PRAKTIKUM KESMAS


Hello from Puskesmas Pakjo, hehehe.

Sekitar pertengahan Juni- Agustus tahun 2017 lalu, kami diamanahkan kampus untuk melaksanakan kegiatan praktikum sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah pelayanan kesehatan di semester empat. Alhamdulillah, qodarullah saya mendapat tempat di Puskesmas Pakjo bersama 5 teman lainnya. Waktu itu, kami ditempatkan di 6 program yang berbeda. Ada yang di Promkes (Promosi Kesehatan), Kesling(Kesehatan Lingkungan), KIA(Kesehatan Ibu dan Anak), P2M (Pemberantasan penyakit Menular), Gizi, dan terakhir adalah Pengobatan.

Saya sendiri dipilihkan tempat di program P2M saat itu. Tapi, selama kurang lebih dua bulan bertugas, kami rutin tukar tempat secara berkala kok. Jadi semua bisa merasakan bagaimana cara pelayanan di poli umum, atau bagaimana harus sabar di poli lansia, atau bagaimana capeknya di pendaftaran, atau sedapnya menghafal banyak nama-nama obat di apotik, atau takutnya saat disuruh coba tensi manual di ruang KIA, atau lucunya bermain dg anak-anak balita di MTBS. Semuanya punya cerita masing-masing.

Kami punya dua pembimbing lapangan di sini. Namanya ibu Wahida dan Pak Rahmat. Dua pembimbing kami ini baaaiiik sekaliii. Kalau ada yang lebih baik dari Ibu dosen agama di kampus, ibu dan bapak pembimbing kami ini lebih. Mereka selalu siap siaga membantu kami yang masih minim ilmu, yang masih terlalu banyak merepotkan dengan banyak pertanyaan, dan yang masih terlalu awam dengan macam-macam hal di puskesmas.

Eh tapi seiring dengan berjalannya waktu, semua pegawai disitu juga jadi baiik sekalii. Kami cepat akrab satu sama lain, hehehe. Senangnya seperti makan eskrim di antara panas-panas terik. Kuncinya mudah sih, saling respect dan menghargai. Tapi di luar teori itu, pengaplikasian sehari-hari itulah yang lebih penting. Bagaimana kita berhadapan dengan orang-orang yang bermacam sifat, bagaimana cara berkomunikasi dengan senior-senior, dan bagaimana tingkat kedisiplinan selama praktikum.

Selama masa-masa praktikum, kami diajari banyak. Tak hanya ilmu medis, tapi juga attitude dan bagaimana bersikap sebagai tenaga medis yang profesional. Mungkin mereka banyak yang maklum ya, seorang kesmas tak banyak belajar perihal etiologi penyakit, atau bagaimana intervensi untuk suatu penyakit, atau tes apa yang harus digunakan untuk mengetahui kadar Hb. Kami memang lebih banyak belajar perihal manajemen kesehatan dan preventif act untuk suatu kasus.

Tapi justru disitulah memang challenge-nya. Kami dituntut untuk harus bisa lebih, harus mampu, harus mau belajar kalau belum bisa. Kata ibu-ibu di poli, masyarakat tidak mau tahu bagian-bagian apa saja yang ada di puskesmas, mereka hanya tahu semua petugas kesehatan itu bisa mengobati, bisa memberi solusi untuk masalah kesehatan yang sedang mereka hadapi, dan bisa menjadi perantara kesembuhan. Jadilah, mau tak mau kami memang harus belajar ekstra.

Minggu pertama, kami belum tahulah perihal tensi menensi. Jadi waktu itu kami hanya diberi tensi digital dengan bekal bahwa TD normal secara umum ialah 110/80. Semakin tua usia seseorang, semakin tinggi juga rentang normal tekanan darahnya. Baiklah, hari pertama lewat.

Masalah datang kemudian untuk pasien-pasien yang punya BB sedikit lebih banyak dari sesamanya. Tensi digital nggak akan akurat dipakai. Akhirnya, hari-hari setelahnya, kami diajarkan menggunakan tensi manual. Awal-awalnya sempet bingung. Kata bidan di KIA, dengarkan detak-detak yang muncul sambil lepaskan putaran tensi pelan-pelan. Detak kuat yang terdengar pertama berarti sistol, dan detak kuat terakhir berarti diastol.

Aku melongo pertama kali coba. ini yang salah stetoskopnya atau cuma aku yang nggak bisa denger detaknya sih? Atau jangan-jangan tangan temanku yang nadinya nggak berdetak? Wkwkwk. Dicobalah lagi berkali-kali berhari-hari sampai akhirnya bisa kedengeran, sampai akhirnya bisa lancar, sampai akhirnya terbiasa lebih enak pakai tensi manual karena memang hasilnya juga lebih akurat.

Selain perihal tensi, kami juga banyak belajar tentang istilah-istilah penyakit di poli. Kami beneran baru tahu kalau saat itu nggak dikasih tau. Kayak misal obstetris febris adalah demam, atau myalgia adalah nyeri otot, atau skizofrenia adalah gangguan jiwa. Eh, btw kami juga diajarkan cara tes skizofrenia. Tapi lain waktu saja ya ceritanya, hehehe. Di KIA, Kami juga diajari cara hitung perkiraan lahir bayi dengan HPHT, cara ukur Lila ibu hamil, de el el.

Selain itu lagi, di apotek kami diajarkan cara membaca resep obat. Sekarang Jadi bisa mengerti kalau tiba-tiba ada keluarga yang nanya cara minum obat gimana, hehehe. Kayak misal 2dd1 artinya obatnya diminum dua kali sehari, atau jd tau peroxicam adalah obat rematik, atau tau Na. Diclofenac adalah obat untuk analgesik. Pertama kali coba, nggak kebaca beneran ga kebaca. Apalagi kalau yang nulis dokter. Cuma kelihatan huruf pertamanya saja hehehe.

Tapi ternyata para apoteker itu punya tips dan trik supaya bisa tau obat apa yang dimaksud. Jadi, mereka harus sering-sering lihat stok obat apa aja yang ada di lemari dalam setiap bulannya. Dari situ, lama kelamaan akan hapal obat apa yang dimaksud meskipun nama obat yang kebaca cuma dua huruf di depan aja hehehe. Hebat ya mereka. Saya banyak-banyak terimakasih sama ibu apoteker waktu itu.

Untuk basic dari kesmasnya sendiri, kami jg diajak ke posyandu rutin. Diberi tahu cara berinteraksi yang baik dengan masyarakat. Bagaimana membujuk anak-anak SD agar mau menerapkan PHBS(Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), bagaimana cara penyuluhan agar tak membosankan, daaan masih banyak lainnya.

Menurut saya, pengalaman praktikum ini adalah guru paling berkesan untuk tempat menimba ilmu. Senaaaang sekali rasanya, hehehehe. Terimakasih ya, Dokter Nina, dokter Yuli, ayuk-ayuk bidan dan perawat, Kakak Koas, dan segenap ganjilnya warga disana yang telah berkenan memberikan banyak ilmu buat kami. Barakallahu fiikum.

.

Terimakasih ya Puskesmas Pakjo. Terimakasih juga kampusku;)

Advertisements

PANGLING (dan Memahami Dua Masa)

“Ngapunten Bude, kulo lewat..”

Bude yang kupanggil di dekat pintu mengalihkan perhatiannya dari kentang-kentang di baskom , kemudian menoleh ke arahku.

“Iyo iyo, iki sopo to? Ya Allah niaa to. Lewato nduk gak opo, bude ki nang pintu mau ra kebagian panggon.”

Aku ketawa dalam hati mendengarnya. Semacam terharu.

“Nduk-nduk Bude lo ngerti cilik’anmu.”

“Mbiyen yo agek cilik nakal tenan mblayu2 lak melu  pengajian ibune.”

“Ya Allah kok wes gedi men to nduk. Wes pirang tahun yo ora ketemu.”

“Lah iki putrine bu endah ta”

“La mau tak sawang2 mbokan sopo bocah endi kok gak ciren tenan, ngertine nia to.”

“Mbah yo pangling nduk kok saiki ayu le mesem, wes dewasa tenan..”

Kemarin ini pagiku hangat sekali, hehehe. Entah kenapa, rasanya menyenangkan dipeluk orang-orang yang dekat selama masa kecil. Seperti nostalgia, tapi lebih mendalam.

Jadi kemarin ibu mengajak ke acara pernikahan tetangga di sini. Barakallahu laka alaika wa baraka alaika wa jamaa bainakuma fi khair mba risky dan kak rudianto. Alhamdulillaaah akhirnya setelah sekian panjang pertimbangan Tuhan menyatukan kalian dengan caraNya yang paling manis.

Aku kebagian tugas menyambut pengantin sambil bantu-bantu bawa seserahan sampai ke dalam. Yang membuat berkesan, di dalam tiba-tiba banyak yang memelukku sembari mengucapkan kalimat-kalimat seperti kutipan di ataas. Sederetan dari mulai mbah-mbah yang sedang merebus air di dandang besar, bude-bude yang menyiapkan kue, bulek-bulek, termasuk mbak-mbak yang sedang membantu mengiris wortel kentang di dapur.

Setelahnya kami jadi bercerita perihal masa-masa dulu. Awal-awal tahun 2000-an ketika semuanya yang ada dalam benakku hanya main, makan, sekolah, senang-senang, tidur, dan semua yang enak-enak hehe.

.
Semuanya berganti ketika aku mulai sekolah di luar dan memutuskan untuk berani tinggal jauh dari orang tua. Kalau Mungkin menurut kalian aku terlalu berlebihan atau untuk sebagian besar orang ini tak seberapa berat, tak apa. Pastilah di luar sana memang ada orang-orang yang harus mengerti lebih cepat perihal kerasnya hidup dan tak terlalu jadi masalah jika hanya soal jauh dari orangtua. Tapi bagiku, masa itu masa-masa berat. Apalagi ditambah sedikit masalah yang kemudian muncul disana.
Aku dituntut untuk tiba-tiba mengerti banyak. Untuk jadi lebih mengerti arti mengalah, arti uang, arti ikhlas, arti tak diutamakan lagi, arti harus lebih siap sendiri, arti dimarah adalah sayang, arti mandiri, manisnya sabar, pengorbanan, sakit yang harus ditutupi, kekurangan yang harus dicukup-cukupi, dan belajar mendewasa. Awalnya memang sulit. Aku ingat sekali, dulu hampir tiap hari menangis karena homesick dan tak tahan sendiri, hehe. Tapi memang begitulah seharusnya kan. Keluar dari zona nyaman. Itu penting. Kenyamanan adalah jebakan yang sebenarnya membuatmu semakin tak berkembang.

.
Untuk kita yang hari ini berani merantau. Suatu hari nanti ketika pulang, mungkin akan ada banyak orang yang memberikan bermacam kata. semangat, senyum, penurun rasa, membuat down, atau hanya sekedar pernyataan semacam tak menyangka sudah sepanjang ini perjalanan yang kita lalui. Mereka tentu boleh berpendapat apapun. Tak apa, ambillah apa-apa yang bisa membuat diri kita lebih berkembang lagi, dan buang saja kata mereka yang hanya berniat menjatuhkan.

.
Eh, kok jadi ngelantur ya hehehe. Intinya hari ini kenangan jadi manis sekali. Mengingat masa lalu melalui orang-orang tak selamanya tentang menye-menye karena galau, tapi juga perihal belajar memaknai takdir dengan ikhlas, dan perihal mendewasa untuk membentuk pribadi yang lebih baik lagi.
.
Terimakasih ya sudah mau baca:) See ya di lain cerita.

KATA-KATA (Curhat Unfaedah:D)

Halo, aku sekarang sedang di perjalanan menuju ke lampung. Hari ini adalah hari termanis kedua setelah 12 februari. Aku senang, sekali. Barusan ibu telepon, katanya adik-adik antusias sekali menunggu di rumah. Terimakasih ya, Tuhan. Sudah memberi hari sebahagia ini. Aku sayang semuanya. Serius, hehehe.

Siang ini palembang lengang. ada beberapa angkot-angkot kuning berlalu lalang, sisanya motor dan mobil yang sedang melaju ke tujuan masing-masing. Senangnya, aku menikmati perjalanan kali ini. Pohon-pohon di tepi jalan jadi lebih bermakna. Seperti membentuk kenangan bahwa aku pernah melewatinya dengan perasaan membuncah di bulan februari, di antara hari-hari libur semester 6. Kata teman-temanku, liburan ini harus dinikmati, jangan terlalu memikirkan yang lain, begitu katanya. akan ada banyak amanah menunggu di depan, yang nanti akan lebih banyak menguras pikiran. baiklah.

Siang ini juga hangat. Aku tak pandai mendeskripsikan. Biar kali ini tulisanku dibuat mengalir saja ya, hehe. Kalau kamu bosan membacanya, skip saja ke yang lain. Mungkin nanti unfaedah buat kalian hehe. Bukan aneh, hanya, seperti ada begitu banyak perasaan yang bergumul dalam diriku. 

Ini rindu? Mungkin. Ini sedih? Mungkin. Ini bahagia? Mungkin. Ada banyak kemungkinan sedang bersarang di semesta kepalaku. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku pulang sendiri. Tapi entah kenapa kali ini terasa lain. Dadaku terasa lebih hangat, juga lebih sesak.

Kalau aku cerita bahwa ini tentang rindu. Pasti kamu akan menganggapku gadis paling menye-menye. Hahaha. Hidupku kebanyakan mikirin rindu sih. Rindu ke siapa saja pokoknya aku pikirin. Padahal, bukankah setiap jalan cerita di dunia ini sudah ada yg mengatur kan? Padahal harusnya kita memikirkan hal-hal yang pasti saja macam kematian kan? Dasar akunya saja yang terlalu sok-sok bingung. Hiks.

Oh tapi tenang saja. bukan, ini bukan tentang rindu. Mungkin ini semacam perasaan pelepasan yang sepi. Akhir-akhir ini aku jadi lebih banyak belajar tentang hakikat hidup. Tentang kebahagiaan yang sebenarnya. Tentang arti kebersamaan. Tentang kenangan. Tentang berkomunikasi. Tentang arti sahabat. Tentang makna waktu-waktu yang terlewat. Tentang apa saja. Semakin banyak yang aku tangkap dari semesta ini, semakin membuatku hanya bisa terdiam. Apa, ya? Yang sudah aku lakukan sepanjang 19 tahun ini? 

Aku kadang-kadang sering berpura-pura dewasa. Atau menguat-nguatkan hati. Orang-orang yang baru kenal aku, pasti tak akan menyangka bahwa aku adalah extrovert yang enyek2. Hahaha. Kadang aku sering tertawa sendiri mengapa suatu waktu bisa bersikap seperti itu, atau mengapa bisa mengucapkan kalimat-kalimat bijak seolah aku adalah yang paling mampu. Termasuk kelabilan saat akhirnya aku post tulisan ini. Mungkin, ini semacam bentuk pertahanan diri.

Mungkin juga banyak yang tak tau. Orang-orang yang pandai menasihati diri sendiri pun punya sisi lemah yang paling lemah ketika terus menerus dijatuhkan. 

Penguat. Mungkin itulah yang paling penting. Setiap manusia punya masa naik dan turun. Punya masa-masa menyedihkan dan membahagiakan. Nah, saat memasuki fase turun, setiap-orang butuh penguat untuk membantunya naik lagi. Membantunya untuk semangat lagi. Coba cek lagi diri kita. Apakah kita sudah termasuk insan yang membantu orang-orang di sekeliling agar lebih kuat, atau malah justru menjatuhkan? 

Padahal, jadi penguat tak sulit lho, setidaknya jika tak mampu membantu, jangan menjatuhkan.

Menurutku, kata-kata adalah hal yang penting. Kalau tak penting, mengapa kita bisa termotivasi untuk semangat jika diberi kata-kata positif? Atau kalau memang menurutmu tak penting, mengapa kita marah kalau ada orang yang datang mencaci maki dengan kata-kata megatif? Toh hanya sekedar kata-kata kan? Bukan kontak fisik. Tapi, kata-kata menurutku lebih tajam dari belati.

Orang-orang zaman ini, tentu semua pandai bagaimana berkata-kata. Penggunaan kata-kata, dan fungsi dari masing-masingnya. Dari masa taman kanak-kanak kita belajar. Bukankah harusnya sudah pandai menempatkan kata-kata yang tepat pada posisinya?

Sayangnya, ada sebagian orang yang tertidur saat penjelasan perihal kata-kata dikumandangkan jelas-jelas oleh guru. 

Oh, ya. Begitulah. Kalau kamu sudah baca sampai paragraf ini, aku ingin mengucapkan Terimakasih karena kamu sudah mau baca. Kalau ceritaku unfaedah, lupakan saja, hehehe. 
Di bawah langit biru, 

Februari 2018.

REVIEW BUKU SEMUSIM DI BARZAKH–HADI FAYYADH

Judul : Semusim Di Barzakh

Penulis : Hadi Fayyadh

Penerbit : Iqes Tijarah Trading

Tebal : 299 hal
Bissmillah.

Alhamdulillah Qodarullah beruntungnya saya dapat membaca buku yang teramat bagus ini diperantarakan melalui seorang sahabat baik hati suatu senja di Istiqomah. Jum’at, 12 Januari 2018. Semoga Allah selalu melimpahkan kasih sayangNya untukmu. Barakallahu fiik.

Buku ini bercerita perihal Fayyadh. Seorang pemuda yang menemukan hidayahnya dengan cara yang tak biasa. Allah begitu sayang padanya hingga dalam waktu singkat ditunjukkan mana-mana nikmat dan sengsara di alam setelah kematian nanti. Kemudian dalam waktu yang singkat pula dikembalikan lagi ruh Fayyadh ke dunia agar dapat menyampaikan berita perihal siksaan dan kenikmatan yang pernah ia temui selama di alam lain, sebagai bahan pembelajaran bagi yang lainnya.

Di dalamnya disebutkan juga Humaira, seorang gadis yang dicintai Fayyadh sejak lama. Humaira adalah gadis yang shaleha. Tutur katanya lembut, pakaiannya anggun, parasnya bersih. Namun sayang, kisahnya harus berakhir tragis karena bunuh diri. Cerita pengakhiran masa hidupnya yang menyedihkan disebabkan oleh nafsu manusia yang tak dapat ditolak belangnya. Humaira mengandung sebelum dipinang satu pemuda shaleh pun yang sejak lama diimpikannya. Ia marah pada Allah. Disangkakannya Allah tak mau tolong semua deritanya hingga ia bersekutukan dengan yang lain. 

Dari Humaira saya belajar, berbuat baik dengan maksud ingin diperlakukan baik pula ternyata bukan sepenuhnya konsep yang benar. Sejatinya berbuat baiklah hanya untuk mengharap keridhoanNya. Sebab jika kita memang mengaku cinta pada Allah, maka Ia akan terus meningkatkan derajat kita melalui ujian-ujian. Setiap manusia melewati tingkatan ujian yang berbeda-beda. Namun, sesulit apapun itu, tetaplah kita tak patut menganggap ujian itu diberikan sebab Allah benci dan tak sayang kita. Sebaliknya, Allah sedang mempersiapkan hadiah yang sangat manis di hadapan kelak, jika kita mau lebih banyak bersabar dan memohon hanya padaNya.

Buku ini juga mengentrikan banyak hal-hal mengenai apa-apa saja yang akan ditemui setelah kematian. Seperti malaikat yang akan bertanya-tanya perihal keyakinan tiap-tiap manusia. Kemudian terdapat lelaki tua yang berniat menemani Fayyadh sepanjang perjalanan. Disebutkannya, laki-laki itu ialah amal yang memiliki umur sebaya dengan Fayyadh, namun ia menjadi tua dan lemah tak berdaya sebab Fayyadh tak banyak berbuat amal selama di dunia. Andaikan Fayyadh banyak beramal, maka tentulah amalnya akan mewujud sosok kuat yang dapat menolong setiap kesulitannya sepanjang perjalanan itu.

Kemudian terdapat juga laki-laki berjubah hitam dan berwajah buruk. Itu adalah wujud perbuatan tak baiknya selama hidup di dunia. Dinyatakan pula sebuah pohon yang ada di tepi-tepi padang. Namun Fayyadh tak dikenankan untuk berlindung di bawahnya. Pohon itu mewujud bantuan yang pernah diberikan untuk orang lain. Namun sebab Fayyadh berat tangan untuk menolong orang, maka ia pun tak dibolehkan berlindung.

Selain itu, diceritakannya pula perihal perkampungan yang di dalamnya terdapat rumah-rumah dibakar api, namun tak pernah hangus. Ditemukannya sebuah pintu bertuliskan syahadat yang telah berdebu, itulah wujud akidah islam yang tak pernah dihaluskan lagi oleh Fayyadh. Ada pula dilihatnya sungai pekat berdarah diminum oleh orang-orang yang tak mau berpuasa selama di dunia.

Ditemukannya pula orang-orang terdekatnya semasa hidup yang ternyata di alam ini menyalahkan dirinya.

“Fayyadh, kau pernah ajak aku berbohong, terimalah bara api ni!”

“Fayyadh, kau pernah beri makan aku uang haram, terimalah kesakitan ni!”

“Fayyadh, gara-gara kau aku masuk neraka!”

Namun, selain semua pesakitan yang ia temui, ditemukan pula ia dengan perkampungan nan damai sejahtera. Di dalamnya terdapat orang-orang hilir mudik saling tertawa bahagia. Ada yang menciduk segelas dari sungai susu, di tingkat lainnya ada sungai berwarna keemasan serupa madu, sungai-sungai itu bertingkat-tingkat dan lezat rasanya. Aduhai beruntungnya orang-orang yang akan menjadi penduduk disana. Mereka saling panggil dengan bersebut ayah, ibu, dan sanak saudara lain. Namun tak ada yang tua, semuanya kembali berparas dan berjiwa muda.

Buku ini ditulis dengan alur yang runtut dan visualisasi yang semarak. Karakter masing-masing tokoh digambarkan detail sehingga meninggalkan karakter kuat dalam benak. Pembaca pula akan dibawa berimajinasi pada alam-alam yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, menemukan pengetahuan baru, dan yang paling utama adalah menemukan makna bahwa dunia ini adalah peristirahatan yang fana. Tak ada yang abadi dan dapat kekal dibawa mati selain amal ibadah. Sungguh pun, seluruh harta kekayaan, kecantikan, ketampanan, ketenaran selama di dunia tak akan ada artinya ketika kita dimintai pertanggungjawaban pada hari pembalasan.

Memanglah, pada hakikatnya dunia adalah tempat singgah untuk mempersiapkan apa-apa yang akan dibawa ke akhirat. Belajar, beribadah, berlomba dalam kebaikan, dan berusaha meraih ridho Allah. Jangan lupa pula untuk Senantiasa mengingat kematian. Ia bisa datang kapan saja tak pandang umur dan masa. Tak dapat ditepis, dan tak dapat ditawar-tawar.

MasyaaAllah. Jazakallahu Khayran Ust Hadi Fayyadh telah menuliskan novel yang begitu santun sebagai penggugah jiwa. Barakallahu fiik.
.
Di bawah langit biru.

Palembang, 17 Januari 2018.

GADIS

Pic by: hipwee

Dia; Gadis manis yang gemar bercermin

Dipoleskannya bedak tebal-tebal, pelukis alis, dan pemerah bibir

Ditatapnya sekali lagi cermin di hadapannya,

“Cermin, bukankah aku gadis paling cantik?”

“Itu bukan dirimu.” cermin melengos.

Gadis itu marah. Dilemparnya bedak-bedak sampai cermin retak-retak

Ditanyakan sekali lagi.

“Cermin, bukankah aku gadis paling menawan? Aku bisa mendapatkan apapun dengan kecantikanku.”

“Itu bukan dirimu!” jawabnya sama.

Cermin lebih rindu Masa-masa dulu

Gadis itu

Punya hati yang jauh lebih cantik

Dua pertiga bulan lalu

Dipeluknya kitab-kitab di tiap sepertiga malam

Dikecupnya sajadah bersama tangis-tangis

Dan ditengadahkannya kedua tangan

Berharap ampunan mau cepat-cepat datang

Sayangnya, sejak gadis itu kasmaran oleh dunia

Digelombangkannya rambut-rambut hitam merupa kanal-kanal

Dilukisnya warna-warna agar bibirnya terus merona

Dikunjunginya gedung penuh musik, hingar bingar, dengan lampu-lampu yang tak henti berkedip

Sorot cahaya menerangi liuk-liuk tubuhnya yang diperhatikan berpuluh pasang mata

“Itu bukan dirimu!” Anak cermin dalam tasnya menangis marah.

Ia, yaAllah, telah kehilangan dirinya sendiri.

Malam hari, ketika malaikat berkunjung

Gadis itu berdalih,

Kumandang azan tak dihiraukan

Musik-musik masih mengalun

“Aku belum mau pulang.” katanya.

Namun, cahaya-cahaya memang benar telah membenci

Ditinggalkannya gadis itu bersama malaikat sampai pagi

“Pulanglah, Tuhan tak suka kau abaikan mentah-mentah.”
Rumah Hujan, Desember 2017.

A GIFT

Kalau aku adalah jeruk sunkist, maka kalian pun adalah jeruk sunkist. Sayangnya, kita dilahirkan tak dari Mak pohon yang sama. Membuat hari-hari terasa lebih lama tiga menit lewat setengah detik untuk bisa bersua setiap harinya. Padahal, kalau kita sepersusuan, mungkin aku bisa lebih lama menyelam dalam-dalam di inti hati kalian. Berjalan bersama-sama. Terus begitu sampai ladang di halaman akhirnya ditumbuhi gandum yang merekah sebab dihujani cokelat cococrunch hingga kuyup-kuyup.

Kadang-kadang, aku sering tanya pada Mak.

“Kalau suatu hari nanti, Mak pergi, aku harus dengan siapa?”

“Bergantunglah dengan Allah. Dan ingat selalu untuk menjadi manusia yang baik. Agar orang-orang disekitarmu pun baik.”

“Selalunya begitu?”

“Iya. Jangan lupa juga selalu bersyukur. Agar rezekimu ditambah selama Mak tidak ada. Jangan curi biru-biru. Rezeki dari Allah bisa berbentuk apa saja. Bertemu sahabat-sahabat yang baik juga merupakan rezeki.”

.

Aku manggut-manggut saja. 

“Allah baik sekali ya, Mak.”

Sepotong Masa

Suatu waktu, mungkin kita pernah merasa menjadi manusia paling bahagia. Di waktu lainnya, semesta membawa kita seolah menjadi sosok yang paling terpuruk.

Menjadi kecil atau besar, bukankah juga merupakan sebuah pilihan? Merasa bahagia atau tidak, bukankah juga merupakan sebuah pilihan?

Memilih untuk terus diam dalam kesedihan artinya membiarkan diri tak bisa berkembang. 

Memilih untuk egois dan tak peduli artinya membentuk keadaan untuk menjadi apatis jika nantinya kita butuh.

Memilih untuk bersyukur artinya menjadikan diri lebih memaknai apa-apa yang telah Tuhan berikan begitu banyak.

Memilih untuk memaafkan artinya memberi kesempatan bagi hati untuk kembali bahagia.

Seseorang pernah mengatakan,
“Ada ruang-ruang lain yang mesti kamu lalui agar bisa lebih memaknai hidup, Nduk.”

“Dunia tak berhenti hanya karena masalah yang sedang kamu hadapi sekarang. Cerita perihal hidup sulit kamu itu hanya sebagian kisah. Di belahan bumi lain, ada banyak potongan kisah bahagia lain yang boleh kamu pilih.”

“Hidup kan memang penuh pilihan. Kamu ndak boleh egois pengin kamu semuanya lancar-lancar saja. Kalau kamu pilih opsi A, artinya kamu harus siap untuk ndak jalanin yang B. Begitupun sebaliknya.”

“Dan sesulit apapun masalah yang sedang km hadapi saat ini, ingatlah kamu masih punya Allah yang selalu maha Besar. Menjadikan kamu seorang yang paling bahagia detik ini mudah untukNya, nduk. Tapi Ia sedang lihat usahamu. Seberapa kuat rasa sabarmu, seberapa serius lafal doa-doamu, dan seberapa ingin km ingin dekat denganNya.”

“Jalanlah Nduk, jangan berhenti di tempat nyamanmu sekarang. Kamu bisa lebih berkembang dari sekarang kalau kamu memilih untuk mau.”

Awan-awan cumulonimbus kemudian berbisik pada angin. Katanya, mereka ingin dirapatkan saja.

.

“Kenapa mau rapat-rapat?”

“Supaya bisa kapan saja jalan keliling semesta. Memayungi si Nduk agar tak lagi luka-luka.”

Rumah, 11 Muharram 1439H.

Belajar Memahami

Halo, adek sayangnya mbak.
Nggak terasa ya, sekarang usianya sudah 6 tahun. Semoga abang tumbuh jd anak yg pintar dan sholeh syg. 

Terimakasih ya sudah mengajarkan banyak pengalaman baru selama ini.

Terimakasih sudah mengajarkan banyak sabar, capek, kesel, tp jg sepaket dg bahagia sederhana yang terselip di dalamnya.

Darinya, saya belajar mengerti perihal dunia anak yang begitu manis. 
Belajar mengerti bahwa di usia-usianya saat ini, anak-anak telah memiliki persepsi sendiri perihal sesuatu. Kita mungkin pernah, beberapa kali memaksakan kehendak agar mereka mau nurut saja pada kemauan kita. 

“Pokoknya diam di sini ya jangan kemana-mana dulu.”

“Abang pake baju ini aja. Yang lain warnanya jelek.”

“Abang nggak boleh nakal mainnya.”

“Abang nasi gorengnya habis. Makan yang ada dulu aja ya.” (Padahal lagi capek mau masak wkwk)

Padahal saya sendiri pun banyak sadar, waktu-waktu pemaksaan itu banyak terjadi ketika sedang sangat lelah untuk sekedar menemaninya bermain di luar, atau untuk menemani menjawab pertanyaan-pertanyaan ajaibnya, atau untuk menyetrika baju kesukaannya padahal waktunya mepet ketika akan pergi.

Namun seiring waktu berjalan, saya kemudian mengerti. Anak-anak pun mestinya boleh memilih. Perihal apa-apa yang mereka suka dan tidak suka. Meskipun kebanyakan kasus akhirnya tidak sependapat, tetapi jika masih dalam koridor yang baik dan bisa diawasi, biarkan saja mereka mengeksplor hal-hal yang mereka ingin tahu. Mematahkan keinginan mereka–jika tak dengan alasan yang tepat, secara tidak langsung akan menanamkan konsep dalam pikirannya bahwa mereka tak bebas untuk mencari tahu apa yang mereka ingin tahu. Secara tak langsung juga bisa membunuh ide-ide kreatifnya untuk belajar perihal sesuatu.

Saya juga belajar. Adik saya adalah tipe anak yang sangat humble dan ceria, dan poin pentingnya selalu pemaaf(atau tidak peka ya hehe entahlah) Karena terlalu over aktif dan tak bisa diam, kadang-kadang ayahnya bisa jadi sering marah di rumah, atau ia bisa dihukum sampai lima kali dalam seminggu di sekolahnya. Anehnya, setiap habis dimarahi, lima menit kemudian dia akan langsung lupa. Dan isi kalimat marah tadi akan langsung mental entah kemana. Hehehe.

Saya kemudian mencari-cari cara apa yang bisa cepat melekat untuk memberitahunya perihal A yang baik atau B yang tidak baik. Ternyata, memberi nasihat ini pun ada tekniknya. Anak-anak memiliki kepribadiannya masing-masing dengan semua kekurangan dan kelebihan. Jadi, setelah eksperimen berbulan-bulan. Teknik yang paling manjur adalah mengajaknya berbicara, berdua saja. Ketika sedang makan, atau sambil belajar membaca, atau sebelum tidur sambil dibacakan cerita, nasihat yang akan diberikan disampaikan perlahan, diiringi bercanda sesekali. Dan dengan kalimat 

“Abang kan pintar, nanti mau jadi anak sholeh, mau jadi ustadz dan dokter, mau buat bangga ayah. Abang sayang kan sama ayah?”

Ia terdiam sejenak. Lalu mengangguk sembari menyeletuk polos.
“Kalau abang sering nakal, ayah sedih ya mbak?”

“Iya … ayah kan berdoa terus buat abang. Kalau abang jadi anak pintar dan sholeh, ayah pasti seneng.”

“Oooo… Yaudah abang nggak mau gangguin temen-temen lagi mbak. Biar ayah nggak sedih.”

“Naah gitu dong. Abang hebat.” Saya lalu tersenyum.

Belajar dengan anak-anak, terkadang gampang-gampang susah. Belajar sabar saat mereka mengacak-ngacak rumah karena ingin tahu sesuatu. Belajar memahami saat mereka berbuat salah mereka tak ingin dimarahi, tetapi dielus lembut kemudian dinasihati. Meskipun banyak pula kesel dan capeknya, Tapi percayalah, capek-capeknya akan hilang seketika saat tiba-tiba mereka selalu punya kejutan, hal-hal sederhana yang membuat kita terkadang merasa terharu dan tersenyum melihat kepolosannya.

Seperti sore ini, sepulang bermain suaranya yang lengking langsung memenuhi seisi rumah. Memanggil namaku. Lalu dengan cepat muncul di pintu dapur.

“Mbak, katanya semalem pengen es krim?”

“Iya, nanti ajalah dek. Udah ilang pengennya.” jawabku sambil masih mengeruk sisik ikan sepat di dapur.

“Nah buat mbak.” ucapnya sembari menyodorkan satu bungkus es krim.

Saya menoleh, lalu mengernyit. “Abang pake uang siapa?”

“Tadi abang dikasih ayah uang, terus beli eskrim coklat dua. Satu buat abang satu buat mbak.” 

Selukis senyum kemudian mengembang.

Aylaview, dek.

Secangkir Kenangan


•6 Januari 2017

Perempuan itu sedang bahagia. Bibirnya membentuk lengkung bulan sabit yang amat manis. Lebih manis dari butiran gula pasir, atau secawan madu dari lebah terbaik di hutan balik bukit. Mata perempuan itu bening berbinar-binar. Cerah seperti langit tanpa awan.
Mereka membicarakan apa saja. Perihal hidup, teman yang mengesalkan, cerita lucu, mimpi-mimpi indah, realita yang ada, harapan untuk hari yang akan datang, dan banyak hal lain. Seperempat menit ini mereka tergelak berdua. Seperempat menit lain saling terdiam merenung. Dan seperempat menit kemudian menunduk dengan mata berkaca-kaca.

“Selesaikan apa yang belum selesai. Jangan takut bilang ‘tidak’ hanya karena tak enak hati.”

Perempuan itu mengangguk. Menit berikutnya, mereka telah larut kembali dalam tawa. 

“Tau nggak? Float ini enaak banget. Hehehe.” perempuan itu meringis sembari menatap lekat seseorang di hadapannya. Tangannya sibuk mengaduk segelas iced coffee float. Hatinya kini terasa lebih teduh. 

Seseorang di hadapannya menarik gelas di genggam tangan gadis itu. Tangannya menukar gelas float yang tersisa setengah dengan gelas miliknya yang masih berisi penuh coffee float.

“Kalau kamu suka floatnya, yang ini untuk kamu aja. Habisin ya.” ucapnya sembari menahan tawa.

“Nggak ah, malu.”

Tawanya lepas.

“Serius. Nggak apa habisin aja.”

Mata perempuan itu berbinar lagi. 

                   ***

•Hari ke-180 setelah 6 Januari

.

.
Perempuan itu datang lagi. Kali ini ia sendiri. Oh tidak. Ia tak sendiri. Dua bohlam yang berpijar mengintip dari balik celah bergaris-garis. 

[To be Continue …]

A Little Happiness

IMG20150823075819
Dalam tiap-tiap ruang yang terasa sempit, ternyata ada banyak bahagia-bahagia kecil yang selalu Allah selipkan di tiap-tiap hari. Seperti,

Bau tanah yang diguyur hujan setelah subuh tetiba jadi aroma yang paling segar dan menyenangkan untuk dihirup saat berada di tengah-tengah euphoria sibuk-sibuk ujian, begadang, dan penat dengan tumpukan buku-buku tebal.

Atau,

Suara anak-anak kecil yang tengah bermain sambil bergelak tawa polos tetiba jadi pemandangan yang paling menyenangkan untuk diperhatikan dari atas ojek yang melaju kencang, dengan setumpuk pikiran dan kesah dalam kepalaku.

Atau,

Menemukan odong-odong berbentuk kuda yang tengah memutar lagu potong bebek angsa dengan hiasan kerlap kerlip lampu tetiba jadi suasana yang paling menyenangkan untuk diperhatikan sambil berjalan saat malam-malam diminta ayah membeli gula di warung depan komplek, dengan semesta kepala yang penuh dengan deretan opsi yang harus dipilih perihal belajar bersikap dewasa, dan pertanyaan-pertanyaan tentang hidup.

Atau,

Uluran tangan seorang sahabat yang memberikan es krim saat tengah berada dalam kebosanan tetiba menjadi sesuatu yang sangat bermakna untuk dikenang.

Perasaan bahagia yang sederhana itu sering tiba-tiba hadir di saat-saat abstrak. Melalui bahagia-bahagia kecil yang kita temui dan rasakan, mungkin Tuhan sedang mencoba memberi kode, memberi petunjuk, atau berusaha memberi tahu bahwa bagian terang dalam hidup yang menyenangkan itu masih ada. Kita hanya sedang bermain di sisi sebelah lain. Nanti, jika tiba masanya, kita juga akan sampai ke titik yang diharapkan. Kita hanya perlu terus bersyukur agar apa-apa yang berat tak terasa berat, agar apa-apa yang sulit tak lagi terasa sulit.
Sya’ban 1438 H.

Di jalan kenangan.