A Little Happiness

IMG20150823075819
Dalam tiap-tiap ruang yang terasa sempit, ternyata ada banyak bahagia-bahagia kecil yang selalu Allah selipkan di tiap-tiap hari. Seperti,

Bau tanah yang diguyur hujan setelah subuh tetiba jadi aroma yang paling segar dan menyenangkan untuk dihirup saat berada di tengah-tengah euphoria sibuk-sibuk ujian, begadang, dan penat dengan tumpukan buku-buku tebal.

Atau,

Suara anak-anak kecil yang tengah bermain sambil bergelak tawa polos tetiba jadi pemandangan yang paling menyenangkan untuk diperhatikan dari atas ojek yang melaju kencang, dengan setumpuk pikiran dan kesah dalam kepalaku.

Atau,

Menemukan odong-odong berbentuk kuda yang tengah memutar lagu potong bebek angsa dengan hiasan kerlap kerlip lampu tetiba jadi suasana yang paling menyenangkan untuk diperhatikan sambil berjalan saat malam-malam diminta ayah membeli gula di warung depan komplek, dengan semesta kepala yang penuh dengan deretan opsi yang harus dipilih perihal belajar bersikap dewasa, dan pertanyaan-pertanyaan tentang hidup.

Atau,

Uluran tangan seorang sahabat yang memberikan es krim saat tengah berada dalam kebosanan tetiba menjadi sesuatu yang sangat bermakna untuk dikenang.

Perasaan bahagia yang sederhana itu sering tiba-tiba hadir di saat-saat abstrak. Melalui bahagia-bahagia kecil yang kita temui dan rasakan, mungkin Tuhan sedang mencoba memberi kode, memberi petunjuk, atau berusaha memberi tahu bahwa bagian terang dalam hidup yang menyenangkan itu masih ada. Kita hanya sedang bermain di sisi sebelah lain. Nanti, jika tiba masanya, kita juga akan sampai ke titik yang diharapkan. Kita hanya perlu terus bersyukur agar apa-apa yang berat tak terasa berat, agar apa-apa yang sulit tak lagi terasa sulit.
Sya’ban 1438 H.

Di jalan kenangan.

Merayakan Kesedihan


Dear, AAR.

Kalau disini aku tengah bersedih, apakah kamu pun merasakan hal yang sama disana? Hal-hal seperti apa yang bisa mendatangkan kesedihan untukmu, A?

Aku belum banyak mengerti. Kamu tahu, A? Perihal sedih, kesedihan, dan menyedihkan kata orang-orang adalah topik yang paling mudah untuk diseduh menjadi bercangkir-cangkir puisi dan prosa. Tapi tidak bagiku. Aku bhkn tak bs mmikirkan satu pun kata manis utk melukiskan bagaimana perasaan yang tengah brsrang saat aku sedih.

Ibu banyak sekali mewanti-wanti, bahwa perihal kesedihan tak seharusnya ditangisi atau semakin disedihkan. Bahwa perihal kesedihan mestinya dirayakan agar ia cepat-cepat hilang.

Bagaimana cara merayakan kesedihan menurutmu, A?

Haruskah aku pergi berkumpul dengan orang-orang, membicarakan hal yang entah apa lalu kemudian melakukan sesuatu yang disebut orang sebagai ‘menikmati hidup’?

Atau

Haruskah aku menulis berlembar-lembar surat rindu, melipatnya menjadi perahu kertas, membiarkannya berlayar di sungai, lalu tergelak sendirian merayakanmu yang kini telah jauh?

Atau

Haruskah aku terdiam menerima semua , lalu berpikir yang baik-baik saja agar tak perlu resah dengan hidup yang memang seharusnya baik, namun aku sendiri yang membuatnya rumit?

mungkin ibu memang benar, A. Kesedihan tak perlu ditangisi. Ada banyak cara untuk merayakannya. Ada banyak cara untuk membuat semua terlihat baik-baik saja lalu kembali tersenyum menjalani takdir yang telah digariskan Tuhan.

Kesedihan perlu dirayakan agar ia cepat-cepat hilang, A. Ratusan purnama lalu, sedih adalah sebuah bahagia yang lahir dari rahim seorang gadis yang lupa bersyukur. Sejak malam itu, ia menangis dikutuk menjadi sedih. Kesedihan tak terlalu suka dengan keramaian. Ia tak terlalu suka pun pada senyum orang-orang yang bahagia. Tak terlalu suka melihat gelak tawa. Ia hanya cinta pada raut-raut murung yang berpikiran kacau. Katanya, orang-orang tak perlu terlalu sedih agar tahu tak enaknya dikutuk menjadi sebuah sedih.

Ah, aku mengerti sekarang. Kapan-kapan, aku akan mengajakmu datang di perayaan kesedihanku, A. Kesedihan perlu dirayakan agar ia cepat-cepat hilang. Kamu mau datang, kan?
Subuh Hujan.

06 Mei 2017.

Sepaket Rasa

Aku meyakini perihal, Tuhan memberikan kita masalah selalu sepaket dengan solusinya. Kita yang merasa ingin cepat menyerah, mungkin adalah beberapa yang tak sabar menunggu. Terkadang, solusi itu memang tak bisa ditebak kapan akan muncul. Bisa jadi ia datang dengan mudah dari tangan orang-orang sekitar, atau bisa pula datang melalui sesuatu yang tak diduga akan terjadi. Tapi percayalah, penyelesaian itu pasti akan dipertemukan oleh Tuhan.

Seperti masalah yang diberikan sepaket dengan solusi. Setiap harapan dalam pertanyaan hidup pun telah diberikan sepaket dengan jawaban. Jawaban itu sudah dijanjikan akan datang. Cuma ya itu tadi, manusianya memang harus sabar menunggu. Kalau cepat dijawab dan diberi, artinya kita harus banyak bersyukur. Kalau dijawabnya lama, mungkin Allah sedang menguji tingkat keseriusan kita akan hal yang diinginkan tersebut. Dan kalau dijawabnya tidak sesuai harapan, maka berarti ada hal lain yang lebih baik sedang Tuhan persiapkan untuk kita. Berbaik sangka denganNya akan selalu berbuah manis, kan?

•••

Aku sedang mengupas bawang putih dan melepas bulir-bulir cabai rawit hijau dari tangkainya ketika suara Bang Rijal menggema dari arah depan.

“Deeeek. Assalamualaikum.”

“Iya Baaang masuk ajaaa.” Mukaku masih penuh peluh. Biasanya setiap Bang Rijal datang aku selalu ke depan membawa segelas air putih, atau handuk kecil, atau paling tidak menyempatkan untuk mencium tangan menyambutnya pulang. Tapi kali ini gorenganku sedang tak bisa ditinggal. Jadilah dia ngeloyor masuk langsung ke dapur.

“Dek, abang mau tanya.”

“Hmm? Tanya apa Bang?” ucapku tanpa menoleh. Sebenarnya tadi aku berencana pura-pura merajuk. Sebabnya janji makan soto madura berdua di kedai ujung jalan selalu batal gara-gara tugas lemburnya di kantor yang tak pernah bisa ditinggal. Katanya kemarin sore beli sendiri saja bawa ke rumah. Ih, kan pengen makannya berdua geh. Terang saja aku sedikit kecewa. Tapi sayang, rencana merajukku selalu gagal. Bang Rijal lebih pintar untuk urusan membuat hatiku luluh.

“Kalau suatu hari nanti kamu lagi pengen sesuatu terus abang nggak bisa penuhin, gimana?”

Bola mataku berputar sedetik. “Emm … gimana yaaa.”

“Bakal marah-marah nggak?” Ia menatapku lekat, menunggu jawaban.

“Nggak. Palingan ngambek aja, hehehe.”

“Ngambek ya?” Bahunya turun pelan, lalu bergeser tempat duduk dengan raut sesal. Aku tertawa kecil melihatnya.

“Ih Abang, ya nggak ngambek lah. Kalau Abang lagi ga bisa penuhin kan berarti ada hal lain yang lebih penting untuk dicukupin. Kalau Abang nolak juga pasti untuk kebaikan kita. Tenang aja, Rifa ngerti kok.” ujarku dengan senyum, sambil masih sibuk mengulek sambal bawang yang cabenya baru diangkat dari wajan panas.

“Beneran?”

Kali ini aku menoleh. “Iya. Emangnya kenapa? Kok tumben tanya begitu?” ucapku sembari mengambil mangkuk kecil. Memindahkan sambal bawang yang baru diulek. Dari aromanya saja sudah tertebak, ini pasti rasanya lebih huaah dari yang huaah.

“Em, Abang tadi sih mau tanya sesuatu. Tapi kayaknya kamu masih konsentrasi masak penuh nih. Ntar aja deh.”

Aku berbalik badan sambil meringis. “Hehehe, maafin ya Bang, adek diajak ngomong daritadi nggak noleh. Ini udah selesai kok, lauknya juga udah masak. Yuk kita duduk dulu.” ucapku sembari menariknya ke kursi panjang dekat meja makan.

“Dah, Abang mau bilang sesuatu apa tadi?”

“Kalau rencana pulang ke Lampungnya ditunda lagi, gimana?”

Aku menghela nafas pelan. Sudah sejak delapan bulan lalu aku mengajaknya berkunjung ke rumah ibu. Namun selalu belum ada kesempatan. “Abang ada tugas ke luar kota lagi?”

“Iya. Sampai abis lebaran.”

Aku menunduk.

“Kamu kecewa Dek? Maafin abang yaa, ini proyeknya ga bisa ditinggal banget.”

Aku kemudian menatap matanya lekat. Ada ketulusan dan kasih yang teduh disitu. Peluhnya menetes beberapa dari dahi. Aku baru ingat tadi tak sempat menyambutnya dengan handuk saat ia mengucap salam sambil mengetuk pintu. Pikiranku masih penuh dengan racikan bumbu ayam penyet dan sambal bawang di belakang. Ah, ia pasti sedang lelah kini. Pantaskah aku mengeluh hanya karena keinginan yang tak terpenuhi? Ah, Allah mungkin sedang menyiapkan rencana lain. Keep happy Rifaaa. Kata hatiku berusaha menenangkan.

“Dek?”

“Eh, iya Bang? Ohh Abang ada tugas lagi. Iya nggak apa kok. Rifa kan udah biasa juga ditinggal sendiri di rumah, hehehe. Tenang aja Bang.”

“Beneran?”

“Iya beneran.”

“Nggak nangis lagi karena kangen sama ibu?”

Aku menepuk pundaknya pelan. Pura-pura merajuk. Ia lalu tertawa renyah.

“Makasih ya adek selalu ngerti. Kalau gitu … abang ada kejutan nih.”

Mataku berbinar mendengarnya.

“Kejutan apa Bang?”

Ia mengeluarkan dua lembar tiket dengan tujuan penerbangan CGK-DXB.

“DXB? Dubai Bang?”

Ia mengangguk. “Karena kali ini tugasnya lama. Pimpinan abang ngebolehin ngajak kamu. Jadi nanti kita idul fitri di Dubai. Dulu kamu pengen banget ke sini kan. Sekarang Allah bantu lewat jalan ini. Seneng nggak?”

Aku langsung melompat memeluknya erat dengan rasa bahagia yang membuncah. “Abaaaaang! Alhamdulillahhh.”

Hatiku merapal penuh kalimat syukur. Allah baik sekali, Ia selalu memberi lebih dari yang kuharapkan. Berbaik sangka denganNya selalu berbuah manis, kan;)

Malam Hujan,

Akhir April 2017.

Cerita Ombay

“Kalau kasih sayangnya sudah nggak ada lagi. Artinya bagaikan langit tak berbintang Mbak. Nggak bersinar lagi. Langitnya padam.”

Aku tertawa mendengarnya. “Jadi harus gimana Mbay?”

“Makanya kasih sayang harus selalu dipupuk meskipun udah tua. Orang-orang di dusun sering bilang ombay menel. Biarin. Itu kan suami ombay. Apa-apa yang ada di ombay udah dia tau semua. Udah diterima semua. Kenapa harus malu menunjukkan kasih sayang?”

“Ah ombay romantis bener. Nanti mbak juga mau bilang sayang terus ah sampe tua😂”

“Bukan bilang sayang, tapi menunjukkan kasih sayang, Mbak. Rasa sayang, cemburu, dan takut hilang itu penting untuk jaga apa yang udah dibangun selama ini.”

Ps: Percakapan di atas terinspirasi oleh ombai yang akhir-akhir ini jadi sering curhat, buat kata-kata puitis dadakan, dan nenek-nenek pengingat kenangan paling hebat:p

Efek merajuk


Menurut kamus besar bahasa Palembang, merajuk bisa didefinisikan sebagai kata ngambek. Eh, ngambek bahasa apa ya? Hehehe. Hmm, kira-kira artinya melakukan sesuatu yang tak biasa agar dimengerti oleh orang sekitar bahwa ada maksud hati yang ingin dipenuhi, wkwk. *inidefinisiapaanya:D

Kata orang-orang, biasanya perempuan yang identik dengan kata ‘ngambek’ atau merajuk ini. Sebenarnya, aku juga sering sih, dulu, tapi sejak mengerti bahwa hal ini kurang baik, semesta kepalaku jadi berputar tujuh kali untuk menimbang-nimbang setiap kali akan merajuk. Merajuk buat apa kah? Penting kah? Bermanfaat kah? Tak bisa dibicarakan langsung kah? Atau paling tidak jika sulit dibicarakan, bagaimana kalau dituliskan saja? Daan banyak lagi sederet pertimbangan lain.

Ternyata … merajuk itu merepotkan lho, serius. Efeknya bisa menimbulkan perasaan tidak enak, mengesalkan, dan meribetkan, dan kelaparan, dan kebosenan, dan lain-lain gatau apalagi, wkwk. Intinya perbuatan tidak menyenangkan yang kurang baik jika berlarut-larut.

Misalnya, seperti kisah berikut.

~~~

“Mbak, tadi dapet undangan. Udah diliat?”

*diem
“Mbak mau datang nggak?”

*diem

“Mbak, makan yuk.”

“Iya.”
5 menit kemudian.
“Mbak, ayuk makan … udah diambilin loh nasinya.”

“Kenyang.”

“Kenyang makan apaan? Belum makan apa-apa geh daritadi.”
*diem

*masih diem

*diem lagi
“Mbak?”

“Kenyang.”

Beberapa jam kemudian.
“Mbak, tadi kenapa nggak langsung pulang?”

*Diem

“Mbak, aku buat salah ya?”

*Diem lagi

“Mbak kenapa?”

*masih diem

-_-

~~~~

Aku sering tak pandai mendefinisikan sesuatu, mendeskripsikan makna, atau menerjemahkan kode-kode. kata orang-orang, aku adalah gadis yang sering terlambat mengerti. Wkwk, astaghfirullah. Bagaimanalah ya, untuk mengerti kode-kode itu aku harus melewati beberapa kali proses perekaman data, untuk memahami misalnya kode mematikan lampu artinya harus keluar dan harus meninggalkan tempat itu. Atau kode keran air yang dimatikan dari saluran depan artinya aku terlalu lambat mencuci piring. Dsb dsb.

Hehehe, ya begitu. Tapi kalau sudah pernah menerjemahkan suatu kode, biasanya akan terus melekat kok. Ini wajar kan? Terkadang kita harus membuka pintu yang salah agar bisa tau dan menemukan alasan mengapa pintu itu salah dan akhirnya memilih untuk masuk ke pintu yang benar. Namanya juga berproses ya kan, hehehe. Ini wajar atau aku yang mewajarkan? Menurutmu?

Kembali ke perihal merajuk. kali ini beneran duarius. Aku sering terlalu bingung dengan kode seseorang yang merajuk. Sebut saja namanya fulanah. Jadi ceritanya fulanah ini kalau sehabis dimarahi atau ditegur untuk sesuatu yang menurutnya berbeda pendapat, pasti akan langsung merajuk. Walaupun maksud si empunya saran sebenarnya baik, tapi dari beberapa kesempatan yang telah aku perhatikan, cara menegur fulanah ini memang harus pelan. Kalau tajam sedikit, rantingnya bisa patah berhari-hari. Bisa tidak mau bicara berhari-hari, tidak makan, tidak minum, tidak beranjak dari tempat tidur, dan lain-lain. Menyedihkan kan:’) sampai aku juga jadi kepikiran berhari-hari.

Kenapa tidak dikomunikasikan langsung saja? Atau jika sulit dibahasakan, paling tidak mengapa tidak dituliskan saja dalam secarik surat? 

Lebay?

Tidak lah.

Masalah sekecil apapun kalau dipendam dan menimbulkan sakit-sakit tetap saja berbahaya. Lebih baik diselesaikan kan. 

Mungkin … jalan satu-satunya yang paling mudah ialah saling memahami ya. A Memahami bahwa karakter B saat menyampaikan pendapat atau menyarankan sesuatu memang selalu blak-blakan namun maksud sebenarnya baik. Sedangkan B harus memahami bahwa karakter A yang tak bisa ditegur dengan cara keras. Kalau A sulit mengerti? Maka B yang harus banyak mengalah. Kalau B yang sulit mengerti? Maka A yang harus banyak mengalah. Mengalah toh tak membuat kita rugi, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari mengalah, terutama ilmu sabar. Kata ibu, Ilmu sabar itu tingkatannya tinggi , kalau ndak dipelajari dari hal-hal terkecil, bagaimana mau sabar dengan hal yang besar? Hehehe. Setidaknya begitu konsep yang kuingat selama ini.

Sebagai self reminder juga, kurang-kuranginlah kebiasaan merajuk mulai sekarang. Selain merepotkan, merajuk juga bisa berpotensi jadi racun dalam hati. Tak semua orang ditakdirkan lahir dengan perasaan yang peka kan, terkadang, kita yang perlu untuk berbicara lebih jelas dan lebih banyak lagi. Kalau tak bisa berbicara, maka tulislah. Kalau tak bisa menulis, maka pahamilah. Kalau tak bisa memahami, maka mengalahlah. Eh gimana ya ini urutannya? Hehehe ya pokoknya gitu deh. Darpada merajuk-merajuk ndak jelas, kan. Lebih baik diselesaikan langsung saja.
Yap,
Semoga

Ndak ada cerita merajuk

Yang berkelanjutan lagi.

Aamiin.
-rumah casuarine.

April 2017

Tentang hilang dan pergi


Apa obat paling manjur untuk melepas kegundahan saat merasa kehilangan? Atau paling tidak nasihat apa yang harus didengar agar bisa sembuh dan berhenti mengeluh saat ditinggal pergi?Apakah mereka yang pergi tahu bahwa tangis yang ditinggalkan jadi hal paling menyedihkan? Atau Apakah mereka yang pergi tahu bahwa mereka punya porsi penting dalam hidup yang ditinggalkan?

Mengapa mereka harus pergi? 

Ah, kita mungkin perlu percaya bahwa apa-apa yang digariskan dalam hidup ini selalu punya makna. Selalu ada maksud terbaik. Selalu diberikan agar kita terus menjadi pembelajar yang rajin dan tetap rendah hati dalam ujian hidup. Bukankah Yang Maha Esa adalah sebaik-baiknya perencana? 

                           •••

Hari ini adalah hari pemakaman eyang putri. Aku hanya mengurung diri di kamar sejak kemarin. Orang-orang di luar sibuk mempersiapkan prosesi penguburan. Aroma bunga-bunga tercium dari balik pintu. Hidungku mengernyit. 

“Hani udah dong. Masa daritadi nangis terus. Ntar eyang ikut sedih di sana.” Risky masih berusaha membujuk. Ia mengelus pundakku pelan.

“Iya Han. Eyang putri udah tenang. Emang kamu tega ngeliat eyang sakit terus?”

“Hani kan biasanya kuat, ceria. Ayo dong senyum lagi.”

“Iya … iya.”

“Ngomong sesuatu geh Han. Kami khawatir.” Tiwi menyambung dengan raut cemas.

“Aku cuma … belum siap kehilangan eyang. Dari kecil dulu, eyang putri yang selalu ada. Setiap papa mama sibuk ke kantor, aku di rumah sama eyang. Setiap pembagian rapor, setiap aku menang lomba baca puisi, setiap berangkat les tari, setiap malam-malam sepi waktu mama papa keluar kota. Cuma eyang putri yang selalu ada.”

“Dia nggak hilang, Han. Pergi sama hilang itu beda lho.” ucap Tita tiba-tiba. Sahabatku yang satu ini memang lebih banyak diam dari tadi.

“Iya ya? Bedanya apa Ta?” Indri yang menyahut. Aku masih diam tertunduk dengan mata sembab.

“Kepergian berarti penciptaan jarak yang masih terjangkau. kita masih bisa tau kemana arah dia pergi. Sedangkan kehilangan, berarti penciptaan jarak yang kita nggak pernah tau kemana arah seseorang yang hilang itu. Wong dia nya geh hilang.”

Aku melekatkan pandangan ke Tita. Ada getar yang lain dalam kalimatnya barusan.

“Bentar bentar, aku belum ngerti. Perasaan sama aja, Ta.” ucap Susan.

“Beda lah Susan cantik. Coba aku tanya nih, apa perbedaan pergi ke sungai sama hilang di sungai?”

“Aku tauu! Itu mah jelas beda Ta. Kalau pergi ke sungai, nanti bakal ada waktu pulangnya. Kalau hilang di sungai, nah belum bisa dipastiin kapan ketemunya.”

“Jadi tingkat pelepasan hilang lebih tinggi daripada pergi gitu ya?”

“Yup. Kepergian seseorang memang berat Han. Aku juga dulu gitu waktu mama dipanggil Tuhan. Tapi karena aku tau dia hanya pergi, dan punya tujuan yang jelas. Aku jadi bisa lebih tenang. Doa-doa yang kulangitkan juga jadi punya arah yang jelas. Untuk dia yang tenang disana. Dia bukan hilang, tapi pergi. Hanya butuh waktu agar kelak kami bisa bersama lagi.”

Aku manggut-manggut saja mendengar kalimat golden ways Tita. Rasa-rasanya tulang-tulang dalam tubuhku belum bisa diajak kompromi lagi untuk menguatkan sendi agar aku bisa berhenti mengeluh saat ini. Kehilangan seseorang, ehm, maksudku ditinggal pergi seseorang punya daya magis yang kuat untuk berhasil melumpuhkan semangat seorang Hani. Apalagi ditinggal oleh orang tersayang.

“Makasih ya Ta.” ucapku akhirnya.

“Iya. Apa-apa yang tak abadi memang akan selalu pergi. Doamu lah yang akan tetap sampai, Han. Jangan berhenti berdoa. Allah selalu punya rencana terbaik.” Tita mengelus pundakku lembut. Aku mengangguk lagi.

Mama yang baru saja masuk ke kamar ikut menimpali.

“Mama janji nggak akan sibuk-sibuk lagi mulai sekarang. Mama akan selalu ada buat Hani.” ucapnya dengan tatapan penuh kasih.

Aku tersenyum, lalu segera menghambur ke pelukannya.

                                •••

“Halo, assalamualaikum? Hanii.” Suara cempreng khas Tita terdengar dari seberang sana.

“Iya Ta waalaikumussalam. Tumben nelpon malam-malam, ada apa?”

“Kamu belum lihat berita? Komplek Nusa cendana kebakaran hebat. Itu rumah Eyang kamu kemarin kan? Hampir semua orang yang tinggal di komplek meninggal Ta!”

Aku langsung mencari remote dan menyalakan TV. Memperhatikan berita yang ditayangkan salah satu stasiun tv swasta. Rumah-rumah di sana sudah tak berbentuk lagi. Orang-orang sibuk hilir mudik menyelamatkan diri, puluhan petugas pemadam kebakaran datang berusaha memadamkan merah-merah yang terus menjalar.

Handphoneku terlepas dari genggaman. Aku teringat prosesi pemakaman eyang putri beberapa hari lalu. Wajahnya tersenyum dan bersih meskipun harus merasakan penyakit maag akut yang didera selama dua tahun ini. Bulir-bulir bening menetes di pipiku. Aku tak bisa membayangkan kalau eyang saat ini masih tidur di komplek itu lalu harus pergi dengan dilumat api. Dengan luka-luka bakar parah, dengan wajah hitam gosong seperti orang-orang dalam layar itu. Petugas-petugas mengambil mayat dan dibungkus dengan potongan-potongan kantong kuning kemudian dilempar menjadi satu. 

“Allah, betapa baiknya engkau. Aku masih bisa melihat wajah cantik eyang putri yang tersenyum sebelum ia pergi. Aku masih sempat memandikan dan ikut menyolatkannya. Aku masih sempat merapal banyak doa di pusaranya.”

Air mataku menetes lagi. Tak seharusnya aku terus mengeluh. Kalimat Tita kemudian terngiang lagi dalam benakku.

“Apa-apa yang tak abadi memang akan selalu pergi. Doamu lah yang akan tetap sampai, Han. Jangan berhenti berdoa. Allah selalu punya rencana terbaik.”

Aku tersenyum menatap foto terakhirnya yang terpasang rapi dengan pigura di atas meja belajarku. “Hani selalu doakan eyang putri dari sini. Nanti kita kumpul sama-sama lagi di surga ya.” 
Rumah hujan,
April 2017.

Ujian Bernama Keikhlasan


“Ayah kamu benar, Ra. Perkara melepaskan anak perempuan bagi seorang ayah bukan masalah yang kecil. Ayah kamu harus melepaskan ke orang yang bener-bener tepat supaya nantinya bisa tenang setelah tanggung jawabnya dipindahkan.” Deg. Kata-kata Kak Rijal barusan tetiba menjadi angin yang berhasil menerobos ruang-ruang sesak tertutup kabut dalam jantungku.

“Hmm, jadi harus nurut dulu ya?” ucapku pelan dalam sambungan telepon kami pagi itu.

“Iya … sekarang jadi anak perempuan yang nurut dulu. Kalau dinasihati ayah didengerin. Setiap orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Kalau sekarang kamu bisa jadi anak yang baik, insyaallah nanti kamu bisa jadi istri yang baik.”

Air mataku mengalir sesenggukan saat mengingat semua kenangan. Enam bulan lalu, malam-malamku masih terlalu panjang untuk dilewati tanpa tangis. Bahkan sampai saat ini.
“Zahra?” Suara kakak perempuanku memanggil. Jilbab panjang warna pink kesukaannya menyembul dari balik pintu.

Kuhapus air mata yang kuyup sebelum menoleh ke arahnya. “Iya kak?”

Keningnya berkerut melihat mataku yang kini lebih mirip dengan panda bibir merah di kebun binatang. 

“Kamu masih kepikiran dia?” ucapnya lembut sesaat setelah duduk di sampingku.

Aku hanya mengangkat bahu sembari menarik nafas panjang.

“Katanya udah ikhlas?”

“Udah ikhlas kok Kak. Kan wajar kalo sesekali kepikiran, hehehe.” ucapku sambil pura-pura meringis. Sedih yang ingin kusembunyikan tak terlihat dibalik senyum tipis. 

Kak Zepha masih mengernyit. Aku tahu, ia bukan seseorang yang mudah dikelabui dengan senyum.

Sebenarnya, aku pun belum mengerti bagaimana definisi ikhlas untuk diriku sendiri. Kalau ikhlas berarti melepaskan, apakah saat ini aku sudah bisa melepaskan? Sedangkan malam-malamku masih penuh pikiran tentang dia. Kalau ikhlas berarti berhasil move on, apakah saat ini aku sudah bisa move on? Sedangkan beranjak dari zona rindu-rindu ini pun aku belum sanggup. 

Memang, hari-hari kami tak pernah lagi diselingi dengan pesan singkat yang dulu biasa kami kirim satu sama lain. Kalau tidak dia duluan, maka aku yang akan mengirim. Cerita-cerita lucu, pengalaman manis, kata-kata manis. Namun, meskipun semua itu tak ada lagi, semesta kepalaku masih selalu punya ruang untuk menyimpan semua tentangnya.

“Zahra, ujian keikhlasan itu memang tak mudah. Tapi, semua masalah itu tak akan pernah bisa benar-benar diikhlaskan kalau bukan diri kita sendiri yang berusaha. Kalau kamu tak pandai memanajemen perasaan, kata ikhlas yang kamu ucapkan setiap hari itu tak akan benar-benar terwujud sampai kapanpun. Seseorang yang benar-benar ikhlas tak akan mengucapkan bahwa ‘aku ikhlas’ melalui bahasa verbal. Keikhlasan itu akan terlihat dari sikapnya kemudian.”

Aku menunduk sembari melihat semburat jingga yang menyorot ke lantai dari balik jendela kamar. Merenungkan kata-kata Kak Zepha yang selalu bisa jadi paling dewasa saat menyikapi suatu masalah.

“Aku nggak tau gimana caranya supaya semua tentangnya bisa benar- benar hilang, Kak.”

“Keikhlasan terwujud saat kamu benar-benar tak terpikir lagi semua tentang dia. Saat rindu-rindu yang sering mengganggu itu sudah bisa kamu atasi tanpa menangis. Saat kamu bahkan sudah lupa bagaimana rasa yang kamu punya untuknya kemarin.” ucapnya dengan tenang.

“Rasanya, hatiku masih terlalu punya banyak ruang untuknya Kak. Meskipun beberapa sekat sudah tertutup, rindu-rindu itu masih selalu punya tempat. Tak tergantikan.”

Kak Zepha lalu tersenyum. Mungkin ia mengerti adiknya ini masih begitu labil.

“Ikhlas itu sama dengan melepaskan, Dek. Kalau kita melepasnya setengah-setengah, hasilnya pun akan hanya setengah. Tapi kalau kita melepasnya utuh, insyaallah nanti kebahagiaan baru yang datang menggantikan juga akan utuh.”

Aku takjub. “Kakak, belajar dari mana sih ilmu kaya gitu?” ucapku dengan tatapan penuh binar. Ia hanya tersenyum sembari mengelus lembut pundakku.

“Hehe. Dari mana aja kita bisa belajar. Manusia diberi akal agar kita bisa peka mengambil makna dari kehidupan ini. Makanya, kamu tuh jangan kebanyakan nonton sinetron aja. Huuu.”

“Hehehe, iya. Nanti Zahra mau banyak curhat deh sama kakak. Makasih ya Kak.” Aku menghambur ke pelukan Kak Zepha. Ia mengelus punggunggku lagi.

“Yaudah yuk Makan. Kakak masak spesial loh hari ini.”

Kemudian kulangkahkan kaki keluar dengan perasaan lega. Aku sudah mengerti sekarang. Lepaslah seutuhnya, ikhlaslah sepenuhnya, agar kelak sesuatu yang akan menggantikan pun bisa memberikan bahagia yang utuh untuk kita.
Bulan hujan

4 April 2017

Tanda-Tanda Jodoh

Kertas-kertas di pangkuanku masih bersih tanpa satu pun coretan tinta. Aku berencana mengerjakan soal kuis uji kolmogorov-smirnov yang tadi belum jadi dikumpul karena Bu Hellen ada rapat mendadak di prodi. Tapi sampai menit ke sekian, pena dalam genggamanku belum juga bergerak. Potongan-potongan kisahku dengannya terus berputar dalam pikiran seperti film dokumenter.

“Kamu masih kepikiran dia, Ra?” Syifa datang tiba-tiba dan langsung mencomot satu buah pisang goreng coklat yang belum kubuka dari bungkus mikanya sejak lima belas menit lalu.

Aku masih terdiam. Syifa menggeser tas ransel di bangku sebelah kananku lalu ikut duduk.

“Sebenarnya, yang masih kamu risaukan bagian mananya sih Ra?” Syifa menatapku lekat. Mulutnya masih penuh pisang goreng yang baru kubeli di dekat taman kampus.

“Aku takut, Fa. Kalau nanti nggak berjodoh sementara kami sudah berusaha menunggu lama, gimana? Aku nggak mau sakit-sakit.”

“Memangnya kalian buat perjanjian untuk saling menunggu?” Tangannya berhenti mencomot pisang. Tatapan itu kemudian jadi lebih serius ke arahku.

“Nggak, sih. Tapi bagaimana lah ya Fa. Aku takut keputusan untuk menjauh ini salah. Kalau setelah dia penuhin semuanya nanti terus kami tetap nggak bisa bersama, gimana?”

Syifa memutar bola matanya sebentar.

“Kalau nanti tetap nggak bisa bersama, Berarti … tandanya kalian nggak berjodoh Ra. berarti Allah sudah balikkan hatimu darinya, atau Allah balikkan hatinya dari kamu. Ya begitulah.”

“Emang jodoh ada tanda-tandanya?”

“Ada lah. Gini lho, Zahra sayang. Tanda-tanda kita berjodoh dengan seseorang itu adalah lancarnya semua proses menuju ikrar di hari pernikahan. Kalau ada hal-hal yang sulit, maka akan dimudahkan. Kalau ada hal yang kurang, maka akan dicukupkan. Kalau ada hal yang masih membuat ragu, maka akan diyakinkan. Proses yang meskipun sederhana, namun akan tetap membahagiakan. Kalau yang terjadi adalah kebalikannya, mungkin itu tandanya kalian belum berjodoh.”

“Kalau misalnya nanti salah satu dari kami tidak konsisten untuk menunggu dan lebih memilih seorang lain yang baru datang, gimana?” tanyaku lagi.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Ra. Allah selalu punya rencana terbaik untuk hidup ini. Gini, gini, kalau kamu naik pesawat kelas bisnis dengan pilot terbaik, kamu pasti bakal tenang dan nggak khawatir bakal jatuh kan? Begitupun juga kita, kalau dunia ini dianalogikan sebagai pesawat, Allah adalah pilot terbaik dan terprofesional yang akan membawa kita dengan selamat sampai tujuan tanpa harus khawatir ada kesulitan atau ada sesuatu yang tak bisa kita lewati.”

“Jadi, selama ada Allah, harusnya aku nggak perlu khawatir apa yang akan terjadi ya Fa? Ah, Syifa. Aku nggak nyangka temen main lompat tali ku dulu sekarang udah bisa kasih nasihat sebaik ini.” ucapku dengan mata berkaca-kaca.
Syifa mencubit lengan kananku sampai aku meringis kesakitan. “Yup. jangan khawatir dengan apa-apa yang akan dan sudah ditakdirkan Allah. Yakinlah kalau itu pasti rencana terbaik dari-Nya untuk hidup kita.

Percayalah sama aku Ra, kalau suatu hari nanti kamu ditunjukkan jalan yang sama dengan Kak Rijal, maka bersyukurlah mimpi-mimpi kalian akan terwujud. Tapi, kalau nanti kamu ditunjukkan jalan lain yang tak searah dengannya, maka Allah pasti akan arahkan dia juga ke jalan lain yang lebih baik. Jadi jangan takut ada rasa saling menyakiti. Kan niat awal kalian memang cinta karena Allah. Kalau kamu bisa benar-benar ikhlas Ra, mungkin suatu hari nanti kamu akan menyesal hari ini pernah menginginkan seseorang dengan rindu yang terlalu hebat. Sampai semesta kepalamu penuh dengan namanya, sampai kami diabaikan, sampai sholatmu pun tak tenang. Padahal rencana Allah selalu baik.

Aku terdiam sejenak. Benar. seharusnya aku tak perlu merindukannya sedemikian dalam seperti saat ini. Toh kalaupun nanti namaku dan namanya tertulis di lembar yang sama dalam lauh mahfudz, pertautan dua hati itu tak mungkin tertukar. Allah selalu punya cara maha hebat kan untuk menyatukan dua hati yang saling menjaga? Aih, kemana pikiranku selama ini? Terlalu sibukkah hati dan akalku hingga malam-malam larut pun masih kugunakan untuk memikirkan sosoknya? 

“Jangan takut lagi, Ra. Kalau dia jodohmu, Allah akan mempermudah semua jalannya. Tapi kalau ternyata dia bukan jodohmu, anggaplah pertemuan kemarin sebagai bahan pembelajaran untuk kembali menata hati. Kadang-kadang, Allah menyuruh kita belajar melalui pertemuan-pertemuan singkat. Ngerti kan maksudku?”

Aku mengangguk mantap. Lalu memeluknya erat. Allah baik sekali telah mengirimkan sahabat sekaligus malaikat paling mengerti sepertinya. Syifa selalu punya solusi yang bijak untuk dipertimbangkan. Kalau nanti aku dan Kak Rijal diarahkan ke jalan yang lain dan tak searah, maka ia pun juga pasti akan diarahkan ke jalan lain yang lebih baik. Ihwal jodoh memang tak pernah bisa ditebak, namun kita bisa melihat tanda-tandanya, kan?
Rumah rindu, April 2017.

Teka-Teki Ujung Hujan


Februari 2018

“Keyla! Jangan cepet-cepet dong. Aku capek nih.” 
Gadis kecil berambut panjang sebahu yang dipanggil menoleh sebentar. “Ah kamu mah, masa segitu aja udah capek. Kata mama, cowok nggak boleh cengeng. Huuu.”  

Ia lalu kembali melanjutkan langkah dengan menengadah. Tangan mungilnya menampung rintik hujan yang turun. Sesekali ia melompat-lompat sambil tertawa riang. Gigi-gigi kecilnya berbaris rapi seperti mentimun ranum, putih bersih. Gadis kecil ini selalu suka saat hujan datang. Syal hijau kesukaannya sampai pudar karena selalu dibiarkan kuyup.

“Sebenernya kita mau kemana sih, Key?” Akhirnya Kevin berhasil mengejar. Nafasnya terengah-engah meskipun bajunya kuyup oleh hujan. Mereka sudah berjalan sepanjang kebun teh. Tapi belum menemukan apa yang dicari. 
“Cari ujung hujan.” Keyla berkata sambil meringis. Kevin hanya melongo keheranan.
“Ujung hujan? Ngapain dicari?”
“Penasaran, hehehe. Aku pengen berdiri di tengah-tengah perbatasan hujan sama reda. Gimana ya rasanya?” Mata beningnya menerawang jauh ke langit.
“Rasanya hujan ya basah Key. Rasanya reda pasti kering.”
“Ah kamu mah nggak ngerti. Teka-teki ujung hujan itu kan ada artinya.”
“Emang artinya apa?”
“Kata kak Fira, kalau mau dapat awal yang baik, maka lepaslah dengan baik. Melepas untuk kembali. Ya gitu deh. Aku juga nggak terlalu ngerti. Tapi seneng aja denger kata-katanya, hehehe.”
“Iya deh terserah kamu aja. Aku nggak penasaran week.”
Keyla masih menatap gerimis yang tumpah dari langit. Sejenak kemudian mata bulatnya menoleh ke arah anak laki-laki yang sejak tadi menemani sambil bersungut. “Vin, kalau nanti kamu udah dapat banyak teman baru di Amerika, jangan lupa sama aku ya. Cari aja aku di ujung hujan. Hehe.” Ia meringis lagi. Rambut ekor kudanya basah bergoyang-goyang ditiup angin.
Kevin tertawa. “Key, nanti aku mau nikah sama kamu aja. Biar bisa kayak Kak Fira dan Kak Fauzan.”
“Emang anak kecil udah boleh nikah?” tanyanya polos. Namun kali ini matanya membelalak cepat.
“Ya kan nanti kalau kita udah besar.”
Keyla diam sejenak.
“Kalau gitu … aku mau nikahnya di ujung hujan aja. Hehehe.” Tangannya menengadah ke langit lagi. Tetes-tetes air masih turun.
Kevin melengos ke arah lain. “Kamu aneh banget sih, Key.” 
                           •••

Februari 2026.

Awal-awal tahun ini dibuka dengan sederetan tugas kuliah yang cukup membuat banyak mahasiswa tepar. Masa tugas Papa Kevin di Amerika sudah berakhir satu tahun lalu. Belum lama ini mereka memutuskan untuk kembali menetap di Indonesia. Rumah pertama yang dituju remaja lelaki yang beranjak dewasa itu tentu saja rumah Keyla. Namun ia tak mendapati apa-apa. Kata tetangga di sebelah rumah, Keyla sudah pindah tiga tahun lalu. Tak terdengar lagi kabarnya.

Kevin belum menyerah. Setiap ada waktu senggang di sela-sela bimbingan skripsi ia masih mencari tahu dimana keyla. Berpuluh-puluh ujung hujan dicarinya untuk menemukan gadis itu. Namun sampai detik ini tak seorang pun yang tahu dimana keyla dan keluarganya. 

“Kevin! Istirahat dulu kali. Ngga tepar lo jalan mulu daritadi?”
“Lagian lo lagi nyari apa sih sebenernya? Pucuk daun teh terbaik?” ucap lelaki berkaus biru tak jauh di belakangnya.
Kevin tertawa. Potongan Rambut cepaknya basah. Tetes-tetes hujan mengalir dari ujung-ujungnya.
“Nyari ujung hujan. Gue masih penasaran, sepuluh tahun nyari ga ketemu juga.” Lelaki itu akhirnya emmutuskan duduk saat melihat batu besar di hadapannya. Kepalanya masih sakit juga berjam-jam berjalan meskipun beberapa tahun terakhir sering hujan-hujanan. Pertanyaannya masih sama. “Dimana ujung hujan? Dan … Dimana, Keyla?”
“Jadi, selama ini lo suka hujan-hujanan gara-gara mau nyari ujungnya doang?”
“Iya.”

Kedua temannya menepuk kening masing-masing.
“Gue pulang Bro. Ada janji lain. Tungguin aja nih temen lo yang masih aneh. Ngapain juga kali nyari ujung hujan.”

                           •••
“Dek, kakak mau tanya dong.”
“Tanya apa?”
“Di mana ya bisa ketemu ujung hujan?”
Kening adiknya mengerut. “Buat apa emang? Bahan penelitian kakak berhubungan sama ujung hujan?”
“Nggak lah dek.” Ia menepuk pundak adiknya agak keras. Adiknya meringis kesakitan. 
“Kamu masih inget Kak Keyla? Kakak cari dia dua tahun ini. Tapi ga pernah ketemu. Dulu, dia pernah bilang kalau mau ketemu harus cari ujung hujan.”
Haura memutar bola matanya ke kiri sejenak. 
“Lihat aja dari pesawat Kak, kan ntar ketemu ujung awan yang mendung sama yang cerahnya.” jawab haura sekenanya. Kakaknya akhir-akhir ini memang agak aneh.
“Serius dek!” Matanya melotot.
“Ih ya mana ada Kak? Dimana kali cari ujung hujan. Mungkin ada filosofi yang disimpan dibalik itu.”
“Menurut kamu, kira-kira artinya apa?”

“ada beberapa pertanyaan yang hanya bisa dijawab semesta. Misalnya, mengapa air hujan bisa turun bening, padahal dia berasal dari awan yang mendung. Begitupun pertanyaan kakak tadi. Kalau menurut haura nih, ya. Ujung hujan berarti sebuah akhir yang harus dimulai kembali dengan cerah. Seperti Hati kita yang sangat luas akan selalu punya masa akhir. Setelah melepas bagian akhir itu, kita akan memulai masa baru yang lebih baik. Mungkin, ada akhir yang belum berhasil kakak lepas. Jadi sampai sekarang Allah belum mau pertemukan kak kevin sama kak keyla.”
“Apa ya, Dek?”
“Kalau ingin memulai awal yang baik, akhirilah apa yang belum selesai dengan baik juga Kak.”
Ia tetiba teringat Nayla, temannya saat di sekolah Internasional dua tahun lalu. Gadis itu pernah dibuatnya menangis seharian di hari saat kevin pergi tanpa kabar. Mungkin ia juga yang salah. Nayla gadis yang baik dan tulus. Tak seharusnya ia menanam harapan begitu dalam di hati gadis itu, sedangkan ikrar sucinya ditujukan hanya pada Keyla, sahabat kecilnya.
Ia cepat mengambil ponsel. Tangannya gemetar saat menekan opsi ‘panggil’ pada kontak bernama Nayla. Sudah lama sekali. Ia bahkan hampir sudah lupa. Matanya berbinar saat sambungan telepon diterima dari sana. Adiknya berbisik. “Lepaslah apa yang seharusnya dilepas, Kak. Pilih hitam atau putih. Agar hidupmu pun tak jadi abu-abu.”
Nayla akhirnya mengerti.
•••

Hujan turun lagi pagi ini. Sudah dua tahun sejak percakapan serius mengenai hujan dengan haura. Maret masih menjadi bulan yang dingin karena hujan turun hampir setiap pagi. Mungkin cuaca sedang asyik bermain-main dengan semesta.
 Kevin melirik arloji coklat yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih terlalu pagi, pukul 06.30. Semalam ia tidur terlalu cepat. Satu jam sebelum subuh matanya tak mau menutup lagi. Akhirnya ia memutuskan mandi lebih awal dan hendak pergi pagi-pagi.
 Perasaan lega telah menyelimuti hatinya. Ia berhasil melepas nayla dengan baik. Terlepas apakah nantinya masih bisa bertemu keyla atau tidak, setidaknya ia telah menutup ujung hujan terakhir, dan kini berencana mencari reda yang baru. Bukankah di setiap akhir yang berhasil dilepas manis akan selalu ada awal yang lebih manis kan?
Dan benar saja. 

Pagi ini, adiknya sudah ribut-ribut memanggil namanya dari depan pintu kamar. Ia melangkah lalu menarik handelnya. Adiknya tertegun sejenak.
“Sejak kapan kak kevin rajin?”
Kakaknya tertawa. “Sejak barusan dek, ada apa emang?.”
Adiknya melengos. sepersekian detik kemudian matanya berbinar cepat.
“Ada surat dari seseorang yang kakak tunggu. Ciyee akhirnyaa.”
Kevin cepat merebut amplop di tangan haura. Hatinya seperti sedang konser. Meriah sekali.
“Vin, kalau tawaran di kebun teh sepuluh tahun lalu masih berlaku. Aku ada di tempat itu. Menunggumu. Semoga kita bisa mencari reda yang baru bersama.”

-Keyla

Kevin tersenyum. Akhirnya, teori melepas untuk mendapat kembali itu terbukti. 

Rumah rindu

April 2017

Cerita Anter Manten dan Impian Seorang Gadis


Barakallahu laka alaikuma wabaraka alaika wa jamaa bainakuma fi khair Om Riko dan Tante Mia💙

Hari ini adalah hari yang sakral bagi keduanya. Tante Mia terlihat cantik sekali. Ia meneteskan bulir-bulir bening, namun senyumnya merekah, lebih indah dari edelweis yang sedang mekar. Pancaran dan binar matanya melengkapi. Mungkin rasa Hatinya sedang mengungkapkan bahagia yang meletup-letup. Pengantin laki-lakinya juga tampan. Ia terlihat gagah mengenakan pakaian adat Sumatera Selatan. Senyum penuh getar terlukis di wajahnya. Mulutnya sibuk merapal sesuatu. Mungkin ia ingin ‘pembuktiannya’ terasa utuh jika nanti tak gugup saat melafalkannya. Lebih dari itu, bahagianya tentu terlukis sempurna sebab akhirnya bisa mengungkap keberanian untuk menikahi gadisnya. Membuktikan kata cinta yang selama ini tersimpan. Ia pun pasti sedang meledak-ledak hatinya. Aku tersenyum.

Barangkali, setiap gadis pernah memimpikan paling tidak satu kali dalam hidupnya bahwa hari ini akan terjadi. Hari yang telah lama dinanti-nantikan. Hari dimana ikrar suci jadi kalimat terindah yang akan terdengar. Hari dimana ada seorang lelaki asing yang penuh keberanian datang meminta tanggung jawab atas seorang gadis dipindahkan dari ayah pada dirinya.

Hmm. Apa yang tersadari selama ini, Ternyata cinta tak sesederhana yang dikatakan orang kebanyakan. Tak semudah pengucapan aku cinta kamu dan aku sayang kamu. Tak selucu nonton warkop DKI bersandingan lalu tertawa berdua. Tak semanis menikmati eskrim coklat di bangku taman lalu bercanda berdua. Tak senyaman ungkapan perhatian dan rindu yang diungkap tiap-tiap malam. Ternyata cinta tak sesederhana itu.

Aku pernah berpikir panjang. Bagaimana cinta yang sebenar-benarnya cinta seharusnya didefinisikan? Teman-temanku bilang, cinta yang sebener-benarnya ialah cinta sejati; ialah cinta sukarela antara orang-orang yang menyimpan kasih. 

Jika cinta sejati adalah perihal rindu yang tak pernah habis , maka apakah rinduku tiap-tiap malam padamu sudah bisa disebut cinta? Jika cinta ialah perihal rasa takut jauh dan takut kehilangan, maka apakah keputusanku untuk melepas agar dapat lebih dekat ini tak bisa disebut cinta? Jika cinta adalah perihal kesederhanaan rasa, maka apakah rasaku yang tak pernah sederhana padamu ini tak bisa disebut cinta?

Ah, aku pun masih sering bingung.

Mungkin kali ini aku harus mengakui. Ternyata perkara mencintai adalah sebuah kata kerja yang memiliki tanggung jawab besar. Mencintai ialah perihal memilih seorang yang akan menyempurnakan separuh agama. Mencintai ialah perihal memilih teman berbagi suka dan duka seumur hidup. Teman berbincang, menangis, dan tertawa sepanjang masa. Mencintai membutuhkan keberanian, membutuhkan keseriusan, dan membutuhkan pengorbanan. Bagaimana bisa dua orang yang berkata saling mencintai bisa berkasih-kasih janji setia tanpa pengorbanan dan pertanggungjawaban untuk menikahi?

Dari hari ini kemudian aku belajar. Ternyata masih terlalu banyak hal yang perlu dipelajari untuk berani mencintai. Untuk berani mengungkapkan cinta. Untuk memaknai arti cinta itu sendiri. Maka jika keberanian itu belum muncul dari hati, mungkin jalan sebaik-baiknya ialah berdoa. Berdoa agar Ia kelak dapat menemukanku dalam kondisi yang baik, dalam penantian penuh harap-harap baik, dan dalam cinta yang penuh makna.

Rumah rindu,

 April 2017.