A GIFT

Kalau aku adalah jeruk sunkist, maka kalian pun adalah jeruk sunkist. Sayangnya, kita dilahirkan tak dari Mak pohon yang sama. Membuat hari-hari terasa lebih lama tiga menit lewat setengah detik untuk bisa bersua setiap harinya. Padahal, kalau kita sepersusuan, mungkin aku bisa lebih lama menyelam dalam-dalam di inti hati kalian. Berjalan bersama-sama. Terus begitu sampai ladang di halaman akhirnya ditumbuhi gandum yang merekah sebab dihujani cokelat cococrunch hingga kuyup-kuyup.

Kadang-kadang, aku sering tanya pada Mak.

“Kalau suatu hari nanti, Mak pergi, aku harus dengan siapa?”

“Bergantunglah dengan Allah. Dan ingat selalu untuk menjadi manusia yang baik. Agar orang-orang disekitarmu pun baik.”

“Selalunya begitu?”

“Iya. Jangan lupa juga selalu bersyukur. Agar rezekimu ditambah selama Mak tidak ada. Jangan curi biru-biru. Rezeki dari Allah bisa berbentuk apa saja. Bertemu sahabat-sahabat yang baik juga merupakan rezeki.”

.

Aku manggut-manggut saja. 

“Allah baik sekali ya, Mak.”

Advertisements

Sepotong Masa

Suatu waktu, mungkin kita pernah merasa menjadi manusia paling bahagia. Di waktu lainnya, semesta membawa kita seolah menjadi sosok yang paling terpuruk.

Menjadi kecil atau besar, bukankah juga merupakan sebuah pilihan? Merasa bahagia atau tidak, bukankah juga merupakan sebuah pilihan?

Memilih untuk terus diam dalam kesedihan artinya membiarkan diri tak bisa berkembang. 

Memilih untuk egois dan tak peduli artinya membentuk keadaan untuk menjadi apatis jika nantinya kita butuh.

Memilih untuk bersyukur artinya menjadikan diri lebih memaknai apa-apa yang telah Tuhan berikan begitu banyak.

Memilih untuk memaafkan artinya memberi kesempatan bagi hati untuk kembali bahagia.

Seseorang pernah mengatakan,
“Ada ruang-ruang lain yang mesti kamu lalui agar bisa lebih memaknai hidup, Nduk.”

“Dunia tak berhenti hanya karena masalah yang sedang kamu hadapi sekarang. Cerita perihal hidup sulit kamu itu hanya sebagian kisah. Di belahan bumi lain, ada banyak potongan kisah bahagia lain yang boleh kamu pilih.”

“Hidup kan memang penuh pilihan. Kamu ndak boleh egois pengin kamu semuanya lancar-lancar saja. Kalau kamu pilih opsi A, artinya kamu harus siap untuk ndak jalanin yang B. Begitupun sebaliknya.”

“Dan sesulit apapun masalah yang sedang km hadapi saat ini, ingatlah kamu masih punya Allah yang selalu maha Besar. Menjadikan kamu seorang yang paling bahagia detik ini mudah untukNya, nduk. Tapi Ia sedang lihat usahamu. Seberapa kuat rasa sabarmu, seberapa serius lafal doa-doamu, dan seberapa ingin km ingin dekat denganNya.”

“Jalanlah Nduk, jangan berhenti di tempat nyamanmu sekarang. Kamu bisa lebih berkembang dari sekarang kalau kamu memilih untuk mau.”

Awan-awan cumulonimbus kemudian berbisik pada angin. Katanya, mereka ingin dirapatkan saja.

.

“Kenapa mau rapat-rapat?”

“Supaya bisa kapan saja jalan keliling semesta. Memayungi si Nduk agar tak lagi luka-luka.”

Rumah, 11 Muharram 1439H.

Belajar Memahami

Halo, adek sayangnya mbak.
Nggak terasa ya, sekarang usianya sudah 6 tahun. Semoga abang tumbuh jd anak yg pintar dan sholeh syg. 

Terimakasih ya sudah mengajarkan banyak pengalaman baru selama ini.

Terimakasih sudah mengajarkan banyak sabar, capek, kesel, tp jg sepaket dg bahagia sederhana yang terselip di dalamnya.

Darinya, saya belajar mengerti perihal dunia anak yang begitu manis. 
Belajar mengerti bahwa di usia-usianya saat ini, anak-anak telah memiliki persepsi sendiri perihal sesuatu. Kita mungkin pernah, beberapa kali memaksakan kehendak agar mereka mau nurut saja pada kemauan kita. 

“Pokoknya diam di sini ya jangan kemana-mana dulu.”

“Abang pake baju ini aja. Yang lain warnanya jelek.”

“Abang nggak boleh nakal mainnya.”

“Abang nasi gorengnya habis. Makan yang ada dulu aja ya.” (Padahal lagi capek mau masak wkwk)

Padahal saya sendiri pun banyak sadar, waktu-waktu pemaksaan itu banyak terjadi ketika sedang sangat lelah untuk sekedar menemaninya bermain di luar, atau untuk menemani menjawab pertanyaan-pertanyaan ajaibnya, atau untuk menyetrika baju kesukaannya padahal waktunya mepet ketika akan pergi.

Namun seiring waktu berjalan, saya kemudian mengerti. Anak-anak pun mestinya boleh memilih. Perihal apa-apa yang mereka suka dan tidak suka. Meskipun kebanyakan kasus akhirnya tidak sependapat, tetapi jika masih dalam koridor yang baik dan bisa diawasi, biarkan saja mereka mengeksplor hal-hal yang mereka ingin tahu. Mematahkan keinginan mereka–jika tak dengan alasan yang tepat, secara tidak langsung akan menanamkan konsep dalam pikirannya bahwa mereka tak bebas untuk mencari tahu apa yang mereka ingin tahu. Secara tak langsung juga bisa membunuh ide-ide kreatifnya untuk belajar perihal sesuatu.

Saya juga belajar. Adik saya adalah tipe anak yang sangat humble dan ceria, dan poin pentingnya selalu pemaaf(atau tidak peka ya hehe entahlah) Karena terlalu over aktif dan tak bisa diam, kadang-kadang ayahnya bisa jadi sering marah di rumah, atau ia bisa dihukum sampai lima kali dalam seminggu di sekolahnya. Anehnya, setiap habis dimarahi, lima menit kemudian dia akan langsung lupa. Dan isi kalimat marah tadi akan langsung mental entah kemana. Hehehe.

Saya kemudian mencari-cari cara apa yang bisa cepat melekat untuk memberitahunya perihal A yang baik atau B yang tidak baik. Ternyata, memberi nasihat ini pun ada tekniknya. Anak-anak memiliki kepribadiannya masing-masing dengan semua kekurangan dan kelebihan. Jadi, setelah eksperimen berbulan-bulan. Teknik yang paling manjur adalah mengajaknya berbicara, berdua saja. Ketika sedang makan, atau sambil belajar membaca, atau sebelum tidur sambil dibacakan cerita, nasihat yang akan diberikan disampaikan perlahan, diiringi bercanda sesekali. Dan dengan kalimat 

“Abang kan pintar, nanti mau jadi anak sholeh, mau jadi ustadz dan dokter, mau buat bangga ayah. Abang sayang kan sama ayah?”

Ia terdiam sejenak. Lalu mengangguk sembari menyeletuk polos.
“Kalau abang sering nakal, ayah sedih ya mbak?”

“Iya … ayah kan berdoa terus buat abang. Kalau abang jadi anak pintar dan sholeh, ayah pasti seneng.”

“Oooo… Yaudah abang nggak mau gangguin temen-temen lagi mbak. Biar ayah nggak sedih.”

“Naah gitu dong. Abang hebat.” Saya lalu tersenyum.

Belajar dengan anak-anak, terkadang gampang-gampang susah. Belajar sabar saat mereka mengacak-ngacak rumah karena ingin tahu sesuatu. Belajar memahami saat mereka berbuat salah mereka tak ingin dimarahi, tetapi dielus lembut kemudian dinasihati. Meskipun banyak pula kesel dan capeknya, Tapi percayalah, capek-capeknya akan hilang seketika saat tiba-tiba mereka selalu punya kejutan, hal-hal sederhana yang membuat kita terkadang merasa terharu dan tersenyum melihat kepolosannya.

Seperti sore ini, sepulang bermain suaranya yang lengking langsung memenuhi seisi rumah. Memanggil namaku. Lalu dengan cepat muncul di pintu dapur.

“Mbak, katanya semalem pengen es krim?”

“Iya, nanti ajalah dek. Udah ilang pengennya.” jawabku sambil masih mengeruk sisik ikan sepat di dapur.

“Nah buat mbak.” ucapnya sembari menyodorkan satu bungkus es krim.

Saya menoleh, lalu mengernyit. “Abang pake uang siapa?”

“Tadi abang dikasih ayah uang, terus beli eskrim coklat dua. Satu buat abang satu buat mbak.” 

Selukis senyum kemudian mengembang.

Aylaview, dek.

Secangkir Kenangan


•6 Januari 2017

Perempuan itu sedang bahagia. Bibirnya membentuk lengkung bulan sabit yang amat manis. Lebih manis dari butiran gula pasir, atau secawan madu dari lebah terbaik di hutan balik bukit. Mata perempuan itu bening berbinar-binar. Cerah seperti langit tanpa awan.
Mereka membicarakan apa saja. Perihal hidup, teman yang mengesalkan, cerita lucu, mimpi-mimpi indah, realita yang ada, harapan untuk hari yang akan datang, dan banyak hal lain. Seperempat menit ini mereka tergelak berdua. Seperempat menit lain saling terdiam merenung. Dan seperempat menit kemudian menunduk dengan mata berkaca-kaca.

“Selesaikan apa yang belum selesai. Jangan takut bilang ‘tidak’ hanya karena tak enak hati.”

Perempuan itu mengangguk. Menit berikutnya, mereka telah larut kembali dalam tawa. 

“Tau nggak? Float ini enaak banget. Hehehe.” perempuan itu meringis sembari menatap lekat seseorang di hadapannya. Tangannya sibuk mengaduk segelas iced coffee float. Hatinya kini terasa lebih teduh. 

Seseorang di hadapannya menarik gelas di genggam tangan gadis itu. Tangannya menukar gelas float yang tersisa setengah dengan gelas miliknya yang masih berisi penuh coffee float.

“Kalau kamu suka floatnya, yang ini untuk kamu aja. Habisin ya.” ucapnya sembari menahan tawa.

“Nggak ah, malu.”

Tawanya lepas.

“Serius. Nggak apa habisin aja.”

Mata perempuan itu berbinar lagi. 

                   ***

•Hari ke-180 setelah 6 Januari

.

.
Perempuan itu datang lagi. Kali ini ia sendiri. Oh tidak. Ia tak sendiri. Dua bohlam yang berpijar mengintip dari balik celah bergaris-garis. 

[To be Continue …]

A Little Happiness

IMG20150823075819
Dalam tiap-tiap ruang yang terasa sempit, ternyata ada banyak bahagia-bahagia kecil yang selalu Allah selipkan di tiap-tiap hari. Seperti,

Bau tanah yang diguyur hujan setelah subuh tetiba jadi aroma yang paling segar dan menyenangkan untuk dihirup saat berada di tengah-tengah euphoria sibuk-sibuk ujian, begadang, dan penat dengan tumpukan buku-buku tebal.

Atau,

Suara anak-anak kecil yang tengah bermain sambil bergelak tawa polos tetiba jadi pemandangan yang paling menyenangkan untuk diperhatikan dari atas ojek yang melaju kencang, dengan setumpuk pikiran dan kesah dalam kepalaku.

Atau,

Menemukan odong-odong berbentuk kuda yang tengah memutar lagu potong bebek angsa dengan hiasan kerlap kerlip lampu tetiba jadi suasana yang paling menyenangkan untuk diperhatikan sambil berjalan saat malam-malam diminta ayah membeli gula di warung depan komplek, dengan semesta kepala yang penuh dengan deretan opsi yang harus dipilih perihal belajar bersikap dewasa, dan pertanyaan-pertanyaan tentang hidup.

Atau,

Uluran tangan seorang sahabat yang memberikan es krim saat tengah berada dalam kebosanan tetiba menjadi sesuatu yang sangat bermakna untuk dikenang.

Perasaan bahagia yang sederhana itu sering tiba-tiba hadir di saat-saat abstrak. Melalui bahagia-bahagia kecil yang kita temui dan rasakan, mungkin Tuhan sedang mencoba memberi kode, memberi petunjuk, atau berusaha memberi tahu bahwa bagian terang dalam hidup yang menyenangkan itu masih ada. Kita hanya sedang bermain di sisi sebelah lain. Nanti, jika tiba masanya, kita juga akan sampai ke titik yang diharapkan. Kita hanya perlu terus bersyukur agar apa-apa yang berat tak terasa berat, agar apa-apa yang sulit tak lagi terasa sulit.
Sya’ban 1438 H.

Di jalan kenangan.

Merayakan Kesedihan


Dear, AAR.

Kalau disini aku tengah bersedih, apakah kamu pun merasakan hal yang sama disana? Hal-hal seperti apa yang bisa mendatangkan kesedihan untukmu, A?

Aku belum banyak mengerti. Kamu tahu, A? Perihal sedih, kesedihan, dan menyedihkan kata orang-orang adalah topik yang paling mudah untuk diseduh menjadi bercangkir-cangkir puisi dan prosa. Tapi tidak bagiku. Aku bhkn tak bs mmikirkan satu pun kata manis utk melukiskan bagaimana perasaan yang tengah brsrang saat aku sedih.

Ibu banyak sekali mewanti-wanti, bahwa perihal kesedihan tak seharusnya ditangisi atau semakin disedihkan. Bahwa perihal kesedihan mestinya dirayakan agar ia cepat-cepat hilang.

Bagaimana cara merayakan kesedihan menurutmu, A?

Haruskah aku pergi berkumpul dengan orang-orang, membicarakan hal yang entah apa lalu kemudian melakukan sesuatu yang disebut orang sebagai ‘menikmati hidup’?

Atau

Haruskah aku menulis berlembar-lembar surat rindu, melipatnya menjadi perahu kertas, membiarkannya berlayar di sungai, lalu tergelak sendirian merayakanmu yang kini telah jauh?

Atau

Haruskah aku terdiam menerima semua , lalu berpikir yang baik-baik saja agar tak perlu resah dengan hidup yang memang seharusnya baik, namun aku sendiri yang membuatnya rumit?

mungkin ibu memang benar, A. Kesedihan tak perlu ditangisi. Ada banyak cara untuk merayakannya. Ada banyak cara untuk membuat semua terlihat baik-baik saja lalu kembali tersenyum menjalani takdir yang telah digariskan Tuhan.

Kesedihan perlu dirayakan agar ia cepat-cepat hilang, A. Ratusan purnama lalu, sedih adalah sebuah bahagia yang lahir dari rahim seorang gadis yang lupa bersyukur. Sejak malam itu, ia menangis dikutuk menjadi sedih. Kesedihan tak terlalu suka dengan keramaian. Ia tak terlalu suka pun pada senyum orang-orang yang bahagia. Tak terlalu suka melihat gelak tawa. Ia hanya cinta pada raut-raut murung yang berpikiran kacau. Katanya, orang-orang tak perlu terlalu sedih agar tahu tak enaknya dikutuk menjadi sebuah sedih.

Ah, aku mengerti sekarang. Kapan-kapan, aku akan mengajakmu datang di perayaan kesedihanku, A. Kesedihan perlu dirayakan agar ia cepat-cepat hilang. Kamu mau datang, kan?
Subuh Hujan.

06 Mei 2017.

Sepaket Rasa

Aku meyakini perihal, Tuhan memberikan kita masalah selalu sepaket dengan solusinya. Kita yang merasa ingin cepat menyerah, mungkin adalah beberapa yang tak sabar menunggu. Terkadang, solusi itu memang tak bisa ditebak kapan akan muncul. Bisa jadi ia datang dengan mudah dari tangan orang-orang sekitar, atau bisa pula datang melalui sesuatu yang tak diduga akan terjadi. Tapi percayalah, penyelesaian itu pasti akan dipertemukan oleh Tuhan.

Seperti masalah yang diberikan sepaket dengan solusi. Setiap harapan dalam pertanyaan hidup pun telah diberikan sepaket dengan jawaban. Jawaban itu sudah dijanjikan akan datang. Cuma ya itu tadi, manusianya memang harus sabar menunggu. Kalau cepat dijawab dan diberi, artinya kita harus banyak bersyukur. Kalau dijawabnya lama, mungkin Allah sedang menguji tingkat keseriusan kita akan hal yang diinginkan tersebut. Dan kalau dijawabnya tidak sesuai harapan, maka berarti ada hal lain yang lebih baik sedang Tuhan persiapkan untuk kita. Berbaik sangka denganNya akan selalu berbuah manis, kan?

•••

Aku sedang mengupas bawang putih dan melepas bulir-bulir cabai rawit hijau dari tangkainya ketika suara Bang Rijal menggema dari arah depan.

“Deeeek. Assalamualaikum.”

“Iya Baaang masuk ajaaa.” Mukaku masih penuh peluh. Biasanya setiap Bang Rijal datang aku selalu ke depan membawa segelas air putih, atau handuk kecil, atau paling tidak menyempatkan untuk mencium tangan menyambutnya pulang. Tapi kali ini gorenganku sedang tak bisa ditinggal. Jadilah dia ngeloyor masuk langsung ke dapur.

“Dek, abang mau tanya.”

“Hmm? Tanya apa Bang?” ucapku tanpa menoleh. Sebenarnya tadi aku berencana pura-pura merajuk. Sebabnya janji makan soto madura berdua di kedai ujung jalan selalu batal gara-gara tugas lemburnya di kantor yang tak pernah bisa ditinggal. Katanya kemarin sore beli sendiri saja bawa ke rumah. Ih, kan pengen makannya berdua geh. Terang saja aku sedikit kecewa. Tapi sayang, rencana merajukku selalu gagal. Bang Rijal lebih pintar untuk urusan membuat hatiku luluh.

“Kalau suatu hari nanti kamu lagi pengen sesuatu terus abang nggak bisa penuhin, gimana?”

Bola mataku berputar sedetik. “Emm … gimana yaaa.”

“Bakal marah-marah nggak?” Ia menatapku lekat, menunggu jawaban.

“Nggak. Palingan ngambek aja, hehehe.”

“Ngambek ya?” Bahunya turun pelan, lalu bergeser tempat duduk dengan raut sesal. Aku tertawa kecil melihatnya.

“Ih Abang, ya nggak ngambek lah. Kalau Abang lagi ga bisa penuhin kan berarti ada hal lain yang lebih penting untuk dicukupin. Kalau Abang nolak juga pasti untuk kebaikan kita. Tenang aja, Rifa ngerti kok.” ujarku dengan senyum, sambil masih sibuk mengulek sambal bawang yang cabenya baru diangkat dari wajan panas.

“Beneran?”

Kali ini aku menoleh. “Iya. Emangnya kenapa? Kok tumben tanya begitu?” ucapku sembari mengambil mangkuk kecil. Memindahkan sambal bawang yang baru diulek. Dari aromanya saja sudah tertebak, ini pasti rasanya lebih huaah dari yang huaah.

“Em, Abang tadi sih mau tanya sesuatu. Tapi kayaknya kamu masih konsentrasi masak penuh nih. Ntar aja deh.”

Aku berbalik badan sambil meringis. “Hehehe, maafin ya Bang, adek diajak ngomong daritadi nggak noleh. Ini udah selesai kok, lauknya juga udah masak. Yuk kita duduk dulu.” ucapku sembari menariknya ke kursi panjang dekat meja makan.

“Dah, Abang mau bilang sesuatu apa tadi?”

“Kalau rencana pulang ke Lampungnya ditunda lagi, gimana?”

Aku menghela nafas pelan. Sudah sejak delapan bulan lalu aku mengajaknya berkunjung ke rumah ibu. Namun selalu belum ada kesempatan. “Abang ada tugas ke luar kota lagi?”

“Iya. Sampai abis lebaran.”

Aku menunduk.

“Kamu kecewa Dek? Maafin abang yaa, ini proyeknya ga bisa ditinggal banget.”

Aku kemudian menatap matanya lekat. Ada ketulusan dan kasih yang teduh disitu. Peluhnya menetes beberapa dari dahi. Aku baru ingat tadi tak sempat menyambutnya dengan handuk saat ia mengucap salam sambil mengetuk pintu. Pikiranku masih penuh dengan racikan bumbu ayam penyet dan sambal bawang di belakang. Ah, ia pasti sedang lelah kini. Pantaskah aku mengeluh hanya karena keinginan yang tak terpenuhi? Ah, Allah mungkin sedang menyiapkan rencana lain. Keep happy Rifaaa. Kata hatiku berusaha menenangkan.

“Dek?”

“Eh, iya Bang? Ohh Abang ada tugas lagi. Iya nggak apa kok. Rifa kan udah biasa juga ditinggal sendiri di rumah, hehehe. Tenang aja Bang.”

“Beneran?”

“Iya beneran.”

“Nggak nangis lagi karena kangen sama ibu?”

Aku menepuk pundaknya pelan. Pura-pura merajuk. Ia lalu tertawa renyah.

“Makasih ya adek selalu ngerti. Kalau gitu … abang ada kejutan nih.”

Mataku berbinar mendengarnya.

“Kejutan apa Bang?”

Ia mengeluarkan dua lembar tiket dengan tujuan penerbangan CGK-DXB.

“DXB? Dubai Bang?”

Ia mengangguk. “Karena kali ini tugasnya lama. Pimpinan abang ngebolehin ngajak kamu. Jadi nanti kita idul fitri di Dubai. Dulu kamu pengen banget ke sini kan. Sekarang Allah bantu lewat jalan ini. Seneng nggak?”

Aku langsung melompat memeluknya erat dengan rasa bahagia yang membuncah. “Abaaaaang! Alhamdulillahhh.”

Hatiku merapal penuh kalimat syukur. Allah baik sekali, Ia selalu memberi lebih dari yang kuharapkan. Berbaik sangka denganNya selalu berbuah manis, kan;)

Malam Hujan,

Akhir April 2017.

Cerita Ombay

“Kalau kasih sayangnya sudah nggak ada lagi. Artinya bagaikan langit tak berbintang Mbak. Nggak bersinar lagi. Langitnya padam.”

Aku tertawa mendengarnya. “Jadi harus gimana Mbay?”

“Makanya kasih sayang harus selalu dipupuk meskipun udah tua. Orang-orang di dusun sering bilang ombay menel. Biarin. Itu kan suami ombay. Apa-apa yang ada di ombay udah dia tau semua. Udah diterima semua. Kenapa harus malu menunjukkan kasih sayang?”

“Ah ombay romantis bener. Nanti mbak juga mau bilang sayang terus ah sampe tua😂”

“Bukan bilang sayang, tapi menunjukkan kasih sayang, Mbak. Rasa sayang, cemburu, dan takut hilang itu penting untuk jaga apa yang udah dibangun selama ini.”

Ps: Percakapan di atas terinspirasi oleh ombai yang akhir-akhir ini jadi sering curhat, buat kata-kata puitis dadakan, dan nenek-nenek pengingat kenangan paling hebat:p

Efek merajuk


Menurut kamus besar bahasa Palembang, merajuk bisa didefinisikan sebagai kata ngambek. Eh, ngambek bahasa apa ya? Hehehe. Hmm, kira-kira artinya melakukan sesuatu yang tak biasa agar dimengerti oleh orang sekitar bahwa ada maksud hati yang ingin dipenuhi, wkwk. *inidefinisiapaanya:D

Kata orang-orang, biasanya perempuan yang identik dengan kata ‘ngambek’ atau merajuk ini. Sebenarnya, aku juga sering sih, dulu, tapi sejak mengerti bahwa hal ini kurang baik, semesta kepalaku jadi berputar tujuh kali untuk menimbang-nimbang setiap kali akan merajuk. Merajuk buat apa kah? Penting kah? Bermanfaat kah? Tak bisa dibicarakan langsung kah? Atau paling tidak jika sulit dibicarakan, bagaimana kalau dituliskan saja? Daan banyak lagi sederet pertimbangan lain.

Ternyata … merajuk itu merepotkan lho, serius. Efeknya bisa menimbulkan perasaan tidak enak, mengesalkan, dan meribetkan, dan kelaparan, dan kebosenan, dan lain-lain gatau apalagi, wkwk. Intinya perbuatan tidak menyenangkan yang kurang baik jika berlarut-larut.

Misalnya, seperti kisah berikut.

~~~

“Mbak, tadi dapet undangan. Udah diliat?”

*diem
“Mbak mau datang nggak?”

*diem

“Mbak, makan yuk.”

“Iya.”
5 menit kemudian.
“Mbak, ayuk makan … udah diambilin loh nasinya.”

“Kenyang.”

“Kenyang makan apaan? Belum makan apa-apa geh daritadi.”
*diem

*masih diem

*diem lagi
“Mbak?”

“Kenyang.”

Beberapa jam kemudian.
“Mbak, tadi kenapa nggak langsung pulang?”

*Diem

“Mbak, aku buat salah ya?”

*Diem lagi

“Mbak kenapa?”

*masih diem

-_-

~~~~

Aku sering tak pandai mendefinisikan sesuatu, mendeskripsikan makna, atau menerjemahkan kode-kode. kata orang-orang, aku adalah gadis yang sering terlambat mengerti. Wkwk, astaghfirullah. Bagaimanalah ya, untuk mengerti kode-kode itu aku harus melewati beberapa kali proses perekaman data, untuk memahami misalnya kode mematikan lampu artinya harus keluar dan harus meninggalkan tempat itu. Atau kode keran air yang dimatikan dari saluran depan artinya aku terlalu lambat mencuci piring. Dsb dsb.

Hehehe, ya begitu. Tapi kalau sudah pernah menerjemahkan suatu kode, biasanya akan terus melekat kok. Ini wajar kan? Terkadang kita harus membuka pintu yang salah agar bisa tau dan menemukan alasan mengapa pintu itu salah dan akhirnya memilih untuk masuk ke pintu yang benar. Namanya juga berproses ya kan, hehehe. Ini wajar atau aku yang mewajarkan? Menurutmu?

Kembali ke perihal merajuk. kali ini beneran duarius. Aku sering terlalu bingung dengan kode seseorang yang merajuk. Sebut saja namanya fulanah. Jadi ceritanya fulanah ini kalau sehabis dimarahi atau ditegur untuk sesuatu yang menurutnya berbeda pendapat, pasti akan langsung merajuk. Walaupun maksud si empunya saran sebenarnya baik, tapi dari beberapa kesempatan yang telah aku perhatikan, cara menegur fulanah ini memang harus pelan. Kalau tajam sedikit, rantingnya bisa patah berhari-hari. Bisa tidak mau bicara berhari-hari, tidak makan, tidak minum, tidak beranjak dari tempat tidur, dan lain-lain. Menyedihkan kan:’) sampai aku juga jadi kepikiran berhari-hari.

Kenapa tidak dikomunikasikan langsung saja? Atau jika sulit dibahasakan, paling tidak mengapa tidak dituliskan saja dalam secarik surat? 

Lebay?

Tidak lah.

Masalah sekecil apapun kalau dipendam dan menimbulkan sakit-sakit tetap saja berbahaya. Lebih baik diselesaikan kan. 

Mungkin … jalan satu-satunya yang paling mudah ialah saling memahami ya. A Memahami bahwa karakter B saat menyampaikan pendapat atau menyarankan sesuatu memang selalu blak-blakan namun maksud sebenarnya baik. Sedangkan B harus memahami bahwa karakter A yang tak bisa ditegur dengan cara keras. Kalau A sulit mengerti? Maka B yang harus banyak mengalah. Kalau B yang sulit mengerti? Maka A yang harus banyak mengalah. Mengalah toh tak membuat kita rugi, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari mengalah, terutama ilmu sabar. Kata ibu, Ilmu sabar itu tingkatannya tinggi , kalau ndak dipelajari dari hal-hal terkecil, bagaimana mau sabar dengan hal yang besar? Hehehe. Setidaknya begitu konsep yang kuingat selama ini.

Sebagai self reminder juga, kurang-kuranginlah kebiasaan merajuk mulai sekarang. Selain merepotkan, merajuk juga bisa berpotensi jadi racun dalam hati. Tak semua orang ditakdirkan lahir dengan perasaan yang peka kan, terkadang, kita yang perlu untuk berbicara lebih jelas dan lebih banyak lagi. Kalau tak bisa berbicara, maka tulislah. Kalau tak bisa menulis, maka pahamilah. Kalau tak bisa memahami, maka mengalahlah. Eh gimana ya ini urutannya? Hehehe ya pokoknya gitu deh. Darpada merajuk-merajuk ndak jelas, kan. Lebih baik diselesaikan langsung saja.
Yap,
Semoga

Ndak ada cerita merajuk

Yang berkelanjutan lagi.

Aamiin.
-rumah casuarine.

April 2017

Tentang hilang dan pergi


Apa obat paling manjur untuk melepas kegundahan saat merasa kehilangan? Atau paling tidak nasihat apa yang harus didengar agar bisa sembuh dan berhenti mengeluh saat ditinggal pergi?Apakah mereka yang pergi tahu bahwa tangis yang ditinggalkan jadi hal paling menyedihkan? Atau Apakah mereka yang pergi tahu bahwa mereka punya porsi penting dalam hidup yang ditinggalkan?

Mengapa mereka harus pergi? 

Ah, kita mungkin perlu percaya bahwa apa-apa yang digariskan dalam hidup ini selalu punya makna. Selalu ada maksud terbaik. Selalu diberikan agar kita terus menjadi pembelajar yang rajin dan tetap rendah hati dalam ujian hidup. Bukankah Yang Maha Esa adalah sebaik-baiknya perencana? 

                           •••

Hari ini adalah hari pemakaman eyang putri. Aku hanya mengurung diri di kamar sejak kemarin. Orang-orang di luar sibuk mempersiapkan prosesi penguburan. Aroma bunga-bunga tercium dari balik pintu. Hidungku mengernyit. 

“Hani udah dong. Masa daritadi nangis terus. Ntar eyang ikut sedih di sana.” Risky masih berusaha membujuk. Ia mengelus pundakku pelan.

“Iya Han. Eyang putri udah tenang. Emang kamu tega ngeliat eyang sakit terus?”

“Hani kan biasanya kuat, ceria. Ayo dong senyum lagi.”

“Iya … iya.”

“Ngomong sesuatu geh Han. Kami khawatir.” Tiwi menyambung dengan raut cemas.

“Aku cuma … belum siap kehilangan eyang. Dari kecil dulu, eyang putri yang selalu ada. Setiap papa mama sibuk ke kantor, aku di rumah sama eyang. Setiap pembagian rapor, setiap aku menang lomba baca puisi, setiap berangkat les tari, setiap malam-malam sepi waktu mama papa keluar kota. Cuma eyang putri yang selalu ada.”

“Dia nggak hilang, Han. Pergi sama hilang itu beda lho.” ucap Tita tiba-tiba. Sahabatku yang satu ini memang lebih banyak diam dari tadi.

“Iya ya? Bedanya apa Ta?” Indri yang menyahut. Aku masih diam tertunduk dengan mata sembab.

“Kepergian berarti penciptaan jarak yang masih terjangkau. kita masih bisa tau kemana arah dia pergi. Sedangkan kehilangan, berarti penciptaan jarak yang kita nggak pernah tau kemana arah seseorang yang hilang itu. Wong dia nya geh hilang.”

Aku melekatkan pandangan ke Tita. Ada getar yang lain dalam kalimatnya barusan.

“Bentar bentar, aku belum ngerti. Perasaan sama aja, Ta.” ucap Susan.

“Beda lah Susan cantik. Coba aku tanya nih, apa perbedaan pergi ke sungai sama hilang di sungai?”

“Aku tauu! Itu mah jelas beda Ta. Kalau pergi ke sungai, nanti bakal ada waktu pulangnya. Kalau hilang di sungai, nah belum bisa dipastiin kapan ketemunya.”

“Jadi tingkat pelepasan hilang lebih tinggi daripada pergi gitu ya?”

“Yup. Kepergian seseorang memang berat Han. Aku juga dulu gitu waktu mama dipanggil Tuhan. Tapi karena aku tau dia hanya pergi, dan punya tujuan yang jelas. Aku jadi bisa lebih tenang. Doa-doa yang kulangitkan juga jadi punya arah yang jelas. Untuk dia yang tenang disana. Dia bukan hilang, tapi pergi. Hanya butuh waktu agar kelak kami bisa bersama lagi.”

Aku manggut-manggut saja mendengar kalimat golden ways Tita. Rasa-rasanya tulang-tulang dalam tubuhku belum bisa diajak kompromi lagi untuk menguatkan sendi agar aku bisa berhenti mengeluh saat ini. Kehilangan seseorang, ehm, maksudku ditinggal pergi seseorang punya daya magis yang kuat untuk berhasil melumpuhkan semangat seorang Hani. Apalagi ditinggal oleh orang tersayang.

“Makasih ya Ta.” ucapku akhirnya.

“Iya. Apa-apa yang tak abadi memang akan selalu pergi. Doamu lah yang akan tetap sampai, Han. Jangan berhenti berdoa. Allah selalu punya rencana terbaik.” Tita mengelus pundakku lembut. Aku mengangguk lagi.

Mama yang baru saja masuk ke kamar ikut menimpali.

“Mama janji nggak akan sibuk-sibuk lagi mulai sekarang. Mama akan selalu ada buat Hani.” ucapnya dengan tatapan penuh kasih.

Aku tersenyum, lalu segera menghambur ke pelukannya.

                                •••

“Halo, assalamualaikum? Hanii.” Suara cempreng khas Tita terdengar dari seberang sana.

“Iya Ta waalaikumussalam. Tumben nelpon malam-malam, ada apa?”

“Kamu belum lihat berita? Komplek Nusa cendana kebakaran hebat. Itu rumah Eyang kamu kemarin kan? Hampir semua orang yang tinggal di komplek meninggal Ta!”

Aku langsung mencari remote dan menyalakan TV. Memperhatikan berita yang ditayangkan salah satu stasiun tv swasta. Rumah-rumah di sana sudah tak berbentuk lagi. Orang-orang sibuk hilir mudik menyelamatkan diri, puluhan petugas pemadam kebakaran datang berusaha memadamkan merah-merah yang terus menjalar.

Handphoneku terlepas dari genggaman. Aku teringat prosesi pemakaman eyang putri beberapa hari lalu. Wajahnya tersenyum dan bersih meskipun harus merasakan penyakit maag akut yang didera selama dua tahun ini. Bulir-bulir bening menetes di pipiku. Aku tak bisa membayangkan kalau eyang saat ini masih tidur di komplek itu lalu harus pergi dengan dilumat api. Dengan luka-luka bakar parah, dengan wajah hitam gosong seperti orang-orang dalam layar itu. Petugas-petugas mengambil mayat dan dibungkus dengan potongan-potongan kantong kuning kemudian dilempar menjadi satu. 

“Allah, betapa baiknya engkau. Aku masih bisa melihat wajah cantik eyang putri yang tersenyum sebelum ia pergi. Aku masih sempat memandikan dan ikut menyolatkannya. Aku masih sempat merapal banyak doa di pusaranya.”

Air mataku menetes lagi. Tak seharusnya aku terus mengeluh. Kalimat Tita kemudian terngiang lagi dalam benakku.

“Apa-apa yang tak abadi memang akan selalu pergi. Doamu lah yang akan tetap sampai, Han. Jangan berhenti berdoa. Allah selalu punya rencana terbaik.”

Aku tersenyum menatap foto terakhirnya yang terpasang rapi dengan pigura di atas meja belajarku. “Hani selalu doakan eyang putri dari sini. Nanti kita kumpul sama-sama lagi di surga ya.” 
Rumah hujan,
April 2017.