong, terimalah bara api ni!”

“Fayyadh, kau pernah beri makan aku uang haram, terimalah kesakitan ni!”

“Fayyadh, gara-gara kau aku masuk neraka!”

Namun, selain semua pesakitan yang ia temui, ditemukan pula ia dengan perkampungan nan damai sejahtera. Di dalamnya terdapat orang-orang hilir mudik saling tertawa bahagia. Ada yang menciduk segelas dari sungai susu, di tingkat lainnya ada sungai berwarna keemasan serupa madu, sungai-sungai itu bertingkat-tingkat dan lezat rasanya. Aduhai beruntungnya orang-orang yang akan menjadi penduduk disana. Mereka saling panggil dengan bersebut ayah, ibu, dan sanak saudara lain. Namun tak ada yang tua, semuanya kembali berparas dan berjiwa muda.

Buku ini ditulis dengan alur yang runtut dan visualisasi yang semarak. Karakter masing-masing tokoh digambarkan detail sehingga meninggalkan karakter kuat dalam benak. Pembaca pula akan dibawa berimajinasi pada alam-alam yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, menemukan pengetahuan baru, dan yang paling utama adalah menemukan makna bahwa dunia ini adalah peristirahatan yang fana. Tak ada yang abadi dan dapat kekal dibawa mati selain amal ibadah. Sungguh pun, seluruh harta kekayaan, kecantikan, ketampanan, ketenaran selama di dunia tak akan ada artinya ketika kita dimintai pertanggungjawaban pada hari pembalasan.

Memanglah, pada hakikatnya dunia adalah tempat singgah untuk mempersiapkan apa-apa yang akan dibawa ke akhirat. Belajar, beribadah, berlomba dalam kebaikan, dan berusaha meraih ridho Allah. Jangan lupa pula untuk Senantiasa mengingat kematian. Ia bisa datang kapan saja tak pandang umur dan masa. Tak dapat ditepis, dan tak dapat ditawar-tawar.

MasyaaAllah. Jazakallahu Khayran Ust Hadi Fayyadh telah menuliskan novel yang begitu santun sebagai penggugah jiwa. Barakallahu fiik.
.
Di bawah langit biru.

Palembang, 17 Januari 2018.

GADIS

Pic by: hipwee

Dia; Gadis manis yang gemar bercermin

Dipoleskannya bedak tebal-tebal, pelukis alis, dan pemerah bibir

Ditatapnya sekali lagi cermin di hadapannya,

“Cermin, bukankah aku gadis paling cantik?”

“Itu bukan dirimu.” cermin melengos.

Gadis itu marah. Dilemparnya bedak-bedak sampai cermin retak-retak

Ditanyakan sekali lagi.

“Cermin, bukankah aku gadis paling menawan? Aku bisa mendapatkan apapun dengan kecantikanku.”

“Itu bukan dirimu!” jawabnya sama.

Cermin lebih rindu Masa-masa dulu

Gadis itu

Punya hati yang jauh lebih cantik

Dua pertiga bulan lalu

Dipeluknya kitab-kitab di tiap sepertiga malam

Dikecupnya sajadah bersama tangis-tangis

Dan ditengadahkannya kedua tangan

Berharap ampunan mau cepat-cepat datang

Sayangnya, sejak gadis itu kasmaran oleh dunia

Digelombangkannya rambut-rambut hitam merupa kanal-kanal

Dilukisnya warna-warna agar bibirnya terus merona

Dikunjunginya gedung penuh musik, hingar bingar, dengan lampu-lampu yang tak henti berkedip

Sorot cahaya menerangi liuk-liuk tubuhnya yang diperhatikan berpuluh pasang mata

“Itu bukan dirimu!” Anak cermin dalam tasnya menangis marah.

Ia, yaAllah, telah kehilangan dirinya sendiri.

Malam hari, ketika malaikat berkunjung

Gadis itu berdalih,

Kumandang azan tak dihiraukan

Musik-musik masih mengalun

“Aku belum mau pulang.” katanya.

Namun, cahaya-cahaya memang benar telah membenci

Ditinggalkannya gadis itu bersama malaikat sampai pagi

“Pulanglah, Tuhan tak suka kau abaikan mentah-mentah.”
Rumah Hujan, Desember 2017.